PBNU-Muhammadiyah Kompak Bantah Yaqut yang Sebut Kemenag Hadiah Negara untuk NU | Sidoarjo TIMES

PBNU-Muhammadiyah Kompak Bantah Yaqut yang Sebut Kemenag Hadiah Negara untuk NU

Oct 25, 2021 12:13
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Foto: Kompas.com)
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas (Foto: Kompas.com)

JATIMTIMES - Pernyataan Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas kembali menjadi polemik. Pasalnya, pria yang akrab disapa Gus Yaqut itu menyebut bahwa Kementerian Agama (Kemenag) merupakan hadiah negara untuk Nahdlatul Ulama (NU). 

Sontak saja, pernyataan Gus Yaqut itu langsung menjadi kontroversi dari berbagai pihak. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan Muhammadiyah pun kompak membantah pernyataan Gus Yaqut tersebut. 

Baca Juga : Menengok Kembali Novel Masterpiece Buya Hamka ketika Kapal Van Der Wijck Dikabarkan Ditemukan 

Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini menegaskan bahwa Kemenang bukan hanya milik NU. Ia mengatakan semua pihak bisa memimpin Kemenag asal bertujuan untuk melahirkan kemaslahatan dan kesejahteraan. 

"Kemenag hadiah negara untuk semua agama, bukan hanya untuk NU atau hanya untuk umat Islam," kata Helmy dalam keterangan tertulis, Minggu (24/10/2021). 

Helmy juga menyampaikan NU memang punya peran penting dalam penghapusan 7 kata Piagam Jakarta saat dituang ke Pancasila. Namun, hal tersebut tidak membuat NU menjadi istimewa dalam pemerintahan.

Lebih lanjut, Helmy menuturkan NU tidak boleh semena-mena. Ia juga menegaskan NU tak berniat memanfaatkan momen sejarah untuk melakukan kesewenang-wenangan.

"Meski demikian, NU tidak memiliki motivasi untuk menguasai ataupun memiliki semacam privelege dalam pengelolaan kekuasaan dan pemerintahan karena NU adalah jamiyyah diniyah ijtimaiyyah, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan," tutur Helmy.

Selain itu, Helmy mengatakan jika pernyataan soal Kemenag hadiah negara untuk NU merupakan pendapat pribadi Gus Yaqut. Ia menyayangkan pernyataan itu diucapkan oleh seorang menteri.

"Pada dasarnya, semua elemen sejarah bangsa ini punya peran strategis dalam pendirian NKRI, melahirkan Pancasila, UUD 1945 dalam keanekaragaman suku, ras, agama, dan golongan. Bhinneka Tunggal Ika," ucap Helmy.

Sementara, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa Indonesia termasuk lembaga-lembaga negara di dalamnya adalah milik semua. Bukan dikuasai atau bentuk hadiah bagi 1 kelompok saja.

"Semisal elite negeri yang menyatakan suatu Kementerian Negara lahir diperuntukkan golongan tertentu dan karenanya layak dikuasai oleh kelompoknya. Suatu narasi radikal yang menunjukkan rendahnya penghayatan keindonesiaan," kata Haedar. 

Baca Juga : Soft Launching Pelaksanaan MTQ XXIX di Pamekasan Dihadiri Langsung Gubernur Jawa Timur

Haedar mengatakan Indonesia yang sudah 76 tahun merdeka, semua warga dan elite negeri semakin dewasa dalam berbangsa dan bernegara. Namun, Haedar menilai masih ada saja yang belum beranjak "akil-balig" dalam berbangsa dan bernegara. 

"Inilah ironi keindonesiaan. Suatu ironi bernegara yang sejatinya berlawanan arus dengan gempita Aku Pancasila, Aku Indonesia, Aku Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI harga mati. Ironi sebagai bukti, Indonesia ternyata belum menjadi milik semua," kata Haedar. 

Ia lantas menjelaskan Indonesia lahir dan hidup untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali. Bahkan Haedar mengutip pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI yang menyatakan bahwa pendirian negara Indonesia adalah untuk semua.

"Kita hendak mendirikan suatu negara buat semua. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua," tandas Haedar.

Menurutnya, saat ada warga atau elite bangsa atau golongan yang mengklaim Indonesia seolah miliknya dan diperuntukkan bagi diri sendiri atau kelompok, maka telah keluar dari fondasi yang telah dibangun oleh para pendiri bangsa.

Sebelumnya, Menag Yaqut menuai kontroversi dengan menyebut Kemenag merupakan hadiah negara untuk NU. Ia berkata NU berhak atas posisi di Kemenag karena jasa dalam penghapusan 7 kata Piagam Jakarta.

"Kemenag itu hadiah untuk NU, bukan umat Islam secara umum, tapi spesifik untuk NU. Saya rasa wajar kalau sekarang NU memanfaatkan banyak peluang di Kemenag karena hadiahnya untuk NU," klaim Yaqut, disiarkan kanal YouTube TVNU Rabu (20/10/2021) lalu.

Topik
Nahdlatul Ulama Muhammadiyah Menteri Agama Kementerian Agama Yaqut Cholil Qoumas

Berita Lainnya