JATIMTIMES – Peluang ekspor komoditas pertanian Indonesia ke pasar internasional kembali terbuka setelah perusahaan pangan multinasional asal Belanda, ILG Food Group B.V., menyatakan ketertarikannya terhadap pengembangan industri pengolahan singkong Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pasar global. Ketertarikan tersebut muncul dalam rangkaian pertemuan antara Universitas Islam Malang (Unisma) dan ILG Food Group B.V. di Enschede, Belanda, belum lama oni.
Minat perusahaan yang memiliki jaringan distribusi pangan di berbagai negara Eropa itu dinilai menjadi sinyal kuat bahwa komoditas pertanian Indonesia masih memiliki ruang besar untuk berkembang di pasar internasional, terutama jika didukung hilirisasi industri, peningkatan kapasitas produksi, dan penguatan rantai pasok dari tingkat petani hingga pasar ekspor.
Baca Juga : Kejurnas Tenis Beregu Piala Ketua MA RI 2026 Resmi Dibuka di Malang, Diikuti Lebih dari Seribu Atlet
Dalam komunikasi lanjutan setelah pertemuan, Founder dan Owner ILG Food Group B.V., Mr. Abed Ichoh, menanyakan kemungkinan ketersediaan fasilitas maupun mitra industri pengolahan singkong dengan kapasitas produksi sekitar 100 ton per bulan. Kebutuhan tersebut membuka peluang kolaborasi yang tidak hanya berorientasi pada perdagangan, tetapi juga mendorong penguatan sektor pertanian dan industri pangan nasional.

Kunjungan Unisma ke ILG Food Group B.V. dipimpin langsung Rektor Unisma Prof. Drs. Junaidi Mistar, M.Pd., Ph.D., bersama Ketua Umum Yayasan UNISMA Prof. Dr. Ir. Agus Sugianto, S.T., M.P., Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum, Sumber Daya Manusia, dan Keuangan Dr. H. Ronny Malavia Mardani, S.E., M.M., MOS, serta Ketua Lembaga Urusan Internasional Dr. Imam Wahyudi Karimullah, S.S., M.A.
Delegasi diterima langsung oleh Mr. Abed Ichoh dan Senior Buyer ILG Food Group B.V., Mr. Peter Aaftink. Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kerja sama yang mencakup perdagangan internasional, ekspor-impor, pengembangan startup, hilirisasi produk unggulan Indonesia, hingga strategi penguatan ketahanan pangan global.
Sebagai perusahaan importir dan distributor pangan dengan jaringan bisnis lintas negara di Eropa, ILG Food Group B.V. selama ini berperan menghubungkan produsen, eksportir, distributor, pasar grosir, hingga ritel. Posisi tersebut menjadikan perusahaan ini sebagai mitra strategis dalam membuka akses pasar bagi produk-produk unggulan Indonesia yang berpotensi bersaing di tingkat internasional.
Di tengah pembahasan tersebut, Unisma juga memperkenalkan gagasan pembentukan International Start-Up and Export Import Hub, sebuah pusat pengembangan kewirausahaan internasional yang dirancang untuk mempertemukan mahasiswa, dosen, alumni, investor, pelaku usaha, serta mitra industri global dalam satu ekosistem kolaboratif.
Pusat pengembangan tersebut diharapkan menjadi wadah lahirnya startup berbasis inovasi sekaligus pusat penguatan perdagangan internasional yang mampu menghubungkan produk unggulan Indonesia dengan pasar dunia. Program ini menjadi bagian dari langkah transformasi Unisma menuju Entrepreneurial University yang berorientasi pada penciptaan nilai ekonomi melalui inovasi dan kolaborasi global.
Rektor Unisma Prof. Junaidi Mistar menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran lebih luas daripada sekadar menghasilkan lulusan yang unggul secara akademik.
"Kami ingin membangun ekosistem yang mempertemukan pendidikan, penelitian, inovasi, dan kewirausahaan. International Start-Up and Export Import Hub menjadi salah satu milestone penting dalam perjalanan Unisma menuju Entrepreneurial University dan World Class University," ujarnya.
Baca Juga : Dinas Cipta Karya Imbau Warga Lapor Jika Terdampak Pembangunan Perumahan
Peluang kerja sama dengan ILG Food Group B.V. juga dinilai sejalan dengan pengembangan Food Security Project yang saat ini dijalankan Unisma bersama Madonna University Nigeria dan SBDI Center Foundation Netherlands. Program internasional tersebut berfokus pada penguatan ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, serta hilirisasi komoditas pangan bernilai ekonomi tinggi.
Ketertarikan pasar Eropa terhadap singkong Indonesia menunjukkan bahwa isu ketahanan pangan tidak lagi berhenti pada aspek produksi semata. Nilai tambah produk, pengolahan pascapanen, akses pasar, serta integrasi dengan industri global kini menjadi faktor penting dalam membangun sistem pangan yang berkelanjutan.
Menurut Prof. Junaidi Mistar, keterhubungan antara sektor pendidikan, riset, industri, dan masyarakat menjadi kunci untuk menjawab tantangan tersebut.
"Kolaborasi ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat menjadi katalis yang mempertemukan inovasi, riset, masyarakat, dan dunia usaha. Ketahanan pangan tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga tentang bagaimana hasil produksi tersebut memiliki nilai tambah, akses pasar, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," katanya.
Selain membahas peluang ekspor produk pangan, kedua pihak juga menjajaki sejumlah program lanjutan, antara lain magang internasional, business matching, pelatihan ekspor-impor, pendampingan UMKM berorientasi ekspor, pengembangan startup mahasiswa, serta promosi produk unggulan Indonesia di pasar Eropa.
Kerja sama yang sedang dirintis ini menjadi bagian dari misi internasional Unisma di Eropa untuk memperluas jaringan strategis dengan kalangan industri, perguruan tinggi, dan lembaga internasional. Di saat kebutuhan pangan dunia terus meningkat dan persaingan pasar global semakin ketat, kolaborasi tersebut diharapkan mampu membuka jalan bagi produk pertanian Indonesia untuk masuk ke rantai pasok internasional sekaligus memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pembangunan ekonomi berbasis inovasi dan ketahanan pangan global.
