Jejak Dakwah Syekh Jumadil Kubro: dari Samarkand ke Jantung Majapahit

Reporter

Aunur Rofiq

Editor

Yunan Helmy

27 - Feb - 2025, 09:59

Ilustrasi Syekh Jumadil Kubro berdakwah sambil berdagang di Trowulan, berinteraksi dengan para saudagar dan masyarakat setempat. Pendekatan ini membuka jalan bagi penyebaran Islam di Jawa tanpa paksaan, melainkan melalui keteladanan dan kebijaksanaan. (Foto: Dibuat dengan AI/JatimTIMES)

JATIMTIMES--Di antara sekian banyak tokoh Islam yang berperan dalam proses Islamisasi di Nusantara, nama Syekh Jumadil Kubro selalu muncul sebagai sosok sentral yang meletakkan fondasi dakwah di tanah Jawa. Beliau bukan hanya seorang ulama besar, tetapi juga seorang keturunan Rasulullah SAW yang memiliki karomah luar biasa. 

Lahir di Samarkand pada tahun 1349 M dengan nama asli Husain Jamaluddin Akbar, beliau merupakan keturunan langsung dari garis nasab Imam Husain bin Ali, yang bersambung hingga Rasulullah SAW.

Baca Juga : Bacaan Lengkap saat Ziarah Kubur Menjelang Ramadan

Dakwah Islam di Jawa tidak bisa dilepaskan dari peran besar para ulama yang datang dari berbagai penjuru dunia Islam. Syekh Jumadil Kubro menjadi salah satu pioner dalam menyebarkan Islam sebelum era Wali Songo. Perjalanannya dari Samarkand hingga ke tanah Jawa bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan spiritual yang mengubah wajah peradaban di Nusantara.

Nasab Mulia: Darah Rasulullah dalam Jihad Dakwah

Sebagai keturunan Rasulullah SAW, Syekh Jumadil Kubro memiliki garis nasab yang tersambung langsung hingga ke Nabi Muhammad SAW melalui jalur Sayyidina Husain bin Ali. Nasabnya bermula dari Nabi Muhammad SAW, yang menurunkan Sayyidah Fatimah Az-Zahra melalui pernikahannya dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Dari pasangan ini lahirlah Imam Husain, yang kemudian menurunkan Imam Ali Zainal Abidin. Silsilah ini terus berlanjut kepada Imam Muhammad Al-Baqir, lalu diteruskan oleh Imam Ja’far Shadiq, diikuti oleh Imam Ali Al-Uraidhi, Imam Muhammad An-Naqib, dan Imam Isa Ar-Rumi.

Dari keturunan Imam Isa Ar-Rumi, nasab ini bersambung kepada Imam Ahmad Al-Muhajir, yang kemudian menurunkan Sayyid Ubaidillah. Selanjutnya, keturunan ini diteruskan oleh Sayyid Alwi, Sayyid Muhammad, dan Sayyid Alwi berikutnya. Garis keturunan ini kemudian mencapai Sayyid Ali Khali’ Qasam, yang menurunkan Sayyid Muhammad Shahib Mirbath, lalu Sayyid Alwi Ammil Faqih, dan Sayyid Abdul Malik Azmatkhan. 

Dari Sayyid Abdul Malik Azmatkhan, silsilah ini berlanjut kepada Sayyid Abdullah, kemudian Sayyid Ahmad Jalaluddin, hingga akhirnya sampai pada Sayyid Husain Jamaluddin Akbar, yang lebih dikenal sebagai Syekh Jumadil Kubro.

Sebagai seorang ulama besar dengan garis keturunan yang terhormat, Syekh Jumadil Kubro mewarisi bukan hanya darah para pemimpin Islam, tetapi juga semangat perjuangan mereka dalam menyebarkan agama.

Perjalanannya dari Samarkand hingga ke Nusantara menjadi bagian penting dalam proses Islamisasi di tanah Jawa, menjadikannya salah satu tokoh kunci dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah ini.

Perjalanan Dakwah: Dari Samarkand ke Nusantara

Dakwah Islam di Nusantara tidak terjadi secara instan. Syekh Jumadil Kubro tiba di Jawa pada tahun 1399 M setelah mendapatkan tugas dari Sultan Mahmud I dari Turki Utsmani. Ia datang bersama rombongan ulama besar seperti Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Subakir, Syekh Maulana Maghribi, Syekh Hasanudin, Syekh Ali Akbar, dan Syekh Malik Israil.

Sebelum tiba di Jawa, rombongan ini singgah di Pasai, pusat peradaban Islam pertama di Nusantara. Putra Syekh Jumadil Kubro, Ibrahim Asmoroqondi, memilih untuk menetap dan berdakwah, yang kemudian menjadikannya ayah dari Sunan Ampel, salah satu tokoh Wali Songo.

Setibanya di Jawa, mereka diterima oleh Prabu Wikramawardhana, penguasa Majapahit, meskipun dakwah Islam di lingkungan kerajaan tidak langsung membuahkan hasil. Oleh karena itu, para ulama tersebut memilih untuk menyebarkan Islam secara bertahap di berbagai wilayah Jawa. 

Syekh Jumadil Kubro dan kedua putranya menetap di Trowulan. Syekh Maulana Malik Ibrahim memilih Tandhes. Sedangkan Syekh Maulana Maghribi beserta ulama lainnya menuju Jepara. 

Di Trowulan, Syekh Jumadil Kubro menggunakan pendekatan dagang sebagai sarana dakwahnya. Dengan bergaul bersama para saudagar dan masyarakat setempat, ia secara perlahan memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jawa.

Tantangan Dakwah di Jantung Majapahit

Dakwah Islam di Majapahit bukan tanpa tantangan. Agama Hindu dan Buddha yang telah berakar kuat dalam tradisi masyarakat membuat Islam sulit diterima. Namun, Syekh Jumadil Kubro memahami bahwa perubahan tidak bisa dilakukan secara radikal.

Strategi dakwahnya yang bijak membawanya berkenalan dengan Tumenggung Satim Singomoyo, seorang pejabat kerajaan yang telah memeluk Islam secara diam-diam. Dari sinilah, dakwah Islam mulai merambah ke kalangan prajurit dan pegawai kerajaan.

Baca Juga : 5 Hal yang Akan Terjadi jika Terlalu Lama Tidur

Perlahan tapi pasti, Islam mulai diterima oleh masyarakat kelas bawah, terutama dari kalangan Sudra dan Waisya yang selama ini mendapat perlakuan diskriminatif dalam sistem kasta Hindu. Islam yang mengajarkan kesetaraan menarik hati mereka, dan banyak dari mereka yang mulai memeluk Islam.

Dewi Dwarawati, seorang putri dari Champa yang menjadi permaisuri Prabu Dyah Kertawijaya, memiliki peran penting dalam memperkenalkan Islam di lingkungan kerajaan. Ia sering berdiskusi dengan Syekh Jumadil Kubro, yang akhirnya membuka ruang bagi dakwah Islam di kalangan bangsawan Majapahit.

Dalam situasi yang semakin tegang akibat perang saudara antara Wikramawardhana dan Wirabhumi, Islam justru mendapatkan momentum. Kekacauan politik yang terjadi di Majapahit membuat masyarakat mencari alternatif spiritual yang lebih adil dan egaliter, yang mereka temukan dalam Islam.

Akhir Perjalanan: Syahid di Tanah Jawa

Pada tahun 1465 M, Syekh Jumadil Kubro telah berusia lebih dari 100 tahun. Namun, semangat dakwahnya tak pernah pudar. Saat itu, ketegangan antara Majapahit dan para penguasa Muslim semakin memuncak. Raden Patah, putra Prabu Kertawijaya, telah mendirikan Kesultanan Demak dan dianggap sebagai ancaman oleh para adipati Hindu Majapahit.

Ketika para adipati Majapahit berusaha menyerang Demak, Syekh Jumadil Kubro dan Maulana Maghribi turun tangan untuk menghadapi mereka. Perang besar pun pecah. Dan dalam pertempuran itu, Syekh Jumadil Kubro gugur sebagai syahid. Ia dimakamkan di Troloyo, daerah yang hingga kini masih menjadi saksi bisu perjuangannya dalam menyebarkan Islam di Jawa.

Warisan Keilmuan: Penerus Syekh Jumadil Kubro

Syekh Jumadil Kubro tidak hanya meninggalkan jejak dakwah, tetapi juga keturunan yang menjadi pilar Islam di Nusantara. Putranya, Ibrahim Asmoroqondi, menjadi ayah dari Sunan Ampel, yang kemudian menurunkan para wali lainnya dalam jaringan Wali Songo.

Metode dakwah Syekh Jumadil Kubro yang santun dan penuh hikmah menjadi model bagi para penyebar Islam berikutnya. Ia tidak hanya menggunakan pendekatan teologis, tetapi juga sosial, ekonomi, dan budaya untuk memperkenalkan Islam kepada masyarakat Jawa.

Hari ini, makam Syekh Jumadil Kubro di Troloyo tetap menjadi tempat ziarah bagi umat Islam yang ingin mengenang jasa besar beliau. Dakwahnya telah melahirkan generasi penerus yang akhirnya mengubah wajah Nusantara menjadi wilayah Islam yang kuat.

Dalam sejarah Islam di Nusantara, Syekh Jumadil Kubro adalah mata rantai penting yang menghubungkan peradaban Islam dari Asia Tengah hingga ke tanah Jawa. Tanpa perjuangan dan pengorbanannya, Islam mungkin tidak akan secepat itu berkembang di Nusantara.

Sebagaimana kata-kata bijak, "Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga cerminan bagi masa depan." Perjuangan Syekh Jumadil Kubro adalah pelajaran tentang kesabaran, keteguhan, dan kecerdasan dalam menyebarkan kebenaran.