Inflasi Jatim Juli 2026 di Bawah 3 Persen, Surabaya Tertinggi Banyuwangi Terendah

03 - Aug - 2026, 07:04

Tingkat Inflasi Year on Year (y-on-y) Provinsi Jawa Timur (persen) Januari 2024 - Juli 2026. (Foto: BPS Jatim)

JATIMTIMES - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur melaporkan inflasi tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 2,87 persen pada Juli 2026 dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,88. 

Inflasi dipicu kenaikan harga sejumlah komoditas utama, seperti emas perhiasan, angkutan udara, bensin, dan beras, sementara Kota Surabaya mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,45 persen dan Banyuwangi menjadi yang terendah dengan 1,73 persen.

Baca Juga : Golkar Lamongan Fokus Menangkan Pemilu Sebelum Pilkada

Secara bulanan (month to month/m-to-m), Jawa Timur mengalami deflasi sebesar 0,26 persen pada Juli 2026. Kemudian inflasi kumulatif sejak awal tahun (year to date/y-to-d) tercatat sebesar 1,48 persen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPS Provinsi Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga pada hampir seluruh kelompok pengeluaran. “Pada Juli 2026 terjadi inflasi year on year sebesar 2,87 persen dengan Indeks Harga Konsumen sebesar 111,88,” katanya dalam rilis resmi BPS Jatim.

Menurut Herum, kenaikan harga tercermin dari meningkatnya indeks pada hampir seluruh kelompok pengeluaran masyarakat. “Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks kelompok makanan, minuman dan tembakau, transportasi, kesehatan, hingga perawatan pribadi dan jasa lainnya,” imbuhnya, Senin (3/8/2026).

Kelompok transportasi menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan mencapai 6,09 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,98 persen, kelompok kesehatan sebesar 2,42 persen, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,35 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 2,32 persen, serta kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan sebesar 2,15 persen.

Kelompok lainnya juga mengalami kenaikan, yakni rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 1,51 persen, pendidikan 1,31 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,28 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,15 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,39 persen. Tidak ada kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan secara tahunan.

BPS mencatat sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Jawa Timur. Komoditas tersebut antara lain emas perhiasan, angkutan udara, bensin, beras, minyak goreng, daging sapi, laptop atau notebook, Sigaret Kretek Mesin (SKM), nasi dengan lauk, telepon seluler, daging ayam ras, sepeda motor, air kemasan, tahu mentah, mobil, biaya akademi atau perguruan tinggi, kontrak rumah, tempe, bahan bakar rumah tangga, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT).

“Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi year on year di antaranya emas perhiasan, angkutan udara, bensin, beras, minyak goreng, hingga daging sapi,” jelasnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga komoditas tersebut menjadi faktor utama yang mendorong inflasi Jawa Timur pada Juli 2026. Beberapa komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi tahunan, yakni telur ayam ras, tomat, bawang merah, kelapa, dan cabai rawit. Penurunan harga komoditas tersebut turut menahan laju inflasi meski belum mampu membalikkan kondisi menjadi deflasi secara tahunan.

Baca Juga : 3 Pemain Vietnam yang Wajib Diwaspadai Timnas Indonesia Malam Ini, John Herdman Harus Siapkan Strategi Khusus

Secara bulanan, deflasi terutama dipicu turunnya harga bawang merah, emas perhiasan, cabai rawit, telur ayam ras, cabai merah, angkutan udara, tomat, daging ayam ras, dan jagung manis. Sementara komoditas yang masih memberikan andil inflasi bulanan adalah bensin, beras, laptop atau notebook, bawang putih, daging sapi, bimbingan belajar, dan biaya sekolah dasar.

Herum membeberkan perkembangan harga pada Juli menunjukkan tren yang lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya karena terjadi deflasi bulanan. “Tingkat deflasi month to monthpada Juli 2026 sebesar 0,26 persen, sedangkan inflasi year to date mencapai 1,48 persen,” tambahnya.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi tahunan dengan andil 0,76 persen. Selanjutnya kelompok makanan, minuman dan tembakau menyumbang 0,66 persen, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya 0,63 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran 0,25 persen, informasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,14 persen, perumahan 0,13 persen, serta kesehatan dan pendidikan masing-masing 0,09 persen.

Dari 11 kabupaten dan kota penghitung inflasi di Jawa Timur, seluruhnya mengalami inflasi tahunan pada Juli 2026. Inflasi tertinggi tercatat di Kota Surabaya sebesar 3,45 persen dengan IHK 112,43, sedangkan inflasi terendah terjadi di Banyuwangi sebesar 1,73 persen dengan IHK 111,64.

Sedang perbandingan, inflasi tahunan Jawa Timur pada Juli 2025 tercatat sebesar 2,21 persen dengan inflasi kumulatif 1,54 persen. Sementara pada Juli 2024 inflasi tahunan berada di angka 2,13 persen dengan inflasi kumulatif 0,84 persen, sehingga laju inflasi tahunan Juli 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya.