Astronomi dan Wahyu Bertemu: Manusia Disebut Hidup di Menit-Menit Terakhir Alam Semesta
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Nurlayla Ratri
22 - Jan - 2026, 09:14
JATIMTIMES - Gagasan tentang dekatnya akhir zaman tidak hanya bergema dari mimbar keagamaan. Ia juga tumbuh dari ruang-ruang ilmiah, teleskop raksasa, dan diskusi para astronom dunia. Menariknya, ketika sains berupaya membaca usia alam semesta melalui hitungan kosmik, kesimpulan yang muncul justru sejalan dengan pesan Alquran dan hadits Nabi Muhammad SAW: perjalanan alam raya tengah memasuki fase akhirnya.
Alquran berulang kali menegaskan bahwa hari kiamat itu dekat. Diksi tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan disampaikan tanpa penanda waktu pasti, seolah menggeser fokus manusia dari soal kapan menuju kesadaran akan kefanaan. Nabi Muhammad SAW bahkan menggambarkan jarak antara masa diutusnya beliau dan hari kiamat seperti dua jari yang berdekatan, sebuah simbol yang singkat namun menghunjam.
Baca Juga : Ramalan Zodiak 22 Januari 2026: Emosi Memuncak, Keputusan Penting Menguji Banyak Zodiak
Isyarat serupa juga muncul dari kajian astronomi modern. Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi, dalam bukunya Asyratus Sa’ah al-Hasyru wa Qiyamus Sa’ah, mengulas hasil konferensi ilmiah internasional di Brussels, Belgia, pada 1990. Ratusan astronom dari berbagai negara mempresentasikan riset tentang asal-usul dan umur alam semesta, mulai dari terbentuknya galaksi hingga dinamika planet dan bintang.
Menurut Ash-Shuffi, para ilmuwan menghadapi tantangan besar ketika harus menjelaskan usia alam semesta yang dihitung dalam miliaran tahun. Deretan angka panjang dengan nol berlapis-lapis membuat penjelasan sulit dipahami masyarakat umum. Upaya menyederhanakan dengan simbol matematika pun dinilai tidak efektif.
“Angka-angka itu terlalu besar untuk dipahami manusia awam, sehingga para astronom akhirnya mencari cara agar maknanya bisa dicerna,” tulis Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi dalam bukunya.
Dari situ lahir sebuah analogi yang dianggap paling masuk akal. Umur alam semesta disamakan dengan satu hari penuh, yakni 24 jam. Dalam kerangka ini, jam-jam awal diisi oleh fase penciptaan kosmik berskala besar. Galaksi dan bintang terbentuk dalam jumlah yang melampaui bayangan, lalu terpisah dan menempati ruang masing-masing. Planet, satelit, dan meteor muncul menyusul, membentuk struktur alam raya yang semakin kompleks.
Seiring berjalannya waktu kosmik, tata letak galaksi menjadi stabil dan lapisan-lapisan langit terbentuk. Bumi, menurut analogi ini, tidak hadir di awal, melainkan muncul menjelang akhir hari kosmik, tepatnya pada awal jam ke-24.
Pada jam terakhir itulah bumi dipersiapkan sebagai ruang kehidupan. Daratan terbentang, gunung-gunung berdiri, lautan dan sungai mengalir. Kehidupan kemudian tumbuh bertahap, dimulai dari tumbuhan, disusul makhluk laut, hingga hewan darat dengan ribuan bahkan jutaan variasi bentuk.
Manusia, menurut para astronom, hadir sangat belakangan. Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi menegaskan bahwa kemunculan manusia ditempatkan pada sepuluh menit terakhir dari satu hari kosmik tersebut.
Baca Juga : Viral, Karst Citatah Bandung Jadi Lokasi Syuting Film Netflix yang Dibintangi Lisa BLACKPINK
“Para astronom menyimpulkan bahwa manusia diciptakan pada sepuluh menit terakhir dari umur alam semesta yang disederhanakan itu,” tulis Ash-Shuffi.
Lebih jauh lagi, ia mengutip pandangan para ilmuwan bahwa kehidupan manusia di bumi disebut telah berlangsung sekitar tujuh menit dari sepuluh menit tersebut. Dengan kata lain, hanya tersisa tiga menit.
“Kita sekarang hidup di akhir dari menit-menit terakhir umur alam semesta,” tulis Syekh Mahir Ahmad Ash-Shuffi, mengutip kesimpulan para astronom.
Penyederhanaan ini membuat satu jam kosmik setara dengan miliaran tahun, sementara satu menit mewakili jutaan tahun. Dari sudut pandang sains, kesimpulannya tegas: alam semesta tidak bersifat abadi. Ia memiliki umur dan akan mencapai titik akhir. Meski para ilmuwan berbeda pendapat tentang kapan tepatnya kehancuran itu terjadi, mereka sepakat bahwa alam semesta suatu saat akan berakhir.
Di titik ini, sains dan wahyu bertemu tanpa saling menegasikan. Apa yang dihitung para astronom tidak bertentangan dengan pesan Alquran dan hadits. Keduanya justru saling menguatkan, bahwa manusia hidup di fase senja alam raya.
