Kisah Pujian Rasulullah SAW kepada Pemuda yang Terlambat ke Masjid
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
20 - Mar - 2025, 11:33
JATIMTIMES - Dalam ajaran Islam, datang ke masjid di awal waktu untuk melaksanakan salat berjamaah memiliki banyak keutamaan. Namun, sebuah kisah menarik datang dari seorang pemuda pada zaman Rasulullah SAW yang justru mendapat pujian meski ia terlambat tiba di masjid. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Mari kita simak kisahnya.
Kisah ini tertulis dalam buku 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah SAW karya Fuad Abdurahman. Suatu ketika, Rasulullah SAW dan para sahabat tengah melaksanakan salat berjamaah. Di tengah salat, seorang pria tampak terburu-buru memasuki masjid. Ia berjalan cepat, seakan hampir berlari, agar bisa bergabung dengan jamaah. Dalam kondisi napas yang masih tersengal-sengal, ia segera ikut serta dalam salat.
Baca Juga : DPRD dan Pemkab Malang Matangkan Pembahasan Dua Raperda Strategis
Saat selesai salat, Rasulullah SAW menoleh ke arah jamaah dan bertanya, "Siapakah orang yang tadi mengucapkan sesuatu saat aku salat?" Para sahabat pun terdiam, tidak ada yang menjawab karena tidak tahu maksud Rasulullah SAW. Beliau kemudian mengulang pertanyaannya, "Manakah orang yang mengucapkan sesuatu ketika aku salat tadi? Sesungguhnya ia tidak mengucapkan kata-kata yang buruk."
Pemuda yang baru saja bergabung dalam salat dengan napas yang masih berat itu segera menyadari bahwa beliau yang dimaksud oleh Rasulullah SAW. Dengan suara lirih dan kepala menunduk malu, ia menjawab, "Aku, wahai Rasulullah. Aku datang ke masjid nyaris berlari, dan akibatnya napasku tersengal-sengal hingga aku mengucapkan kata-kata tadi."
Mendengar penjelasan pemuda tersebut, Rasulullah SAW tersenyum dan mengungkapkan kabar baik. "Sungguh, aku melihat dua belas malaikat berebut untuk menyampaikan kata-kata itu kepada Allah SWT," ujar beliau dengan wajah yang penuh cahaya. Ucapan pemuda itu, yang dengan tulus memuji Allah, dicatat sebagai amalan kebaikan yang diterima oleh-Nya.
Kisah ini menegaskan bahwa niat yang tulus dan usaha keras dalam beribadah sangat dihargai dalam pandangan Allah, meskipun terkadang situasi tidak memungkinkan kita datang tepat waktu.
Dalam riwayat lain yang juga tertulis dalam Shahih Bukhari dari Rifa'ah, diceritakan bahwa seorang sahabat Rasulullah SAW juga mengucapkan kalimat pujian setelah bangun dari rukuk, "Rabbana lakaal-hamdu hamdan katsiran thayyiban mubarakan fih," yang artinya, "Wahai Tuhan kami, segala puji bagi-Mu dengan puji tak terhingga, yang baik, dan penuh berkah."
Baca Juga : Fadhilah Salat Tarawih Malam ke-20 dan 21: Setara dengan Mati Syahid dan Dibangunkan Rumah di Surga
Setelah itu, Rasulullah SAW kembali bertanya kepada jamaah, "Siapakah orang yang tadi mengucapkan kata-kata itu?" Sang sahabat pun menjawab, "Aku, wahai Rasulullah." Rasulullah SAW menjelaskan, "Sungguh, aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berlomba-lomba untuk menjadi yang pertama menuliskan kata-kata itu."
Kisah-kisah ini menggambarkan betapa Allah SWT dan Rasul-Nya memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap kalimat pujian dan doa yang disampaikan dengan tulus dari hati umat-Nya. Dalam ajaran Islam, meski kita tidak selalu dapat datang tepat waktu, setiap usaha yang dilakukan dengan penuh kesungguhan dan ikhlas untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tetap dicatat sebagai amal kebaikan yang bernilai tinggi di sisi-Nya.
Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kisah ini mengingatkan umat Muslim bahwa kesungguhan dan niat baik selalu dihargai, dan setiap kalimat yang kita ucapkan dengan penuh ketulusan akan mendapatkan perhatian dari Allah SWT, apalagi jika disertai dengan doa dan pujian yang tulus.
