Dosen Ini Temukan Gen Ayam Kampung Petelur Baru, Produktivitas Telurnya Lebih Tinggi 

22 - May - 2024, 02:59

Ir Suyatno MSi dan temuan strain baru final stock ayam kampung petelur super (Anggara Sudiongko/MalangTimes)

JATIMTIMES - Ir Suyatno MSi, dosen peternakan dari salah satu kampus swasta di Malang, menemukan inovasi cemerlang dalam hal produksi telur. Dari hasil risetnya, ia menemukan bibit ayam kampung petelur jenis baru dengan daya produksi telur tinggi. Ayam petelur itu bernama Ummchick.

Dijelaskan Suyatno, bahwa ayam ini merupakan hasil dari perkawinan saling silang dari ayam jenis Ayam Kampung putih, Ayam Lurik Merah, Ayam Wareng dan Ayam Kampung Ranupane.

Baca Juga : Jelang Waisak, Sejumlah Harga Bahan Pokok di Kota Malang Bergejolak

Ayam-ayam ini diatur jalur perkawinannya. Prosesnya dilakukan dengan cross breeding, reciprocal cross, dan outbreeding. Begitu juga dengan program seleksi yang tepat, seperti seleksi berat badan umur tiga bulan. 

"Jadi ayam-ayam ini kita silang-silangkan dengan banyak silangan, hingga akhirnya kami temukan dua ayam yang berkualitas ini untuk final stock ayam kampung petelur," katanya, Selasa (21/5/2024).

Dalam menjalankan program breeding ini, Suyatno berfokus pada produksi telur yang dihasilkan. Dan hasil riset ini telah berhasil untuk menciptakan strain baru final stock ayam kampung petelur super dengan produktivitas telur yang tinggi tanpa pejantan.

"Tahapan saat ini memang fokus pada produksi telur dulu, baru nanti setelah selesai kita seleksi lagi, misalnya untuk meningkatkan berat telur atau hal lainnya," paparnya.

Lebih lanjut dijelaskan, bahwa strain baru final stock ayam kampung petelur super ini, mampu menghasilkan telur lebih dari 60 persen. Hal ini tentunya jauh berbeda dibandingkan dengan jenis ayam biasa.

"Hen Day Production (HDP), jadi kalau ada ayam 100 yang bertelur 80 jadi 80 persen, nah ini mampu lebih dari 60 persen. Ayam kampung biasa 40 persen ini lah yang masih kurang," jelasnya.

Kelebihan lain ayam ini, tidak ada yang istimewa dalam pemberian pakan, seperti halnya ayam ras petelur. Sehingga, pakan yang diberikan memang alakadarnya seperti kebiasaan ayam kampung kebanyakan.

"Memang ayam ini juga dibiasakan dengan pakan yang biasa, tidak seperti ayam yang komersial nanti justru malah rugi," ungkapnya.

Baca Juga : Selaras dengan Akselerasi, Harkitnas Jadi Moment UMAHA Tampilkan Karya Civitas

Ayam jenis ini akan terus berproduksi setiap hari. Artinya selama 24 jam akan menghasilkan satu telur. Bahkan produktivitas ayam ini sampai umur dua tahun masih terus bisa produktif. Dalam produksi sendiri kebiasaan ayam ini sama dengan ayam pada ayam petelur umumnya. 

"Sekarang bertelur, 24 jam keluar lagi telur dan begitu seterusnya. Tapi telurnya ini tidak bisa ditetaskan," ujarnya.

Penelitian ini sendiri telah dimulai sejak 2019. Tentunya dalam proses penelitian banyak kesulitan yang dialami. Namun, berkat konsistensi, kegiatan riset dapat berjalan dengan lancar.

Telur yang dihasilkan, dijelaskan Suyatno tidak terdapat perbedaan dengan telur ayam kampung. Artinya, dari segi warna, kandungan dalam telur masih khas seperti telur ayam kampung pada umumnya. Namun, terkait hal ini tentunya akan lebih lanjut dalam riset dan pengembangan.