Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Ahmad Al Misry Bantah Tuduhan Cabuli Santri, Pendamping Korban Ungkap Trauma

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Dede Nana

23 - Apr - 2026, 10:29

Placeholder
Syekh Ahmad Al Misry saat memberikan klarifikasi. (Foto: tangkapan layar Instagram)

JATIMTIMES - Syekh Ahmad Al Misry buka suara terkait tuduhan pencabulan terhadap santri sesama pria yang ramai beredar di publik. Ia menjelaskan kabar tersebut tidak benar dan meminta pihak yang menyebarkan tuduhan untuk membuktikannya.

Dalam pernyataannya, Ahmad Al Misry mengawali dengan mengingatkan pentingnya tabayun atau verifikasi dalam menerima informasi, sebagaimana ajaran dalam Islam.

Baca Juga : Proses Pengangkatan Anaknya Jadi Kadis LH Disorot, Bupati Malang: Tidak Ada Aturan yang Dilanggar!

“Saudara-saudaraku, dalam Islam kita diajarkan untuk tidak mudah menyebarkan setiap berita yang kita dengar tanpa kita cek terlebih dahulu kebenarannya,” ujar Ahmad Al Misry, dikutip melalui akun Instagram pribadinya, Kamis (23/4/2026).

Ahmad Al Misry juga membantah tuduhan pelecehan yang ditujukan kepadanya. Ia menyebut tudingan tersebut sebagai fitnah yang tidak berdasar.

“Yang kedua, tuduhan terhadap pelecehan kepada santri itu tidak benar adanya. Maka mohon teliti, karena bukti-bukti yang saya punya sudah saya serahkan kepada kuasa hukum saya untuk menyerahkannya kepada pihak yang berwenang. Dan juga ada saksi-saksinya,” katanya.

Ia juga menjelaskan posisinya dalam proses hukum. Menurutnya, ia dipanggil sebagai saksi, bukan tersangka.

“Dan Alhamdulillah, saya panggilan ini sebagai saksi, bukan sebagai tersangka, sebagaimana dibayangkan atau disebarkan oleh banyak orang,” ujarnya.

Dalam klarifikasinya, Ahmad Al Misry memaparkan kronologi keberadaannya di luar negeri. Ia menyebut telah berada di Mesir sejak pertengahan Maret 2026.

“Saya, Syekh Ahmad Al-Misri, berangkat ke Mesir pada tanggal 15 Maret 2026 dan saya tiba di Mesir tanggal 16 Maret 2026 karena mendampingi ibunda yang sedang sakit dan menjalani operasi pada tanggal 17 Maret 2026,” jelasnya.

Ia menambahkan, panggilan pemeriksaan dari kepolisian baru diterima saat dirinya sudah berada di Mesir selama beberapa waktu.

“Dan saya mendapatkan panggilan pada tanggal 30 Maret 2026. Maka panggilan datang sesudah saya berada di Mesir kurang lebih sekitar 15 hari,” lanjutnya.

Tak hanya membantah, Ahmad Al Misry juga menantang pihak yang menyebarkan tuduhan untuk menunjukkan bukti. Sebelumnya, perwakilan korban Habib Mahdi menyebutkan jika modus pelaku dengan membawa-bawa nama Nabi Muhammad hingga Imam Syafi'i. 

“Dan saya minta kepada ustadz yang menyebarkan informasi tersebut, atau fitnah, atau tuduhan tersebut, walaupun satu video dimana saya berfatwa demikian. Demi Allah, saya tidak pernah berfatwa dengan hal demikian dan ini adalah fitnah yang sangat kejam yang disebarluaskan di banyak medsos," tegasnya.

Ia juga menyinggung pihak-pihak yang mengaku mengenalnya, namun menurutnya tidak pernah berinteraksi langsung.

"Orang-orang tersebut tidak pernah berjumpa dengan saya, bertemu saya sekalipun, berkomunikasi lewat WA juga tidak pernah. Dan disayangkan banyak dai-dai yang menyebarluaskan fitnah-fitnah tersebut tanpa tabayyun kepada saya padahal nomor kontak saya ada sama mereka," ungkapnya.

Baca Juga : Marak Penipuan Jemaah Haji, Modus Update Data Berujung Rekening Terkuras

Di sisi lain, Habib Mahdi mengungkap pengalaman saat mencoba mendampingi para korban. Menurut dia, pendekatan kepada korban tidak mudah. Trauma yang dialaminya membuat mereka kehilangan kepercayaan, termasuk terhadap figur tokoh agama.

Saat mendatangi salah satu korban di Purbalingga, Mahdi mengaku sempat mendapat penolakan. Korban bahkan enggan berbicara karena sudah terlanjur kecewa.

"Dia bilang, 'Anda Ustaz? Saya nggak respek sama Anda. Udah nggak usah ngebahas masalah apa pun'. Itu kita ngeyakinin bukan satu dua jam, lima jam saya yakinin sampai tengah malam baru dia mau bercerita," kata Mahdi, dikutip YouTube HepiNews, Kamis (23/4/2026).

Situasi yang lebih berat, lanjut Mahdi, ia temui di wilayah Bogor. Korban disebut mengalami tekanan psikologis yang sangat dalam hingga bereaksi histeris saat pertama kali bertemu.

Pengalaman pelecehan yang dialami, termasuk dengan modus pemeriksaan fisik, disebut meninggalkan luka batin. 

"Dia histeris ngelihat saya. Bahkan dia bilang, 'Saya tuh sudah nggak percaya sama Ustaz. Bahkan saya tuh sudah berpikir untuk murtad!'" ujar Mahdi menirukan pernyataan korban.

Tak hanya santri usia muda, Mahdi juga mengungkap adanya korban dewasa yang mengalami kejadian serupa. Ia menceritakan seorang korban berusia 24 tahun yang datang dengan harapan mendapat nasihat terkait rencana pernikahannya.

Namun, alih-alih mendapatkan bimbingan, korban justru mengalami perlakuan tidak pantas. Dengan dalih pemeriksaan agar tidak mengecewakan sang istri, pelaku disebut melakukan tindakan yang melanggar batas.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kasus yang menyeret nama pendakwah asal Mesir, Syekh Ahmad Al Misry alias SAM, sebelumnya mencuat setelah adanya laporan dugaan pelecehan seksual terhadap sejumlah santri. Laporan tersebut diajukan ke Bareskrim Polri pada Kamis, 12 Maret 2026.

Selama ini, sosok Ahmad Al Misry dikenal sebagai salah satu juri dalam program hafiz Al-Qur’an yang tayang di televisi swasta.


Topik

Peristiwa syekh ahmad al misry pencabulan ahmad al misry



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Dede Nana