JATIMTIMES - Ibadah haji menempati posisi yang sangat tinggi dalam ajaran Islam karena termasuk salah satu rukun yang wajib ditunaikan bagi yang mampu. Pelaksanaannya bukan hanya perjalanan menuju Tanah Suci, melainkan juga proses pembinaan diri yang sarat dengan keikhlasan, kesabaran, serta pengorbanan lahir dan batin. Dari sini, haji tidak sekadar dipahami sebagai ritual, tetapi sebagai momentum perubahan spiritual yang mendalam.
Dalam banyak penjelasan ulama, haji yang mencapai derajat mabrur adalah haji yang diterima oleh Allah SWT. Ibadah ini dijalankan sesuai tuntunan, disertai niat yang bersih, dan membuahkan perubahan sikap setelah kembali. Seseorang yang meraih haji mabrur akan terlihat dari perilakunya yang lebih baik, lebih menjaga hubungan dengan sesama, serta semakin dekat kepada Allah.
Baca Juga : Bupati Malang Lepas Kloter 14 Dari Total 1.637 Jemaah Haji, Turut Doakan Jadi Haji Mabrur
Keutamaan haji mabrur digambarkan sangat besar, bahkan dalam hadits disebut memiliki nilai yang sebanding dengan jihad di jalan Allah. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah RA:
“Wahai Rasulullah, apakah kami tidak ikut berjihad bersama kalian?” Beliau menjawab, “Tidak, jihad kalian adalah haji mabrur, dan itu merupakan jihad bagi kalian.” (HR Ahmad).
Riwayat lain juga menegaskan kedudukan tersebut, "Kami memandang jihad sebagai amal paling utama. Apakah kami boleh berjihad?” Rasulullah bersabda, “Namun jihad yang paling utama adalah haji mabrur.” (HR Bukhari).
Penyebutan haji mabrur sebagai jihad bukan tanpa alasan. Dalam penjelasan para ulama, hal ini menunjukkan besarnya pahala dan kemuliaan ibadah haji. Terutama bagi kaum perempuan yang tidak diwajibkan ikut dalam peperangan, haji menjadi bentuk perjuangan spiritual yang nilainya setara dengan jihad.
Di sisi lain, jihad fi sabilillah memang merupakan amalan yang sangat agung, tetapi tidak semua orang mampu melaksanakannya. Jihad menuntut kesiapan fisik, mental, serta harta yang tidak sedikit. Pada masa Rasulullah SAW, tidak sedikit sahabat yang ingin ikut berjihad namun terhalang oleh keterbatasan tersebut.
Baca Juga : Malang Tuan Rumah NWF Ke-5, Ajang Bergengsi Cetak Ide Inovatif Anak Bangsa
Kondisi ini juga dirasakan oleh para sahabiyah yang tidak memiliki kewajiban turun ke medan perang. Karena itu, haji menjadi bentuk ibadah yang Allah berikan sebagai jalan meraih keutamaan yang serupa. Melalui haji, seorang muslim tetap dapat menapaki jalan pengorbanan dan kesungguhan dalam beribadah.
Kesetaraan antara haji mabrur dan jihad bukan berarti keduanya sama dalam bentuk, melainkan dalam nilai pahala dan kemuliaannya di sisi Allah. Haji mabrur menjadi bukti bahwa setiap muslim memiliki kesempatan untuk meraih derajat tinggi melalui ibadah yang dijalankan dengan sungguh-sungguh, penuh keikhlasan, dan berdampak pada perubahan diri yang lebih baik.
Artikel ini diolah dengan merujuk pada sejumlah sumber literatur keislaman yang kredibel, di antaranya penjelasan dalam Syarah Riyadhus Shalihin yang mengulas hadits-hadits tentang keutamaan haji mabrur, serta riwayat hadits sahih dari Imam Ahmad dan Imam Bukhari yang menjadi landasan utama dalam memahami kedudukan haji sebagai amalan yang setara dengan jihad. Selain itu, pemaparan juga diperkaya dengan rujukan dari Ibadah Haji: Rukun Islam Kelima yang memberikan perspektif tambahan mengenai makna, syarat, serta nilai spiritual ibadah haji dalam kehidupan seorang muslim.
