Roti Terakhir untuk Fakir Miskin, Keteguhan Hati Aisyah di Bulan Puasa
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
22 - Feb - 2026, 10:38
JATIMTIMES - Di saat sebagian orang menghitung cermat bekal berbuka, Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakar justru memperlihatkan cara pandang yang berbeda tentang harta dan puasa. Baginya, menahan lapar bukan sekadar ibadah fisik, tetapi momentum memperluas empati. Bahkan ketika kekayaan berada di tangannya, ia memilih memastikan orang lain lebih dulu merasakan kecukupan.
Suatu hari, Aisyah menerima 100.000 dirham. Nilai yang sangat besar pada masanya. Namun uang itu tidak mengendap lama. Dalam keadaan berpuasa, ia membagikannya kepada mereka yang membutuhkan hingga tak tersisa sedikit pun. Padahal, di rumahnya sendiri hampir tak ada persediaan makanan.
Baca Juga : Jangan Salah Waktu! Ini Penjelasan Ustaz Abdul Somad soal Gosok Gigi saat Puasa Ramadan
Menjelang Magrib, ia meminta pembantunya menyiapkan hidangan berbuka. Yang tersedia hanya roti dan sedikit minyak. Sang pembantu berkata pelan bahwa seandainya satu dirham saja disisakan, tentu bisa dibelikan daging untuk berbuka. Aisyah menjawab, “Seandainya kamu tadi mengingatkanku, tentu aku melakukannya.”
Karakter ini bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dalam didikan ayahnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, yang dikenal sebagai sosok paling dermawan di kalangan sahabat. Kesaksian tentang keluasan hati Aisyah bahkan disampaikan oleh Abdullah bin Zubair.
Ia berkata, “Aku tidak pernah melihat dua wanita yang lebih dermawan melebihi Aisyah dan Asma binti Abu Bakar. Aisyah mengumpulkan sesuatu hingga banyak, lalu membagikannya. Adapun Asma, ia tidak menyimpan sedikit pun untuk esok hari.” Riwayat ini dicatat oleh Imam Bukhari.
Dalam kesempatan lain, seorang fakir datang meminta makanan. Di hadapan Aisyah terdapat anggur. Ia justru meminta agar biji gandum diberikan kepada orang tersebut. Ketika si peminta tampak heran, Aisyah mengingatkan tentang nilai kebaikan sekecil apa pun di sisi Allah. Ia seakan menegaskan firman-Nya:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az Zalzalah: 7).
Riwayat lain menyebutkan, ketika Muawiyah mengirimkan 100.000 dirham kepadanya, Aisyah kembali membagikan semuanya hingga habis. Barirah bertanya mengapa ia tidak membeli daging walau satu dirham saja untuk berbuka. Aisyah menjawab sederhana, “Seandainya aku ingat, tentu aku akan melakukannya.” Jawaban yang terus berulang itu menunjukkan bahwa prioritasnya bukan pada kenikmatan pribadi, melainkan pada kebutuhan orang lain.
Baca Juga : Khidmah di Ponpes Al-Fatah Temboro: Kisah Zidni yang Mengabdi dengan Merawat Unta
Kisah lain yang diriwayatkan oleh Imam Malik dan Al-Baihaqi semakin menegaskan hal tersebut. Saat hanya tersisa sepotong roti di rumahnya dalam keadaan berpuasa, seorang miskin datang meminta. Aisyah berkata kepada pembantunya, “Berikan kepadanya.” Pembantunya mengingatkan bahwa tidak ada makanan lain untuk berbuka. Namun Aisyah tetap bersikukuh.
Menjelang petang, datang hadiah berupa daging kambing lengkap dengan pahanya. Ia pun berkata kepada pembantunya, “Makanlah ini. Ini lebih baik daripada rotimu tadi.”
Tidak hanya dalam urusan makanan, Aisyah juga tidak terikat pada harta benda. Ia pernah menjual rumahnya kepada Muawiyah dengan harga sekitar 180.000 dirham, bahkan ada riwayat yang menyebut 200.000 dirham. Setelah uang itu sampai di tangannya, ia tidak beranjak hingga seluruhnya tersalurkan kepada yang berhak.
