Asa Nasionalisme Seniman Kota Blitar Pemahat Patung Bung Karno
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
Heryanto
19 - Feb - 2019, 12:15
Semangat sejumlah seniman di Kota Blitar tetap menggelora di tengah keterbatasan alat dan biaya untuk merampungkan pembuatan patung Bung Karno di Istana Gebang.
Patung Bung Karno yang dibuat dari pohon Gada di Istana Gebang yang tumbang tahun 2018 lalu itu, saat ini memang belum selesai dikerjakan seratus persen.
Sekarang, masih mengerjakan ornamen tubuh patung. Itu pun, juga belum semua digarap, sebab terbatasnya alat dan pemahat.
"Alhamdulillah saya juga didukung seniman senior-senior. Dibantu juga dengan rekan-rekan ada mas Amang, mas Antok, mas Supian dan masih banyak yang lain. Niatan kami tulus, untuk mempersembahkan karya ini kepada bangsa," ujar salah seorang seniman pembuat patung, Bondan, kepada BLITARTIMES, Senin (18/02/2019).
Bondan mengaku, berangkat dari niat yang tulus untuk mendedikasikan potensi apresiasi seni kriya dengan membuat patung Bung Karno itu, dia hanya merasa hal tersebut adalah panggilan seorang seniman dan juga seorang Nasionalis apa yang bisa dipersembahkan kepada masyarakat luas.
Dia juga tidak terlalu memikirkan keterbatasannya bersama rekan seniman lain soal proses pemahatan bongkahan kayu pohon Gada itu.
"Karena pekerjaan ini juga tidak terikat dengan apapun, apalagi sampai memberatkan APBD sama sekali tidak. Ini murni bentuk dedikasi kami," aku Bondan.
Keterbatasan proses pemahatan, lanjut Bondan, seperti alat, tenaga pemahat hingga dukungan anggaran yang cukup untuk kelancaran proses pembuatan patung.
Selama ini, kata dia, sumber keuangan yang diperlukan untuk itu berasal dari swadaya keuangan segenap pemahat patung.
"Semuanya kami sendiri. Dikerjakan sendiri, ya sama kita-kita ini," ulasnya.
Kendati dibatasi persoalan tersebut, dia tetap memastikan semangat, fokus, kesabaran dan ketelatenan para seniman tetap akan terjaga.
Bahkan, melihat potensi sekadarnya itu, menjadi lecutan untuk terus berproses merampungkan maha karya seniman Kota Blitar ini.
"Inisiatif kami sangat besar. Artinya kalau lebih tepat, ini adalah kerja gotong royong untuk negeri," tukasnya.
Oleh karena itu, dia juga menandaskan semua dari kegiatan itu dikerjakan secara mandiri.
Pihaknya tidak ingin merengek-rengek mencari bantuan anggaran bahkan kucuran dari APBD.
"Kami hanya menerima dedikasi dan kesungguhan yang hakiki dan tulus dari masyarakat untuk membantu penyelesaian karya untuk negeri ini. Jadi bukan embel-embel apapun, tapi lebih ke person nya untuk bersama-sama kami menyelsaikan karya bagimu negeri dengan bergotong royong," kata dia.(*)
