free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Menggempur Hegemoni Pesisir: Perang Panembahan Hanyakrawati Melawan Kerajaan Surabaya

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Dede Nana

08 - Jul - 2025, 07:55

Placeholder
Lukisan realis ini menggambarkan Panembahan Hanyakrawati, Raja Mataram Islam yang memerintah pada tahun 1601–1613. (Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada paruh awal abad ke-17, Jawa diwarnai pertarungan panjang antara kerajaan agraris Mataram dengan federasi maritim Surabaya. Pusat-pusat pelabuhan pesisir, mulai Gresik, Sedayu, Jortan, hingga Pasuruan, berkelindan membangun poros dagang rempah Nusantara. 

Di jantung jaringan itu, Surabaya menjelma sebagai kekuatan dominan. Raja Surabaya mengendalikan aliran komoditas vital, memelihara relasi dagang dengan bangsa Eropa, dan membentangkan cengkeramannya hingga Borneo: Sukadana, Landak, bahkan Bawean di Laut Jawa.

Baca Juga : Mengintip Gaji Megawati di Manisa BBSK, Disebut Ada Fasilitas Mobil dan Apartemen Mewah di Pusat Kota Turki

Namun di pedalaman, muncul ambisi Panembahan Hanyakrawati, putra Panembahan Senapati, yang mewarisi visi politik Dinasti Mataram: mempersatukan seluruh Jawa. Dalam catatan Belanda, ia dijuluki “Kaisar Jawa”—gelar yang mencerminkan betapa besar pretensi kerajaannya menundukkan pusat-pusat perlawanan pesisir. 

Benturan antara Mataram dan Surabaya bukan sekadar penaklukan teritorial; di sana bertaut dendam sejarah, konflik spiritualitas, dan persaingan ideologi agraris melawan hegemoni maritim.

Kisah ini terekam rapi dalam catatan loji Belanda di Gresik, surat-surat Gubernur Kendal, hingga laporan pelayaran para nakhoda Belanda dan Portugis. Semua menggambarkan bagaimana Panembahan Hanyakrawati menyiapkan ekspedisi militer beruntun, memporak-porandakan lingkaran pertahanan Surabaya tanpa pernah benar-benar menaklukkannya secara frontal. Lika-liku ini menjadi panggung pergulatan antara pedalaman dan pesisir yang kelak mencapai puncaknya di masa Sultan Agung.

Hegemoni Pesisir Surabaya

Federasi pesisir Surabaya di awal abad ke-17 bukan sekadar koalisi longgar pelabuhan. Dalam laporan Artus Gijsels (1622) dan surat loji Belanda tertanggal 26 Mei 1610, tercatat bagaimana Surabaya menguasai Gresik, Jortan, Sedayu, hingga Pasuruan dan Blambangan. Valentijn (1724–1726) menguatkan, menulis bahwa raja Surabaya “menaklukkan negara ratu Landa(k) di Pulau Borneo dan sesudah itu mempertahankan kekuasaannya di sana.” Ini menandakan jaringan kekuasaan mereka tak berhenti di tepian pulau Jawa, tetapi menjalar hingga pesisir Borneo.

Pasuruan sendiri, menurut Babad Tanah Jawi (1939–1941), diperintah Adipati Pekik, putra Raja Surabaya. Hubungan kekeluargaan antara adipati-adipati pesisir mengokohkan federasi ini dari upaya dominasi pedalaman. Tidak jarang penguasa satu daerah absen di tempat, berpindah ke pos-pos strategis lain di jalur pantai. Fleksibilitas mobilitas laut menjadikan Surabaya lincah mengatur suplai beras, kayu, rempah, serta tenaga kerja budak.

Pengaruh Surabaya di pedalaman pun tidak kecil. De Graaf (2001: 136) mencatat, raja Surabaya mengangkat bupati di Japan, Wirasaba, Kediri. Kendati penunjukan ini kerap memicu friksi dengan pejabat lokal, tetap saja menggambarkan klaim Surabaya sebagai negara maritim yang ingin menembus jantung Jawa.

Yang menarik, kekuasaan Surabaya ke luar Jawa pun terkonfirmasi. Surat dari Gresik, 26 Mei 1610, melaporkan bagaimana Ratu Sukadana di Borneo, kala berselisih dengan orang Belanda soal pulau Karimata, justru mengadu ke Surabaya. Gubernur Kendal (Maret 1622) menegaskan bahwa Sukadana, Landak, bahkan Banjarmasin, pernah dianggap jajahan Surabaya. Bahasa Melayu Banjar kala itu pun sarat kosakata Jawa, menandakan intensitas hubungan budaya.

Lebih luas dari teritori politik, Surabaya juga memelihara jalur perdagangan Nusantara. Kapal-kapalnya berlayar lintas Malaka, Maluku, Banda, Ambon, hingga Solor. Seperti diakui Jan Pietersz Coen: “Yang satu kemari, yang lain ke sana dengan perahu-perahunya untuk mencari nafkah.” Dengan kata lain, Surabaya menguasai jantung ekonomi Nusantara.

Jejak persaingan hegemoni pesisir terekam detail berkat kantor dagang Belanda di Gresik, berdiri sejak 27 April 1602. Laksamana Jacob van Heemskerck mendarat pertama kali di Gresik, membuka pintu interaksi dagang Eropa dengan Surabaya. Disusul Wijbrand van Warwijck (25 November 1608), yang memohon sebidang tanah kepada Raja Surabaya untuk mendirikan loji. Raja Surabaya berjanji tak menarik bea cukai, asalkan Belanda tidak mengganggu Portugis—saingan lama yang juga menancapkan pengaruh di pelabuhan tersebut.

Kepala kantor, Dirck van Leeuwen, seorang ahli permata, cakap bergaul dengan bangsawan Jawa. Meski demikian, relasi Belanda–Surabaya kerap retak. Kapal Heemskerck pernah merampas armada Portugis di Gresik, memancing amarah raja. Di sinilah Gresik memainkan dua wajah: pelabuhan internasional nan kosmopolit, tetapi rapuh oleh intrik politik antara Surabaya, Mataram, Belanda, dan Portugis.

Surat-surat dari kantor dagang Gresik lebih banyak memuat laporan lalu lintas perdagangan rempah, hasil bumi, hingga kebutuhan logistik. Meski jarang menuliskan situasi politik secara gamblang, catatan ini menjadi petunjuk vital tentang manuver Mataram yang hendak menaklukkan federasi Surabaya. Dari Gresik pula, arus kabar peperangan mengalir hingga ke Batavia.

Ambisi Panembahan Hanyakrawati

Panembahan Hadi Hanyakrawati, terlahir sebagai Raden Mas Jolang, menjadi Raja kedua Mataram Islam berkat simpul nasab yang rapi menautkan garis Majapahit–Demak–Mataram. Jalur darahnya menegaskan betapa spiritualitas, karisma leluhur, dan jaringan priyayi menjadi sandaran utama legitimasi politik pada awal abad ke-17.

Trah Panembahan Hadi Hanyakrawati menelusur ke jantung spiritual Jawa. Jalur ini berpangkal pada Raden Bondhan Kejawan, putra Prabu Brawijaya V, yang menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub. Dari pasangan ini lahir Ki Ageng Getas Pendowo, leluhur Ki Ageng Selo, penakluk petir yang menanamkan reputasi kesaktian bagi Mataram.

Rantai silsilah ini bercabang melalui Rara Kasihan, saudari Getas Pendowo, yang menikah dengan Ki Ageng Ngerang I di Juwana. Dari mereka lahir Nyai Ageng Sela, yang kembali menaut dengan Ki Ageng Selo, melahirkan generasi penting: Ki Ageng Henis. Inilah mata rantai yang sering dilupakan. Ki Ageng Henis menjadi penjaga spiritual Kesultanan Pajang sebelum Mataram berdiri, menurunkan Ki Ageng Pamanahan, tokoh penakluk Alas Mentaok.

Dari Ki Ageng Pamanahan, trah ini bersambung ke Panembahan Senapati, sang pendiri Mataram Islam. Senapati menikah dengan Ratu Mas Waskita Jawi, putri Ki Panjawi, Bupati Pati, yang juga cucu Ki Ageng Buyut Pati—trah Sunan Kalijaga. Perkawinan ini meneguhkan simpul spiritual Walisongo dalam darah Mataram.

Hasilnya: lahirlah Raden Mas Jolang, kelak bergelar Panembahan Hadi Hanyakrawati, yang meneruskan tahta di Kotagede (1601–1613). Dari beliau lahir Sultan Agung, puncak kejayaan Mataram. Maka, di balik pusaka pedang Senapati, tertanam restu gaib Ki Ageng Selo, tapak tilas Ki Ageng Henis, dan benih spiritual Walisongo—menjadikan nasab Panembahan Hanyakrawati bukan sekadar silsilah, tetapi fondasi legitimasi dan bara sakral Mataram.

Panembahan Hanyakrawati, atau Panembahan Krapyak, tidak mewarisi takhta Mataram sekadar sebagai raja simbolis. Putra Panembahan Senapati ini memikul ambisi besar: menyatukan kembali warisan Demak yang tercerai-berai di pesisir utara Jawa. Dalam catatan Andries Soury, kepala perdagangan di Banten, Panembahan ini dijuluki Kaisar Jawa—sebutan yang tidak berlebihan melihat keinginannya menundukkan Surabaya, Gresik, Sedayu, dan pelabuhan lain.

Baca Juga : Memprihatinkan, Wawali Armuji Terus Terima Laporan Penipuan Jual Beli Rumah di Surabaya

Motifnya bertumpuk. Pertama, faktor spiritualitas: Mataram mengusung panji Islam pedalaman yang ingin merangkul jalur-jalur dakwah Islam awal di Gresik dan Sedayu. Kedua, dendam sejarah: Surabaya, Pasuruan, dan Blambangan masih memelihara sisa-sisa otonomi tradisi Hindu dan warisan Demak yang memberontak. Ketiga, motif ekonomi: penguasaan jalur rempah dari Maluku, Banda, hingga Borneo harus dipotong di Gresik, Surabaya, Jortan.

Panglima andalannya adalah Adipati Martalaya. Dalam Babad Sangkala tercatat, Martalaya diangkat pada 1530 J (1608) sebagai komandan lapangan. Pada 1534 J (1612), ia memimpin ekspedisi ke Lamongan, basis pesisir yang berafiliasi dengan Surabaya. Namun kronik Jawa berbeda dengan laporan Eropa: Babad Momana menyebut kematian Martalaya pada 1532 J (1616), menunjukkan betapa panjang dan melelahkan perang ini.

Kronologi Perang Mataram–Surabaya

1610–1611: Ancaman dan Pertempuran Awal

Tanda-tanda penaklukan Mataram terendus di loji Belanda di Gresik. Pieter Verhoeven menulis: “Di sini tersiar berita bahwa Mataram, yang dipanggil Kaisar Jawa, merencanakan menyerang semua tempat ini.” Namun sampai sejauh mana rencana itu dijalankan masih kabur.

Pada 1611, Hendrick Brouwer, komandan VOC, muncul di Selat Madura. Niatnya membeli ternak pupus, sebab perang telah merusak jalur logistik Surabaya. Brouwer terpaksa berunding dengan Raja Surabaya untuk memulihkan hubungan dagang—tetapi ketegangan tetap membara.

1612: Raja Jepara dan Pasukan Raksasa

Tahun 1612 menandai babak eskalasi. Brouwer berlabuh di Jepara, mendengar kabar Raja Jepara berangkat ke Mataram dengan 150.000 prajurit. Mereka berpadu dengan pasukan Krapyak menyerbu Lamongan, lalu Surabaya. Namun medan pesisir Surabaya, dikelilingi rawa-rawa dan benteng, membuat penaklukan frontal mustahil. Strategi Krapyak: menghancurkan lingkar pertahanan, melumpuhkan suplai logistik.

1613: Gresik Dibakar

Puncaknya pada September 1613. Gubernur Jenderal Pieter Both tiba di Gresik, mendapati kota pelabuhan itu hangus: “14 hari sebelum kedatangan kami... Gresik telah dikuasai dan dibakar oleh Mataram Raya. Tembok-tembok loji kami rata dengan tanah.” (Colenbrander & Coolhaas, 1919–1953)

Jortan pun “diratakan.” Namun Surabaya tetap kukuh. Loji Belanda yang hancur hanya menegaskan: pertahanan pesisir rapuh tanpa federasi yang solid.

Bagi Panembahan Hanyakrawati, perang ini lebih dari ekspansi teritorial. Ia menabur benih sentimen Jawa Sentris: federasi pelabuhan pesisir dianggap warisan Demak yang harus “dibersihkan” agar Tanah Jawa bersatu di bawah satu kaisar agraris. Spirit Islam pedalaman berhadapan dengan kosmopolitanisme pesisir yang terbuka pada Portugis dan Belanda.

Namun perlawanan Surabaya tak semata-mata pertahanan politik. Ia ditopang ideologi dagang maritim: pelabuhan pesisir saling menopang dengan aliansi dagang Nusantara. Hubungan keluarga adipati, para saudagar, hingga broker-broker Cina membuat jalur rempah tetap berdenyut meski pedalaman Mataram berusaha mencekik.

Akhir Babak dan Warisan

Peperangan di era Panembahan Krapyak hanyalah permulaan. Dalam dekade 1620–1625, Sultan Agung, putra Krapyak, menyempurnakan mimpi ayahnya: Surabaya akhirnya takluk setelah kepungan bertahun-tahun. Pesisir utara runtuh. Sisa-sisa dendam Surabaya kemudian membayang dalam pemberontakan Trunajaya (1674–1680). Ingatan tentang “hegemon pesisir” terus hidup dalam dongeng rakyat, seolah menjadi simbol pembalasan yang tertunda.

Perang Panembahan Hanyakrawati melawan Surabaya adalah salah satu contoh bagaimana politik Jawa bukan sekadar urusan pedang dan benteng, melainkan pertarungan panjang ideologi, spiritualitas, dan dendam sejarah. Dari pedalaman Mataram, Panembahan Krapyak mewarisi senjata paling ampuh: keyakinan bahwa seluruh Jawa harus tunduk di bawah satu panji.

Namun federasi Surabaya membuktikan satu hal: hegemoni pesisir sulit dihancurkan sepenuhnya. Di antara puing loji Gresik yang terbakar, di mulut muara Sedayu yang senyap, tetap berdenyut sisa-sisa jalur rempah Nusantara—mengingatkan bahwa Jawa selalu terbentuk oleh benturan tanah subur pedalaman dan ombak jalur lautnya.


Topik

Serba Serbi sejarah jawa mataram surabaya panembahan senapati panembahan hanyakrawati



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Dede Nana