Ponpes Roudlotus Shalikin Cabean, Pesantren Salaf di Tengah Kota Blitar
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
A Yahya
26 - Feb - 2019, 04:02
Seperti kita ketahui bersama, eksistensi pondok pesantren telah ada sejak ratusan tahun lalu. Bahkan sejarah mencatat, keberadaan pondok pesantren telah terbukti berhasil membentuk pribadi-pribadi manusia yang mandiri, berahlakul karimah, baik, bermanfaat bagi masyarakat di sekelilingnya serta tidak mudah goyah dalam mengarungi kehidupan.
Seiring dengan berkembangnya zaman, lembaga pendidikan asli Nusantara ini masih terus eksis dan bisa beradaptasi dengan besarnya pengaruh modernisme.
Di Blitar salah satunya adalah Pondok Pesantren Roudlotus Shalikin. Pondok yang berlokasi di Jl. Kenari No. 3, Dusun Cabean, Kelurahan Plosokerep, Sanan Wetan, Kota Blitar ini memiliki keunikan tersendiri. Berdiri di tengah pesatnya perkembangan modernitas daerah perkotaan, ponpes yang terkenal dengan sebutan Pondok Cabean ini masih tetap eksis menjaga nilai-nilai salafiyah yang sudah diterapkan sejak pertama didirikan.
Ponpes Roudlotus Shalikin berdiri sekitar tahun 1978-an, didirikan oleh KH. Abdul Hamid atau banyak dikenal di kalangan masyarakat dengan panggilan Kiai Zuhud. Menurut silsilah, beliau masih keturunan dari KHR. Abdul Fattah Mangunsari, Tulungagung. Beliau adalah seorang yang sangat alim dan menguasai banyak bidang keilmuan. Masa mudanya banyak dihabiskan untuk menuntut ilmu dan mengabdi di pesantren Mojosari, Nganjuk.
“Menurut cerita, abah dulu mondok di Mojosari lama sekali, sekitar 25 tahun. Bahkan sama mbah suruh pulang gak mau, sampek disana dibelikan sawah di sana sama mbah. Mau pulang itu setelah dinikahkan sama kerabatnya Mbah Kiai Zainudin Mojosari,” ungkap Gus Latif pengasuh Ponpes Roudlotus Shalikin saat ini, Senin (25/2/2019).
Berbekal dengan ilmu yang telah dipelajari bertahun-tahun di pesantren, KH. Abdul Khamid mengamalkan ilmu yang dipelajarinya dengan mengajar ngaji masyarakat sekitar. Dengan memanfaatkan musholla kecil sebagai sarana beribadah dan menuntut ilmu, kian hari semakin banyak santri yang ingin belajar kepada beliau. Pesatnya kegiatan belajar mengajar di musholla tersebut membuat masyarakat sekitar turut terpanggil dan mengajak KH. Abdul Khamid untuk membuat pondokan kecil untuk menampung para santrinya yang semakin bertambah.
“Pertamanya dulu belum ada kamar pondokan, dulu masih musholla aja dan utaranya itu dua ruangan kecil. Akhirnya sama tetangga sekitar itu diinisiatif untuk membangun pondok, dulu awalnya masih ada 7 kamar aja udah banyak sekali yang mondok,” tuturnya.
Upaya dakwah KH. Abdul Khamid lambat laun semakin nyata hasilnya, pengajian yang beliau rintis tidak hanya diikuti oleh anak-anak dan warga sekitar, namun juga banyak santri dari luar kota yang ingin belajar ngaji kepada beliau. Dengan latar belakang kiblat keilmuan yang diperoleh dari pesantren Mojosari, Pondok Cabean ini terkenal dengan pendidikan ilmu nahwu shorof yang mumpuni.
Selain itu, Gus Latif meceritakan masa-masa perjuangan KH. Abdul Khamid dalam menyampaikan syiar agama pada masyarakat, Pondok Cabean punya keunikan tersendiri. Semasa hidupnya beliau merupakan orang yang zuhud dan penuh dengan kesederhanaan. Termasuk dalam mengemas dakwahnya pun beliau menggunakan metode yang sederhana.
“Selain terkenal dengan ilmu nahwu dan ilmu shorofnya, pondok sini itu terkenal dengan manaqibnya. Walaupun umumnya pondok pesantren salaf itu banyak mempelajari ilmu-ilmu agama dan kitab kuning, kalau disini ya karena tempatnya saja di kota ya harus bisa menyesuaikan, umumnya para santri kan banyak masih sekolah juga,” jelasnya.
Pada masa-masa kejayaannya, pondok cabean banyak dikenal dengan pengajian manaqib dan juga sholawatan. Hingga pada tahun 1980-an dimulai pembangunan kamar pondok sebelah timur untuk menampung santrinya yang semakin bertambah.
KH. Abdul Khamid berpulang ke Rahmatullah pada tahun 2016 lalu, dan selanjutnya kepengurusan Pondok Salaf Cabean dilanjutkan oleh puteranya yang juga tak kalah alim serta piawai dalam berdakwah. Saat ini di tangan Gus Latif, Pondok Cabean masih terus eksis sebagai lembaga pendidikan salaf yang mengajarkan nilai-nilai luhur di tengah kencangnya arus modernitas perkotaan.
Di tengah tuntutan zaman yang serba materi dan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, pesantren ini telah memberikan pelajaran yang nyata. Dengan menerapkan metode asrama pelajar, Pondok Pesantren Salaf Roudlotus Shalikin tetap bangga dan istiqamah dengan tradisi Salafiyahnya.(*)
