Mengenal Sesar Lembang yang Aktif Lagi Guncang Jabar

Reporter

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

21 - Aug - 2025, 11:46

Peta sesar lembang. (Foto: X @DaryonoBMKG)

JATIMTIMES - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 1,7 mengguncang wilayah Kabupaten Bandung Barat dan sekitarnya pada Rabu (20/8) siang, tepat pukul 12.28 WIB. BMKG memastikan lindu tersebut berasal dari aktivitas Sesar Lembang yang dikenal masih aktif.

Hingga Kamis (21/8/2025) "sesar lembang" menjadi trending dalam penelusuran Google. Banyak warganet yang mencaritahu kondisi terkini sesar membahayakan tersebut. 

Baca Juga : Soal Gempa Karawang-Bekasi yang Merusak 20 Bangunan, Begini Penjelasan BMKG 

Berdasarkan hasil analisis BMKG, episenter gempa berada di koordinat 6.81 LS dan 107.51 BT atau sekitar 3 km barat laut Kabupaten Bandung Barat, dengan kedalaman 10 km.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, menyebutkan bahwa aktivitas Sesar Lembang memang menunjukkan peningkatan sejak pertengahan 2025.

"Hasil monitoring BMKG, sejak 24 Juli 2025 Sesar Lembang mengalami peningkatan aktivitas kegempaan," kata Rahayu, dikutip CNNIndonesia, Kamis (21/8/2025). 

BMKG mencatat, Sesar Lembang khususnya di Segmen Cimeta (barat) beberapa kali melepaskan energi gempa yang dirasakan warga, dalam beberapa hari terakhir. Rinciannya sebagai berikut: 
• M1,8 pada 24 Juli 2025
• M2,1 pada 28 Juli 2025
• M1,9 pada 14 Agustus 2025
• M1,8 pada 15 Agustus 2025
• M2,3 pada 19 Agustus 2025
• M1,7 pada 20 Agustus 2025

Rahayu mengimbau masyarakat tetap waspada dan memperkuat mitigasi bencana. "Imbauan masyarakat lebih meningkatkan kewaspadaannya dan memperkuat mitigasi tentunya. Peningkatan kolaborasi antar instansi terkait seperti BMKG, BPBD, Pemprov dan lainnya," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menegaskan bahwa segmen barat Sesar Lembang sedang mengalami peningkatan aktivitas seismik.

"Para pakar yg selalu mengingatkan bahaya Sesar Lembang bukan tidak berdasar. Baik pakar geologi (tektonik), geodesi (dinamika kerak bumi), seismologi (gempa) mengamini itu semua. BMKG membuktikan bhw Sesar Lembang adalah sesar aktif yg patut diwsapadai," kata Daryono, dikutip X pribadinya @DaryonoBMKG. 

Namun ia menekankan, aktivitas gempa ini tidak bisa dijadikan tanda pasti akan terjadinya gempa besar. "Tidak ada yang bisa memprediksi kapan gempa besar akan terjadi," tambahnya.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG, Rahmat Triyono, sempat mengulas skenario gempa akibat Sesar Lembang dalam diskusi daring pada April lalu. Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang dirilis Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), sesar sepanjang 30 km ini berpotensi memicu gempa dengan magnitudo maksimum 6,8.

"Kita skenariokan dengan kedalaman [pusat gempa]-nya 10 km, maka dampaknya kalau ini terjadi, di Bandung Barat, Kota Cimahi, Bandung, Purwakarta dengan skala MMI (Modified Mercalli Intensity)-nya adalah VI sampai VII," katanya.

Rahmat mengingatkan, dampak gempa akan lebih parah bila bangunan tidak memenuhi syarat tahan gempa.

"Itu dampaknya itu kerusakan sedang, dengan catatan apabila bangunannya ini memang memenuhi kaidah-kaidah yang semestinya. Tapi kalau tidak ada struktur, tentunya dengan VI-VII MMI ya sudah rata dengan tanah ini," jelasnya.

Baca Juga : Cara Aktivasi Rekening BSU dan Insentif Guru 2025, Lengkap dengan Syarat dan Prosedur Pencairannya

Peneliti BRIN, Nuraini Rahma Hanifa, juga menambahkan bahwa potensi kerusakan diperparah kondisi geologi Bandung yang berdiri di atas bekas danau purba dengan lapisan batuan lunak.

Mengenal Sesar Lembang

Sesar Lembang terbentuk akibat perkembangan Kompleks Gunung Api Sunda-Burangrang di antara Padalarang dan Sumedang. Perkembangan geologi ini melahirkan zona depresi di Lembang sebagai sesar turun, sebelum kemudian bergeser menjadi sesar mendatar.

Saat ini Sesar Lembang diketahui bergerak dengan kecepatan 0,2-2,5 mm per tahun. Potensi gempa dari sesar ini diperkirakan bisa mencapai magnitudo 6,5-7, dengan siklus berulang antara 170-670 tahun.

Sesar ini juga pernah aktif pada 2010-2012. Pada 2011 misalnya, tercatat gempa berkekuatan M3,3 yang mengakibatkan 384 rumah rusak, termasuk 9 rumah rusak berat. Setelah itu, catatan kegempaan akibat Sesar Lembang relatif mereda hingga 2021.

BMKG mengingatkan, ada kemungkinan pelepasan energi besar dari Sesar Lembang yang muncul secara periodik, diperkirakan sekitar setiap 500 tahun sekali.

Mengapa Sesar Lembang Berbahaya?

Sesar Lembang disebut berbahaya karena pergerakannya yang terukur cukup konsisten, yakni sekitar 1,95 hingga 14 milimeter per tahun. Pergerakan ini membuat energi terus menumpuk dan bisa saja dilepaskan sewaktu-waktu dalam bentuk gempa besar.

Risiko semakin tinggi karena Cekungan Bandung berdiri di atas tanah bekas danau purba. Karakteristik tanah yang lunak di wilayah ini mampu memperkuat guncangan, sehingga dampak gempa bisa terasa lebih parah meski pusat gempa berada cukup jauh.

Tak hanya itu, kondisi geografis di sekitar Sesar Lembang yang banyak memiliki lereng curam juga menambah ancaman lain. Bila terjadi gempa kuat, potensi tanah longsor di kawasan ini cukup besar.

Apabila skenario terburuk benar-benar terjadi, guncangan kuat dari Sesar Lembang dikhawatirkan mampu merusak hingga meratakan bangunan yang tidak dibangun sesuai standar tahan gempa.