RS Medistra Minta Maaf soal Larangan Hijab Calon Pegawai, MUI Sarankan Hal ini
Reporter
Mutmainah J
Editor
Dede Nana
02 - Sep - 2024, 04:16
JATIMTIMES - Manajemen Rumah Sakit (RS) Medistra Jakarta Selatan akhirnya meminta maaf terkait isu diskriminasi yang dialami salah seorang kandidat tenaga kesehatan dalam proses rekrutmen.
Direktur RS Medistra Agung Budisatria tidak secara gamblang membenarkan atau membantah soal isu larangan hijab tersebut. Ia hanya menyebut temuan tersebut kini tengah dalam penanganan manajemen.
Baca Juga : Aktivis Mualaf Dondy Tan Ungkap STT Malang Pelajari Islamologi
"Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat isu diskriminasi yang dialami oleh salah seorang kandidat tenaga kesehatan dalam proses rekrutmen," kata Agung dalam keterangan resmi, Senin (2/9/2024).
Agung mengatakan jika RS Medistra inklusif dan terbuka bagi siapa saja yang mau bekerja sama untuk menghadirkan layanan kesehatan terbaik bagi masyarakat. Ia juga memastikan RS Medistra akan terus melakukan proses kontrol ketat terhadap proses rekrutmen ataupun komunikasi, sehingga pesan yang mereka sampaikan dapat dipahami dengan baik oleh semua pihak.
"Sehingga pesan yang kami sampaikan dapat dipahami dengan baik oleh semua pihak," katanya.
Menanggapi permohonan maaf RS Medistra itu, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang Ukhuwah dan Dakwah, Muhammad Cholil Nafis mengapresiasi permohonan maaf dari RS Medistra itu. Akan tetapi menurut Cholil Nafis, ada yang lebih penting dari minta maaf.
“Minta maaf itu penting tapi lebih penting lagi adalah memastikan siapa yang wawancara itu yang melakukan diskriminasi,” ujarnya.
Hal ini menurut Cholil Nafis sangat penting sebagai wujud komitmen RS Medistra. “Kalau memang benar-benar berkomitmen, maka pihak yang bersangkutan yang telah melakukan diskriminasi apalagi pada tenaga medis itu harus diberi sanksi,” sarannya.
Baca Juga : Tim Dokter RS Karsa Husada Libatkan BNN untuk Tes Narkoba Bacawali Kota Batu
Selain itu juga perlu dibuktikan apakah ada karyawan RS Medistra yang mengenakan hijab. Jika ternyata tidak ada, artinya mungkin saja selama ini memang ada larangan hijab di RS Medistra.
“Kemudian dipastikan tenaga medis di RS itu ada yang berjilbab sehingga kelihatan inklusifnya,” ujarnya.
“Tapi jika minta maaf di dalam tidak ada karyawan berjilbab artinya memang tidak ada muslimah berjilbab yang jadi tenaga medis di tempat itu,” lanjut Cholil Nafis.
