Rupiah Melemah, Berikut Harga Barang yang Diprediksi Naik Imbas Dolar AS Melejit
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
A Yahya
16 - May - 2026, 01:46
JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus melemah mulai memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat. Pasalnya, kondisi tersebut diprediksi bakal berdampak langsung pada kenaikan harga sejumlah kebutuhan sehari-hari dalam beberapa bulan ke depan.
Saat ini kurs dolar AS bahkan sempat menyentuh kisaran Rp 17.600. Kondisi itu membuat biaya impor berbagai barang ikut melonjak, mulai dari bahan baku industri hingga produk konsumsi rumah tangga.
Baca Juga : Rumah Terasa Panas seperti Oven? Ini 7 Cara Bikin Hunian Lebih Adem saat Cuaca Terik
Ekonom Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda mengatakan dampak paling terasa dari melemahnya rupiah adalah munculnya imported inflation atau inflasi akibat barang impor.
"Dampaknya adalah, inflasi dari impor akan mulai naik ke depan terutama akibat biaya distribusi naik, harga barang naik. Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi," ujar Huda, dikutip detikcom, Sabtu (16/5/2026).
Menurutnya, kenaikan harga kemungkinan mulai terasa dalam dua hingga tiga bulan mendatang. Salah satu yang mulai terlihat terdampak adalah bahan baku plastik.
Huda menjelaskan harga plastik mengalami kenaikan karena bahan bakunya semakin sulit didapat, distribusi mahal, dan nilai tukar rupiah yang melemah membuat biaya impor melonjak.
Efeknya pun bukan hanya dirasakan industri besar. Banyak produk kebutuhan harian yang menggunakan kemasan plastik diprediksi ikut naik harga, termasuk minyak goreng kemasan.
"Jadi, dampak dari pelemahan nilai tukar ini bisa menyeluruh ke semua lapisan masyarakat, mulai dari penjual gorengan hingga pengusaha terkena dampak negatif," sebut Huda.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet menambahkan Indonesia masih sangat bergantung pada barang impor untuk berbagai kebutuhan pokok dan industri.
Menurutnya, saat rupiah melemah, biaya masuk barang otomatis ikut naik. Kondisi ini perlahan bakal memengaruhi harga di pasaran.
Berikut sejumlah barang yang diprediksi mengalami kenaikan harga:
• Makanan berbahan gandum
• Kedelai dan produk turunannya
• Bawang putih
• Susu impor
• Obat-obatan
• Bahan baku industri
• Gadget dan elektronik
• Kosmetik impor
• Langganan layanan digital
• Biaya sekolah dan kuliah luar negeri
• Tiket pesawat
"Dampaknya pelan-pelan terasa di harga makanan, obat, sampai kebutuhan rumah tangga," ujar Rendy.
Rendy menilai kelompok kelas menengah bakal paling merasakan tekanan karena konsumsi mereka tidak hanya terbatas pada kebutuhan pokok.
Harga gadget, elektronik, kosmetik impor, hingga biaya layanan digital diperkirakan ikut terkerek naik akibat kurs dolar yang tinggi. Akibatnya, banyak masyarakat diprediksi mulai mengurangi pengeluaran dan hanya membeli kebutuhan prioritas.
"Orang mungkin tetap bisa membeli, tetapi ruang belanjanya jadi lebih sempit. Ini yang kemudian membuat banyak orang merasa penghasilannya tidak sejauh dulu," katanya.
Selain barang konsumsi, biaya transportasi juga diperkirakan terdampak. Salah satunya harga tiket pesawat. Rendy menjelaskan sebagian besar biaya operasional maskapai masih menggunakan dolar AS, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, hingga biaya perawatan mesin.
"Sebagian besar biaya maskapai berbasis dolar AS, mulai dari avtur, sewa pesawat, suku cadang, sampai perawatan mesin. Jadi, ketika rupiah melemah, biaya operasional maskapai otomatis naik," ujarnya.
Meski begitu, pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berdampak negatif. Beberapa kelompok justru bisa mendapatkan keuntungan.
Pekerja migran Indonesia yang menerima gaji dalam mata uang asing berpotensi memperoleh nilai tukar lebih besar saat dikonversi ke rupiah.
Selain itu, eksportir komoditas seperti kelapa sawit, kopi, hingga sektor perikanan juga relatif diuntungkan karena pendapatan mereka berbasis dolar AS.
Namun secara umum, Rendy menilai mayoritas masyarakat Indonesia tetap akan lebih banyak merasakan tekanan akibat kurs dolar yang terus menguat.
"Tapi secara umum, untuk mayoritas masyarakat, Rupiah yang terlalu lemah tetap lebih banyak menambah tekanan dibanding manfaatnya," pungkas Rendy.
