Maksum, Jaminan Illahi Atas Kesucian Perilaku Para Nabi

Editor

A Yahya

16 - Jul - 2025, 09:35

Ilustrasi sifat Maksum yang dimiliki oleh Nabi dari Allah SWT (ist)

JATIMTIMES - Di tengah kehidupan manusia yang penuh ujian dan potensi untuk tergelincir dalam dosa, para nabi dan rasul tampil sebagai pribadi yang terjaga. Mereka tidak hanya suci dalam akhlak, tetapi juga dijamin terhindar dari dosa. Inilah yang disebut dengan sifat Maksum, satu dari sekian keistimewaan yang hanya dimiliki oleh utusan Allah.

Kemaksuman bukan sekadar gelar spiritual, tetapi fondasi penting dalam misi kenabian. Dalam buku Bukan Dosa Ternyata Dosa, Abduh Al Baraq menjelaskan bahwa sifat maksum merupakan jaminan ilahi atas kesucian perilaku para nabi. Allah SWT sendiri yang menjaga mereka dari kesalahan agar dakwah yang mereka sampaikan tetap murni, tanpa cacat.

Baca Juga : Reformasi Ruhani Syekh Siti Jenar: Jaringan Dagang, Tasawuf, dan Ibadah Haji

“Allah SWT menghapus kesalahan-kesalahan para nabi dan menjauhkan mereka dari hawa nafsu yang bisa menjerumuskan pada dosa,” tulis Abduh.

Sebagai pembawa wahyu, nabi dan rasul tidak bisa disamakan dengan manusia biasa. Mereka memikul tanggung jawab besar untuk menyampaikan ajaran Tuhan dengan benar dan tanpa penyimpangan. Bila mereka berbuat dosa, bahkan yang terkecil sekalipun, maka integritas dakwah bisa runtuh.

“Tanpa kemaksuman, risalah Allah bisa kehilangan kepercayaan di mata umat. Musuh-musuh dakwah akan menjadikannya celah untuk melemahkan pesan ilahi,” ungkap Abduh.

Karenanya, kemaksuman menjadi pelindung sekaligus penguat posisi nabi sebagai teladan sempurna. Mereka bukan hanya perantara, tapi juga representasi nilai-nilai suci yang mereka bawa.

Sifat Maksum yang melekat pada Nabi Muhammad SAW dijelaskan langsung dalam Al-Qur’an. Salah satu ayat yang mempertegas hal ini adalah firman Allah dalam QS Al-Ahzab: 33:

"Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan dosa darimu, wahai Ahlulbait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."

Ayat ini menjadi bukti bahwa Allah SWT secara aktif menjaga Rasulullah SAW dan keluarganya dari dosa. Ini bukan hanya bentuk kemuliaan pribadi, tetapi juga sebuah amanah besar untuk menjadi rujukan akhlak dan spiritualitas bagi umat sepanjang masa.

Baca Juga : Tian Xu Ning Siapa? Namanya Menggema Berhari-hari di Medsos

Tanpa sifat Maksum, mustahil Nabi Muhammad SAW bisa menjadi figur panutan global yang teladannya melintasi zaman, budaya, dan peradaban.

Gambaran kemaksuman juga dapat dilihat dalam perjalanan hidup Nabi Yusuf AS. Dalam buku Kiat Bijak Mengambil Keputusan, Amru Khalid mengangkat bagaimana kemurnian hati Yusuf AS tetap terjaga meski mendapat perlakuan tidak adil dari saudara-saudaranya.

Allah SWT berfirman dalam QS Yusuf: 8: "(Ingatlah,) ketika mereka berkata, 'Sesungguhnya Yusuf dan saudaranya lebih dicintai ayah daripada kita".

Saudara-saudaranya iri dan mendendam, bukan karena Yusuf berbuat salah, melainkan karena mereka melihat keistimewaan yang ada padanya, baik rupa, kecerdasan, maupun kasih sayang sang ayah, Nabi Ya’qub AS. Namun, Yusuf kecil tetap bersikap sabar dan tidak membalas kebencian dengan keburukan.

Ini menunjukkan bahwa bahkan sejak usia belia, para nabi sudah dijaga dari perilaku yang menyimpang. Sifat Maksum tidak hanya melekat saat kenabian dimulai, tetapi merupakan bagian dari takdir dan persiapan ilahi sejak awal kehidupan mereka.