Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Pendidikan

Sampah Dapur Tak Selalu Berakhir di TPA, Dosen Unikama Ungkap Cara Simpel Olah Sampah Organik

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Yunan Helmy

05 - Jun - 2026, 18:53

Placeholder
Dosen Peternakan Unikama Dr Ir Tri Ida Wahyu Kustyorini SPt MP IPM ASEAN Eng. (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Persoalan sampah organik masih menjadi tantangan yang belum terselesaikan di banyak daerah. Di tengah meningkatnya volume limbah rumah tangga, restoran, pasar tradisional hingga pelaku usaha makanan, sebagian besar sisa makanan masih dipandang sebagai barang buangan yang harus segera disingkirkan. Padahal, di balik tumpukan limbah tersebut, tersimpan potensi ekonomi yang kerap terabaikan.

Dosen Fakultas Peternakan Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) Dr Ir Tri Ida Wahyu Kustyorini SPt MP IPM ASEAN Eng menilai pendekatan terhadap limbah organik perlu bergeser dari sekadar persoalan kebersihan menuju pemanfaatan sumber daya. Menurut dia, banyak limbah makanan yang sebenarnya masih dapat diolah menjadi produk bermanfaat, baik sebagai pakan ternak maupun pupuk.

Baca Juga : Peringati Hari Lingkungan Hidup, Mahasiswa Hukum UWG Belajar Krisis Iklim di Sumber Jenon

Pandangan tersebut berangkat dari pengamatannya terhadap praktik pengelolaan limbah di sejumlah hotel berbintang. Selama ini, sebagian limbah makanan dari sektor perhotelan telah dimanfaatkan melalui kerja sama dengan pihak ketiga. Ada yang diolah menjadi pupuk, ada pula yang dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Namun, tingginya volume limbah yang dihasilkan menunjukkan peluang pengembangan yang masih sangat terbuka.

"Produksi limbah makanan itu cukup tinggi. Karena itu, potensinya juga besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk olahan, baik pupuk maupun pakan ternak," ujar Tri Ida, Jumat (5/6/2026).

Ia menjelaskan, salah satu tantangan utama dalam pengelolaan limbah makanan terletak pada keragaman material yang terkandung di dalamnya. Sisa makanan dari restoran maupun rumah tangga umumnya terdiri atas berbagai jenis bahan dengan karakteristik berbeda. Tidak jarang pula terdapat kontaminasi bakteri atau zat lain yang berpotensi menurunkan kualitas bahan jika langsung dimanfaatkan.

Karena itu, fermentasi menjadi salah satu metode yang dinilai paling relevan diterapkan masyarakat. Selain relatif sederhana, teknik tersebut mampu meningkatkan kualitas bahan sekaligus menekan risiko kontaminasi.

"Fermentasi dilakukan bukan sekadar untuk mengawetkan bahan. Metode ini juga membantu menekan cemaran dan memperbaiki kualitas limbah sebelum dimanfaatkan lebih lanjut," katanya.

Menurut Tri Ida, penerapan fermentasi tidak memerlukan teknologi yang rumit maupun investasi besar. Masyarakat dapat memanfaatkan bahan-bahan yang selama ini juga dianggap limbah, seperti air cucian beras, air kelapa, dedak, bekatul hingga tetes tebu sebagai pendukung proses fermentasi.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa konsep pemanfaatan limbah sebenarnya dapat dimulai dari skala yang sangat kecil. Tidak hanya berlaku di hotel berbintang atau industri besar, metode serupa dapat diterapkan di rumah tangga, warung makan, kantin, hingga usaha kuliner berskala mikro.

Lebih jauh, ia melihat potensi pemanfaatan limbah organik juga sangat besar di pasar tradisional. Setiap hari pasar menghasilkan sisa sayuran, buah-buahan maupun bahan pangan lain dalam jumlah besar. Jika tidak dikelola, limbah tersebut berpotensi menimbulkan pencemaran lingkungan dan meningkatkan beban tempat pembuangan akhir.

Baca Juga : Puluhan SPPG di Malang Raya Kena Suspend, GAPEMBI Desak Mitra Segera Benahi Standar Operasional

Di sisi lain, bahan-bahan tersebut sebenarnya masih memiliki kandungan nutrisi yang dapat dimanfaatkan. Dengan proses pengolahan yang tepat, limbah pasar dapat menjadi sumber bahan baku untuk pakan ternak maupun pupuk organik.

"Kami sering menemukan pelaku usaha yang menghasilkan limbah hingga satu sampai dua kuintal per hari. Kalau tidak diolah tentu menjadi masalah lingkungan. Tetapi ketika diolah dengan benar, justru bisa memberikan nilai tambah secara ekonomi," ungkapnya.

Proses fermentasi sendiri membutuhkan waktu yang relatif singkat. Untuk limbah berbasis nasi atau roti, pengolahan dapat selesai dalam waktu sekitar tujuh hari. Sementara bahan yang didominasi hijauan atau sayuran memerlukan waktu lebih panjang, berkisar hingga dua minggu.

Bagi Tri Ida, persoalan limbah organik tidak semata berkaitan dengan pengurangan sampah. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap ekonomi sirkular, limbah seharusnya dipandang sebagai sumber daya yang masih memiliki siklus manfaat berikutnya. Perspektif inilah yang dinilai penting untuk terus diperkuat, terutama di tingkat rumah tangga yang menjadi salah satu penyumbang utama sampah organik setiap hari.

"Kalau limbah itu langsung dibuang, nilainya berhenti sebagai sampah. Tetapi ketika diolah menjadi pakan ternak atau pupuk, ada manfaat ekonomi dan lingkungan yang bisa diperoleh secara bersamaan," tegasnya.


Topik

Pendidikan Unikama sampah dapur olah sampah organik



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Yunan Helmy

Pendidikan

Artikel terkait di Pendidikan