JATIMTIMES — Libur panjang Tahun Baru Imlek 2026 mendorong lonjakan mobilitas masyarakat di Jawa Timur. Pada hari pertama periode libur, Sabtu (14/2/2026) wilayah PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 8 Surabaya mencatat 42.668 penumpang memadai stasiun-stasiun kereta api.
Angka itu naik sekitar 25 persen dibanding rata-rata akhir pekan biasa. Lonjakan ini menjadi indikator meningkatnya pergerakan warga sekaligus aktivitas ekonomi selama momentum libur panjang.
Baca Juga : Tujuh Dapur MBG di Kota Malang Kena Tegur, Pemkot Tegaskan Wajib Ikuti HET Bapanas
Dari total tersebut, 21.132 penumpang berangkat dari stasiun-stasiun di wilayah Daop 8 Surabaya. Sementara 21.536 penumpang tiba. Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah hingga keberangkatan terakhir pada malam hari.
Mobilitas tertinggi tercatat di Stasiun Surabaya Gubeng dengan 7.071 penumpang berangkat dan 5.855 tiba. Disusul Stasiun Surabaya Pasar Turi yang melayani 6.103 penumpang naik dan 6.693 turun, serta Stasiun Malang dengan 3.417 penumpang berangkat dan 3.563 tiba.
Secara kumulatif selama periode 13–17 Februari 2026, Daop 8 Surabaya diproyeksikan melayani 161.099 pelanggan. Tingginya angka tersebut memperlihatkan peran kereta api sebagai tulang punggung transportasi jarak menengah dan jauh, terutama menuju kota-kota tujuan wisata dan bisnis seperti Yogyakarta, Jakarta, Semarang, Bandung, hingga Ketapang.
Manajer Humas KAI Daop 8 Surabaya, Mahendro Trang Bawono menyebut peningkatan ini sudah terlihat sejak beberapa hari sebelum libur dimulai. “Permintaan tiket meningkat signifikan. Kami memastikan operasional tetap berjalan aman dan tepat waktu untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Untuk mengantisipasi lonjakan, Daop 8 Surabaya mengoperasikan 55 perjalanan kereta api per hari dengan kapasitas sekitar 29 ribu tempat duduk. Ketersediaan tiket untuk sejumlah relasi masih tersedia.
Baca Juga : Kenapa Imlek Sering Turun Hujan di Indonesia? Ini Penjelasan Ilmiah dan Makna di Baliknya
Lonjakan mobilitas ini tak hanya mencerminkan tradisi mudik dan liburan keluarga saat Imlek, tetapi juga menggambarkan meningkatnya kepercayaan publik terhadap transportasi rel berbasis jadwal dan kapasitas besar di tengah momentum libur nasional.
