Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Heboh Dugaan Riset Palsu demi Jalan-Jalan ke Eropa, Pemerintah dan Kampus Buka Suara

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

28 - May - 2026, 19:57

Placeholder
Kolase foto diduga pelaku melakukan pemalsuan identitas riset palsu. (Foto: Threads)

JATIMTIMES - Dugaan praktik pemalsuan riset oleh sejumlah warga negara Indonesia dalam konferensi ilmiah internasional di Denmark tengah jadi sorotan. Kasus ini ramai dibicarakan di media sosial setelah muncul tudingan adanya penelitian fiktif hingga dugaan manipulasi identitas demi memperoleh fasilitas perjalanan ke luar negeri.

Kasus tersebut terjadi dalam ajang International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang digelar di Kopenhagen, Denmark.

Baca Juga : Masih Ada Peluang! Ini 11 PTN yang Buka Jalur Mandiri Pakai Nilai UTBK 2026

Perbincangan mulai ramai usai akun Threads milik ilmuwan iklim Ida Bagus Mandhara Brasika mengungkap sejumlah kejanggalan yang diduga dilakukan peserta asal Indonesia di hadapan ribuan peneliti dunia. Dalam unggahannya, ia menyoroti adanya dugaan pemalsuan identitas saat presentasi berlangsung.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisasi. Salah seorang peserta diduga berganti identitas saat presentasi, termasuk mengganti nama, jilbab, dan nametag," tulis akun @mandharabrasika.

Tak hanya itu. Riset yang dipresentasikan juga diduga merupakan hasil fabrikasi. Para peserta disebut memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membuat data, gambar, hingga isi penelitian ilmiah.

Kejanggalan lain muncul dari lokasi penelitian yang tersebar di berbagai negara, mulai dari Peru, Etiopia, Sudan Selatan, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Nepal, India Utara, Kenya, hingga Malawi.

Namun, seluruh tim peneliti disebut hanya berasal dari Indonesia tanpa melibatkan kolaborator lokal dari negara-negara tersebut.

Selain itu, penelitian yang dipresentasikan disebut tidak mencantumkan persetujuan etik atau ethical clearance, yang seharusnya menjadi syarat penting dalam penelitian ilmiah.

Dugaan modus tersebut dilakukan agar peserta bisa memperoleh travel grant atau bantuan biaya perjalanan untuk menghadiri konferensi internasional secara gratis.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Brian Yuliarto angkat bicara terkait polemik tersebut. "Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," kata Brian, Kamis (28/5/2026).

Brian mengatakan  kementerian masih melakukan pendalaman bersama berbagai pihak untuk memastikan fakta sebenarnya, termasuk mengecek status peserta hingga keterkaitan mereka dengan institusi pendidikan atau lembaga penelitian di Indonesia.

Baca Juga : Gerakan Minum Jamu Bersama di FSTem UB Jadi Upaya Lestarikan Herbal Tradisional Nusantara

Meski begitu, Brian meminta publik melihat kasus ini secara proporsional. Ia menegaskan banyak peneliti Indonesia yang tetap bekerja profesional dan menjaga integritas akademik. "Karena itu, kasus yang melibatkan segelintir pihak tidak boleh menutupi capaian dan kerja keras komunitas ilmiah Indonesia secara keseluruhan," ungkapnya.

Ia juga menyebut pihak-pihak yang diduga terlibat belum terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. "Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia," ujarnya.

Brian menjelaskan, penelitian resmi di lingkungan perguruan tinggi memiliki mekanisme pengawasan ketat sejak tahap proposal hingga evaluasi akhir. "Sejak tahap pengajuan proposal, penelitian melalui proses reviu bertingkat, mulai dari LPPM hingga tim reviewer Kemdiktisaintek. Pada tahap pelaksanaan, laporan kemajuan dan laporan akhir juga dievaluasi dan dimonitoring," ucap Brian.

Sementara itu, dua nama yang disebut dalam polemik ini adalah Rifaldy Fajar dan Prihantini. Keduanya diketahui tercatat sebagai alumni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Wakil Rektor Bidang Akademik UNY Nur Hidayanto membenarkan bahwa nama keduanya ada dalam basis data alumni kampus. Pihak kampus juga telah menghubungi Prihantini untuk meminta klarifikasi terkait isu yang beredar. Dalam komunikasi tersebut, Prihantini disebut menyampaikan permintaan maaf atas kegaduhan yang menyeret nama kampus.

Menurut Nur, Prihantini juga menyebut ada miskonsepsi yang berkembang cepat di media sosial tanpa konfirmasi langsung kepada dirinya. Prihantini merasa informasi yang tersebar di media sosial tidak sepenuhnya benar.

Sementara untuk Rifaldy Fajar, pihak UNY mengaku belum berhasil menghubungi karena nomor yang bersangkutan belum dapat tersambung.


Topik

Peristiwa Riset palsu jalam-jalan ke Eropa kampus



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy