Amr bin Luhaiy, Sosok di Balik Berhala Pertama di Sekitar Ka’bah
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
17 - Jan - 2026, 11:41
JATIMTIMES - Perubahan besar dalam keyakinan masyarakat Arab pra-Islam tidak terjadi tiba-tiba. Sejarah mencatat satu sosok sentral yang menjadi pintu masuk penyimpangan akidah tersebut, yakni Amr bin Luhaiy bin Qam’ah. Tokoh dari leluhur Suku Khuza’ah ini dikenal sebagai orang pertama yang memperkenalkan penyembahan berhala di Tanah Arab, menggantikan ajaran tauhid yang diwariskan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.
Penyimpangan itu ditegaskan secara langsung dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Dalam riwayat Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda kepada Aksam bin Jun al-Khuza’i:
Baca Juga : Wartawan Senior dan Ketua LMS Sampang Tutup Usia
“Wahai Aksam, aku melihat Amr bin Luhaiy bin Qam’ah bin Khandaf menyeret ususnya di neraka.”
Rasulullah SAW kemudian menjelaskan sebab siksa tersebut. Ketika Aksam khawatir kemiripan fisiknya dengan Amr akan berdampak buruk, Nabi menegaskan perbedaan mendasar di antara keduanya.
“Tidak. Engkau seorang mukmin, sedangkan dia kafir. Dialah orang pertama yang mengubah agama Ismail, menegakkan berhala-berhala, mengharamkan bahirah, membebaskan sa’ibah, menyambung wasilah, dan melindungi hami.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Sejarah mencatat bagaimana perubahan itu bermula. Dalam riwayat Ibnu Hisyam, Amr bin Luhaiy diceritakan melakukan perjalanan dari Makkah menuju wilayah Syam. Di daerah al-Balqa’, tepatnya Ma’ab, ia menyaksikan penduduk setempat menyembah patung-patung. Ketika ditanya, mereka mengklaim patung tersebut sebagai perantara untuk memohon hujan dan kemenangan. Penjelasan irasional itu justru menarik perhatian Amr. Ia meminta satu patung untuk dibawa pulang ke Makkah. Patung bernama Hubal itulah yang kemudian diletakkan di sekitar Ka’bah dan menjadi simbol awal menyebarnya paganisme di Jazirah Arab.
Praktik-praktik jahiliah yang diperkenalkan Amr bin Luhaiy kemudian ditegaskan sebagai kebohongan terhadap Allah dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:
Baca Juga : Kim Seon-ho Comeback di Drakor Can This Love Be Translated? Romansa Beda Profesi Bikin Baper
“Allah tidak pernah mensyariatkan bahirah, sa’ibah, wasilah, dan hami. Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kebohongan terhadap Allah.” (QS. Al-Ma’idah: 103).
Menurut Said Ramadhan al-Buthy, mudahnya masyarakat Makkah menerima penyimpangan tersebut tidak lepas dari kondisi sosial saat itu: kebodohan, rendahnya literasi, serta keengganan menggunakan nalar kritis. Tauhid yang menjadi inti ajaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tergeser oleh kepercayaan impor dari suku-suku sekitar Jazirah Arab.
Ironinya, masyarakat Makkah tetap membanggakan diri sebagai keturunan Nabi Ibrahim, namun pada saat yang sama meninggalkan esensi ajarannya. Sebuah kontradiksi historis yang diluruskan melalui risalah Nabi Muhammad SAW, yang datang untuk mengembalikan manusia kepada kemurnian tauhid dan memutus mata rantai penyembahan berhala.
