Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ekonomi

Jika Dolar Tembus Rp 20 Ribu, Pakar Beberkan Dampaknya ke Gaji, KPR hingga Harga Barang

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Yunan Helmy

04 - Jun - 2026, 19:21

Placeholder
Ilustrasi pecahan uang rupiah dan dolar. (Foto: Shutterstock)

JATIMTIMES - Nilai tukar rupiah yang terus menjadi perhatian publik memunculkan berbagai spekulasi mengenai kemungkinan dolar Amerika Serikat (AS) bisa menembus level Rp 20.000. Jika skenario tersebut benar-benar terjadi, dampaknya diperkirakan akan terasa hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat.

Certified Business Coach, Ferry Dafira, melalui akun Instagram pribadinya menjelaskan sejumlah konsekuensi yang berpotensi muncul apabila dolar AS menyentuh angka Rp 20.000 per dolar.

Baca Juga : Distribusikan Minyakita ke Pasar Pantauan, Disperindag Tulungagung Pastikan Stok Aman

Menurut Ferry, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku bisnis atau investor, tetapi juga masyarakat umum melalui kenaikan harga kebutuhan pokok hingga menurunnya daya beli.

"Kalau dolar tembus Rp 20.000, dampaknya bisa terasa ke banyak hal. Harga barang pokok bisa naik, nilai gaji terasa makin kecil, cicilan KPR bisa makin berat, pabrik bisa tertekan, modal asing bisa keluar, sampai pasar saham ikut merah," ujarnya.

Meski demikian, Ferry mengingatkan masyarakat agar tidak langsung panik menghadapi berbagai kemungkinan tersebut. "Tapi bukan berarti harus panik. Yang penting, mulai lebih sadar kondisi keuangan, jaga cashflow, siapkan dana darurat, kurangi utang konsumtif, dan pilih aset yang lebih aman," lanjutnya.

Berikut ini beberapa dampak yang bisa terjadi jika nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar hingga Rp 20.000, dilansir dari pandangan Ferry Dafira:  

1. Harga Barang Pokok Berpotensi Naik

Salah satu dampak paling cepat dirasakan masyarakat adalah kenaikan harga barang kebutuhan sehari-hari.

Hal itu karena Indonesia masih bergantung pada berbagai bahan baku impor yang transaksinya menggunakan dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan pada akhirnya memengaruhi harga jual di dalam negeri. Mulai dari kedelai untuk produksi tahu dan tempe, gandum untuk mi instan dan roti, hingga berbagai komponen elektronik seperti ponsel dan laptop masih banyak bergantung pada impor.

Akibatnya, jika dolar semakin mahal, harga barang-barang tersebut berpotensi ikut terkerek naik.

2. Gaji Tetap, tapi Daya Beli Menurun

Ferry menjelaskan, pelemahan rupiah juga bisa membuat masyarakat merasa penghasilannya semakin kecil meskipun nominal gaji tidak berubah. Pasalnya, uang yang sebelumnya cukup untuk memenuhi berbagai kebutuhan bisa jadi hanya cukup untuk membeli kebutuhan pokok.

"Meskipun angka di slip gaji bulanan Anda tidak berkurang sedikit pun, daya belinya akan terasa jauh berbeda. Uang yang biasanya cukup untuk belanja bulanan penuh dan jajan, sekarang hanya habis untuk membeli kebutuhan pokok saja," jelasnya.

Menurut Ferry, kondisi tersebut membuat masyarakat merasa seolah-olah nilai uang yang dimiliki menyusut karena jumlah barang yang dapat dibeli menjadi lebih sedikit.

3. Cicilan KPR Bisa Ikut Membengkak

Dampak lainnya berpotensi dirasakan oleh masyarakat yang memiliki kredit rumah maupun pinjaman berbunga mengambang (floating rate). Untuk menjaga stabilitas rupiah, Bank Indonesia biasanya merespons tekanan nilai tukar dengan menaikkan suku bunga acuan.

Jika hal itu terjadi, bank-bank komersial umumnya akan ikut menaikkan bunga pinjaman.

"Jadi kalau cicilan rumah Anda memakai bunga floating, jumlah cicilan per bulannya bisa ikut naik dan terasa lebih berat," ungkap Ferry.

Tidak hanya KPR, kredit usaha dan berbagai jenis pinjaman lain juga berpotensi mengalami kenaikan biaya.

4. Pabrik dan Dunia Usaha Tertekan

Pelemahan rupiah juga dapat menjadi tantangan besar bagi sektor industri, terutama perusahaan yang masih mengandalkan mesin, bahan baku, atau peralatan dari luar negeri.

Kenaikan biaya impor membuat ongkos produksi meningkat.

Dalam kondisi tertentu, perusahaan bisa mengambil langkah efisiensi untuk menjaga kelangsungan usaha.

"Kalau kondisi makin berat, perusahaan bisa mengurangi produksi atau bahkan mulai melakukan PHK karyawan," jelas Ferry.

Situasi ini tentu berpotensi memengaruhi sektor ketenagakerjaan apabila berlangsung dalam jangka panjang.

Baca Juga : Raup Untung Miliaran Rupiah per Hari, Berikut Sederet Dugaan Korupsi Eks Pimpinan BGN

5. Investor Asing Berpotensi Tarik Dana

Ferry juga menyoroti potensi keluarnya modal asing dari Indonesia jika nilai tukar rupiah terus mengalami tekanan.

Menurutnya, investor asing cenderung mencari instrumen yang dianggap lebih aman ketika ketidakpastian meningkat.

"Saat Rupiah terus melemah, investor asing biasanya mulai takut menyimpan uangnya di Indonesia. Mereka memilih menarik uangnya lalu mengubahnya kembali ke Dolar yang dianggap lebih kuat dan aman," katanya.

Ketika dana asing keluar dalam jumlah besar, pasokan dolar di dalam negeri bisa semakin terbatas sehingga tekanan terhadap rupiah menjadi lebih besar.

6. IHSG Berisiko Terkoreksi

Arus keluar modal asing juga berpotensi berdampak langsung terhadap pasar modal Indonesia.

Ferry menjelaskan bahwa aksi jual investor asing secara besar-besaran dapat menyebabkan harga saham mengalami penurunan.

"Saat banyak investor asing ramai-ramai menarik uangnya, pasar saham Indonesia atau IHSG bisa langsung turun drastis. Saham perusahaan besar dijual besar-besaran secara bersamaan, sehingga harganya ikut jatuh," ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut sering kali menjadi sinyal bahwa pasar sedang merespons tekanan ekonomi yang meningkat.

Apakah Akan Separah Krisis 1998?

Meski berbagai dampak di atas terdengar mengkhawatirkan, Ferry menilai kondisi saat ini belum tentu akan berujung seperti krisis ekonomi 1998.

Ia menjelaskan bahwa karakter tekanan ekonomi saat ini berbeda dengan yang terjadi pada akhir dekade 1990-an.

"Walau kondisi ekonomi terlihat menegangkan, situasi diperkirakan tidak separah krisis 1998. Dulu semuanya runtuh sangat cepat dan bikin kepanikan besar, ekonomi jatuh seketika," katanya.

"Sementara sekarang, pelemahannya terjadi lebih pelan sehingga masyarakat dan perbankan masih punya waktu untuk beradaptasi," imbuhnya.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan?

Menghadapi potensi pelemahan rupiah, Ferry menyarankan masyarakat mulai memperkuat kondisi keuangan pribadi.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain memindahkan sebagian dana ke aset yang dianggap lebih aman, mengurangi utang konsumtif, serta menyiapkan dana darurat.

"Bisa pindah ke emas, reksadana Dolar, saham eksportir, atau aset lain yang lebih tahan saat Rupiah melemah," sarannya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tidak tergesa-gesa membeli dolar hanya karena panik melihat pergerakan nilai tukar.

"Hindari ambil cicilan baru saat bunga bank naik, dan kalau bisa mulai kurangi utang dari sekarang. Pegang cash secukupnya buat jaga-jaga, tetap tenang, dan jangan panik ikut beli Dolar saat harganya sudah tinggi," pungkas Ferry. 


Topik

Ekonomi Nilai tukar rupiah rupiah dolar dolar AS



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Yunan Helmy

Ekonomi

Artikel terkait di Ekonomi