Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Hantu Selat Malaka: Bajak Laut Jadi Pahlawan Nasional, Warganet Berharap Kisahnya Difilmkan

Penulis : Dede Nana - Editor : Yunan Helmy

19 - Nov - 2018, 15:56

Placeholder
Covet novel grafis biografi John Lie Hantu Selat Malaka karya Rakhmad Dwi Septian. (Ist)

Bagi generasi milenial, sosok yang dijuluki oleh Belanda sebagai Hantu Selat Malaka mungkin terasa asing. Atau bahkan tidak dikenal. Tidak seperti nama para pahlawan nasional lain yang ditemukan di berbagai buku pelajaran sekolah.  


Sosok sang Hantu Selat Malaka bernama John Lie Tjeng Tjoan (lahir Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911) tidak dikenal bisa jadi karena kurangnya literatur. Juga bisa dimungkinkan karena latar politis identitas John Lie yang merupakan etnis Tionghoa waktu itu. 


Lantas siapakah sang Hantu Selat Malaka yang membuat Presiden Soeharto tahun 1995 memberinya Bintang Mahaputera Utama serta Presiden Susilo Bambang Yudhoyono  tahun 2009 juga menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar pahlawan nasional kepada dirinya?
Roy Rowan dalam tulisannya berjudul  Guns - Bibles - Are Smuggled to Indonesia di majalah Life (26/09/1949) menyampaikan,  Lie merupakan tokoh penting dalam sebuah organisasi penyelundupan senjata yang wilayahnya terbentang sepanjang Filipina sampai India. 
Penyelundup. Begitulah Lie yang tanggal 30 Agustus 1966  mengganti namanya dengan Jahja Daniel Dharma dikenal waktu itu. Bajak laut yang menumpangi kapal cepat The Outlaw dalam setiap aksinya. Menyelundupkan senjata, memasok kebutuhan logistik bahan bakar,  obat-obatan, bahan pangan dan lainnya. 


Berbagai misi mustahil (mission imposible) bisa dilalui Lie. Dalam setiap aksinya, Lie selalu lolos dari  tentara Gurkha Inggris,  intel NEFIS Belanda, dan juga laskar-laskar perjuangan yang sering gelap mata. Mata sipitnya jadi masalah besar bagi republikan gelap mata yang bisa menuduhnya sebagai mata-mata Belanda. 


Sebagai bajak laut yang begitu licin,  Lie juga mampu menaklukkan berbagai blokade kapal Belanda yang di-back-up Inggris yang mengontrol lautan Malasyia-Singapura. Jalur Lie dan awak kapalnya menyelundupkan berbagai senjata serta badang lainnya dalam mendukung perjuangan tentara Indonesia. 


Lie,  sang Hantu Selat Malaka dan dikenal sebagai bajak laut ternama, kerap membantu perjuangan rakyat Indonesia di zaman revolusi (1945-1949). Setelah kemerdekaan Indonesia,  Lie juga berpihak kepada Indonesia seperti kebanyakan tokoh-tokoh Tionghoa yang ikut serta dalam pergerakan nasional.


Keahliannya di lautan diperolehnya sejak usia 18 tahun, seperti dicatat dalam buku Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie (2008) yang disusun M Nursam. Hal itu membuat Lie bergabung dengan Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). 

Pertama bergabung di ALRI, Lie yang kenyang makan asam garam sebagai perwira kapal dan ikut PD (Perang Dunia)  II diberi pangkat kelas III.
Lie menerimanya. Sampai akhirnya banyak perwira ALRI yang sadar kemampuan dan pengalamannya di lautan. Lie menunjukkan skillnya dalam membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. 1946. Pangkat Lie dinaikkan menjadi mayor. 


Aksinya sebagai Hantu Selat Malaka semakin berkibar. Kelicinan, keahlian strategi menaklukkan gelombang ganas lautan, serta berbagai penyergapan pasukan Belanda dan Inggris yang ditaklukkannya membuat Lie yang selalu membawa dua Bibel dalam setiap aksinya dijadikan komandan kapal perang Rajawali, tahun 1950 oleh Kasal Laksamana TNI R. Soebijakto. 
Jenderal Besar TNI A.H. Nasution tahun 1988 pernah menyampaikan prestasi Lie tiada taranya di Angkatan Laut. "Karena dia adalah panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi republik, yakni dalam operasi-operasi menumpas kelompok separatis Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta, " ujarnya. 
Di masa itu, Lie aktif dalam penumpasan berbagai pemberontakan. Sampai tahun 1966, Lie mengakhiri pengabdiannya di TNI Angkatan Laut  dengan pangkat terakhir Laksamana Muda. Lie meninggal dunia karena stroke  pada tanggal 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. 


Kisah sang Hantu Selat Malaka yang awalnya seorang bajak laut sampai menjadi seorang pejuang kemerdekaan Indonesia mendapat respons antusias warganet yang merupakan generasi milenal. 
Beberapa warganet bahkan berharap kisah heroik sang bajak laut versi hero tersebut  bisa diangkat  ke layar lebar. Akun khoirulyoga_ menuliskan, "Banyak pahlawan yg kisahnya heroik namun kurang tenar, contoh kisah beliau ini yg campuran antara bajak laut versi pahlawan. Mungkin klo di filmkan seru nihh." 
Senada dengan akun adrynnova. "Di layar lebarkan sepertinya cukup layak dan seru, " tulisnya.  (*)


Topik

Peristiwa Hantu-Selat-Malaka biografi-John-Lie-Hantu-Selat-Malaka Rakhmad-Dwi-Septian John-Lie-Tjeng-Tjoan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Dede Nana

Editor

Yunan Helmy

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa