Mayoritas Lahan Pertanian Kota Malang Ditanami Padi
Reporter
Hendra Saputra
Editor
Yunan Helmy
04 - Nov - 2024, 08:02
JATIMTIMES - Mayoritas lahan pertanian di Kota Malang diisi tanaman padi. Dari 985 hektare lahan pertanian sebagai lumbung pangan, 778 hektare lahan diisi tanaman padi.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang Slamet Husnul Hariyadi membenarkan bahwa lahan pertanian di Kota Malang mencapai 985 hektare. Jumlah itu berdasarkan data Dispangtan Kota Malang.
Baca Juga : Dukung Program Prabowo, Polresta Malang Kota Tanam Bibit Cabai dan Jagung
“Sawah kita (Kota Malang) 985 hektare. Ditanami padi sebanyak 778 hektare. Sisanya ditanami jagung, tebu, sayur-mayur, tomat, cabai, singkong, holtikultura. Campur-campur,” kata Slamet.
Menurur Slamet, Kota Malang saat ini bisa dikatakan sebagai kota yang modern. Kota ini mengandalkan sektor jasa, pendidikan dan pemukiman.
“Kota Malang memang relatif untuk perdagangan, jasa, pemukiman. Terus lahan pertanian memang tidak banyak. Terus definisi perkotaan itu memang lebih kepada jasa, pendidikan, dan pemukiman,” ungkap Slamet.
Sebagai kota yang memiliki luasan lahan pertanian tidak besar, Kota Malang tetap berupaya untuk memanfaatkan lahan persawahan untuk mendukung pangan di wilayah sendiri.
“Kita ada beberapa produksi komoditas seperti gabah atau padi, jagung, ketela pohon, sayur-mayur seperti cabai dan tomat itu kita ada. Cuma ya memang tidak mencukupi untuk kebutuhan Kota Malang,” ujar Slamet.
Sejauh ini, Kota Malang masih bergantung suplai bahan pokok yang masuk ke 26 pasar. Dan menurut Slamet, 26 pasar itu membantu pasokan pangan di Kota Malang.
Baca Juga : Pengusaha Sampaikan PR Soal Pengembangan Komoditas Apel Kota Batu, Begini Kata Firhando Gumelar
“Alhamdulillah pasokan pangan di Kota Malang relatif cukup. Kita didukung oleh 26 pasar sehingga arus ketersediaan pangan itu lumayan besar di Kota Malang. Keberadaan 26 pasar itu memudahkan arus bahan pangan itu masuk dari luar Kota Malang,” beber Slamet.
Saat ini, Slamet mengaku telah menyiapkan urban farming atau pertanian urban. Sekitar 113 kelompok tani urban masuk data Dispangtan Kota Malang.
Dijelaskan Slamet, tani urban itu memang menghasilkan produksi yang tidak besar. Namun dapat mencukupi skala keluarga, kelompok, RT/RW, bahkan ada yang sudah memasok swalayan.
“Urban farming adalah pertanian perkotaan. Skala pekarangan memanfaatkan lahan yang ada di pekarangan, RT dan RW. Urban farming hanya memasok untuk ketahanan pangan tingkat keluarga, RT, RW dan kelompok itu sendiri. Tapi ada beberapa yang sudah support ke warung sayur atau minimarket,” tukas Slamet.
