Lebaran 2026 di Tengah Konflik Timur Tengah: Antara Sukacita dan Ketabahan
Reporter
Mutmainah J
Editor
A Yahya
21 - Mar - 2026, 03:33
JATIMTIMES - Perayaan Idulfitri 2026 di berbagai negara menghadirkan gambaran yang kontras. Di satu sisi, umat Islam menyambut hari kemenangan dengan penuh sukacita. Namun di sisi lain, bayang-bayang konflik yang masih berkecamuk di Timur Tengah membuat banyak keluarga merayakan Lebaran dalam suasana yang jauh dari kata normal.
Masjid-masjid tetap dipenuhi jamaah untuk menunaikan salat Idulfitri. Tetapi di wilayah seperti Gaza, Yerusalem Timur, Lebanon, hingga Iran, tak sedikit warga yang harus menjalani hari raya di tengah pengungsian, kerusakan, hingga ketidakpastian akibat perang yang belum mereda.
Baca Juga : THR Anak Cepat Habis? Ini Cara Mengatur Angpau Lebaran Anak Menurut Psikolog dan Perencana Keuangan
Media internasional TRT World melaporkan bahwa Idulfitri tahun ini dirayakan dalam perpaduan antara doa, ketabahan, dan realitas konflik bersenjata yang masih mengguncang kawasan Timur Tengah. Dari masjid megah di Istanbul hingga tenda-tenda darurat di wilayah perang, umat Islam tetap berusaha merayakan hari besar ini meski dalam keterbatasan.
Idulfitri Tetap Dirayakan, Tapi Suasana Berbeda
Di Istanbul, Turki, suasana Lebaran masih terasa khidmat dan meriah. Jamaah memadati masjid-masjid besar untuk melaksanakan salat Idulfitri, mencerminkan tradisi yang tetap terjaga.
Hal serupa juga terlihat di sejumlah negara seperti Mesir, Yunani, dan Rusia, di mana komunitas Muslim masih dapat merayakan Lebaran dengan relatif normal.
Namun kondisi tersebut sangat berbeda dengan yang terjadi di wilayah konflik. TRT World menyebutkan bahwa di Yerusalem Timur, warga Palestina harus menunaikan ibadah di luar tembok Kota Tua karena akses ke Masjid Al-Aqsa dibatasi di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Gaza: Lebaran di Tengah Krisis Ekonomi dan Kehancuran
Situasi paling memprihatinkan terlihat di Gaza. Al Jazeera melaporkan bahwa banyak warga tetap berusaha merayakan Idulfitri, meski kondisi ekonomi yang memburuk membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.
Pembatasan masuknya barang oleh Israel memperparah keadaan. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam, termasuk barang-barang yang biasanya dibeli menjelang Lebaran seperti makanan dan mainan anak-anak.
Seorang warga Gaza, Khaled Deeb (62), mengaku hanya bisa melihat-lihat pasar tanpa mampu membeli. Dulu, ia memiliki supermarket dan bisa menyiapkan berbagai kebutuhan Lebaran untuk keluarganya. Kini, rumahnya rusak dan kehidupannya berubah drastis akibat perang.
Kisah serupa juga dialami Shireen Shreim, ibu tiga anak yang tinggal di bangunan rusak dengan penutup seadanya. Menurut laporan Al Jazeera, ia menyebut kebahagiaan Idulfitri terasa tidak lagi utuh setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik.
Lebanon: Lebaran di Tenda Pengungsian
Di Beirut, Lebanon, suasana Lebaran juga dipenuhi keprihatinan. TRT World melaporkan banyak keluarga yang mengungsi akibat konflik antara Hizbullah dan Israel merayakan Idulfitri di tenda-tenda darurat.
Baca Juga : Diskon Tarif Tol 30 Persen Saat Arus Balik Lebaran 2026, Cek Jadwal dan Ruas Tol yang Berlaku
Sebagian warga bahkan berkumpul di area terbuka, seperti di sekitar Masjid Al-Amin, karena kehilangan tempat tinggal. Al Jazeera menyebut lebih dari satu juta orang telah mengungsi di Lebanon akibat konflik ini.
Seorang peneliti dan aktivis politik, Karim Safieddine, mengatakan bahwa di tengah kondisi sulit, kebersamaan keluarga dan solidaritas masyarakat menjadi hal yang paling penting untuk bertahan.
Iran: Tekanan Perang dan Ekonomi
Kondisi tidak jauh berbeda juga terjadi di Iran. Menurut laporan Al Jazeera, warga menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat seiring berlanjutnya konflik.
Aktivitas belanja kebutuhan Lebaran menjadi terbatas, terutama karena kerusakan di sejumlah wilayah dan kondisi keamanan yang belum stabil. Pasar besar di Teheran bahkan dilaporkan terdampak serangan, membuat aktivitas masyarakat semakin berisiko.
Menariknya, sebagian warga Iran memilih lebih fokus merayakan Nowruz, Tahun Baru Persia, yang bertepatan dengan periode Idulfitri tahun ini. Hal ini juga dipengaruhi faktor sosial dan politik di dalam negeri.
Idulfitri 2026 menjadi pengingat bahwa hari raya tidak selalu hadir dalam suasana damai. Di banyak wilayah konflik, Lebaran tetap dirayakan, tetapi dalam bentuk yang lebih sederhana, sunyi, dan penuh makna.
Dari Gaza yang dilanda krisis, Beirut yang dipenuhi pengungsi, hingga Yerusalem Timur dan Iran yang berada di bawah tekanan konflik, Idulfitri tahun ini menjadi simbol keteguhan dan harapan warga sipil untuk masa depan yang lebih baik.
