Layang-Layang Kembali Jadi Tren, UMKM Malang Ikut Terdongkrak

Reporter

Riski Wijaya

Editor

Dede Nana

15 - Jul - 2026, 04:53

Distributor yang juga salah satu penghobi layang-layang di Kota Malang.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES - Sore hari di sejumlah lapangan terbuka di Malang Raya kini menghadirkan pemandangan yang sama. Puluhan hingga ratusan layang-layang menari di langit, sementara di bawahnya warga dari berbagai usia berkumpul menikmati permainan yang kembali menjadi tren.

Fenomena itu tak lagi sekadar menjadi hiburan musiman. Di balik ramainya para pemain yang menerbangkan layangan, roda ekonomi pelaku UMKM lokal ikut berputar. Pengrajin layangan, penjual benang, hingga pembuat aksesori permainan tradisional ini merasakan peningkatan permintaan, terutama saat musim kemarau dan libur sekolah.

Baca Juga : Sertifikat Tanah Gratis untuk MBR Dibuka Pemerintah, Ini Syarat dan Cara Mendapatkannya

Bagi  Saipul, penghobi layang-layang asal Malang, kebangkitan permainan tradisional tersebut menjadi angin segar bagi komunitas sekaligus para pengrajin. Menurutnya, minat masyarakat terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

"Awalnya banyak yang hanya ingin bernostalgia. Lama-kelamaan mereka ketagihan lagi bermain, bahkan mengajak keluarga dan teman-temannya," ujarnya.

Ramainya aktivitas bermain layang-layang juga memunculkan ruang interaksi sosial yang semakin hidup. Anak-anak, remaja hingga orang tua berkumpul dalam satu lapangan tanpa memandang usia. 

Mereka saling bertukar pengalaman, berdiskusi tentang teknik merakit layangan, hingga menjalin persahabatan baru.

Di Malang sendiri, kata Saipul, sedikitnya terdapat sekitar 50 komunitas layang-layang yang aktif. Masing-masing rutin menggelar latihan bersama, adu keterampilan, hingga mengikuti berbagai kompetisi di tingkat regional maupun nasional.

Permainan semakin menegangkan ketika duel layang-layang dimulai. Setiap pemain berusaha memutus benang lawan melalui teknik sambetan yang membutuhkan ketelitian dan pengalaman. Saat sebuah layangan akhirnya terputus, suasana berubah riuh karena para pemburu layangan putus berlarian mengejarnya.

Baca Juga : Viral Bikin Es Krim dari Buah Beku, Cara Bikinnya Cukup Pakai 2 Bahan Ini

Menurut Saipul, permainan tradisional ini juga memberi manfaat yang tidak sedikit. Selain mengurangi ketergantungan terhadap gawai, bermain di ruang terbuka membuat anak-anak lebih aktif bergerak dan mempererat hubungan antargenerasi.

"Yang paling penting sebenarnya silaturahmi. Dari sini banyak teman baru, saling bertukar ilmu, dan hubungan persaudaraan semakin erat," katanya.

Lebih jauh, layang-layang sambetan Malang kini tidak hanya dikenal di tingkat lokal. Berbagai kejuaraan telah digelar dengan peserta dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Hal itu menjadi peluang untuk memperkenalkan karya para pengrajin layangan Malang ke pasar yang lebih luas.

Saipul berharap tren positif tersebut terus terjaga. Menurutnya, semakin banyak masyarakat yang mencintai permainan tradisional, semakin besar pula peluang UMKM lokal berkembang sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah gempuran hiburan digital.