JATIMTIMES - Sebanyak 250 rumah di Kampung Tridi Kota Malang mulai peremajaan. Hal tersebut dilakukan dengan melakukan pengecatan pada bagian atap rumah. Proses pengecatan yang hanya dilakukan di bagian atap ini karena terbatasnya kemampuan anggaran.
Pengecatan salah satu kampung tematik andalan Kota Malang ini bagian dari upaya untuk kembali membangkitkan potensi wisata di kampung tersebut. Prosesnya sendiri telah dimulai sejak Juni 2025 lalu, dan diperkirakan rampung pada Juli 2025 ini.
Baca Juga : Marak Beras Oplosan, Pemprov Jatim Gandeng Satgas Pangan Gencarkan Investigasi
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Tridi, Adnan, menyampaikan program ini merupakan lanjutan dari kegiatan pengecatan yang sempat tertunda akibat pandemi Covid-19.
“Pengecatan dimulai sekitar akhir Juni atau awal Juli. Sekarang hanya atap rumah yang dicat karena keterbatasan dana. Untuk dinding, mungkin bisa menyusul jika nanti ada tambahan anggaran,” ujar Adnan.
Program tersebut merupakan buah kolaborasi Pemerintah Kota (Pemkot) Malang dengan memanfaatkan anggaran dari corporate social responsibility (CSR) dari DecoFresh. Dalam hal ini, Pemkot Malang menyediakan anggaran operasional.
“Cat dan tenaga pengecat disediakan DecoFresh. Sementara Pemkot membantu pembiayaan operasionalnya. Kalau nanti ada pengecatan dinding, kemungkinan bisa melibatkan warga, karena atap lebih rumit secara teknis,” jelasnya.
Untuk menjangkau atap yang kuat dan kokoh digunakan alat manual, sementara genteng rapuh dicat menggunakan metode semprot (spray). Pada pekerjaan kali ini, ia mengutamakan daya tahan cat untuk jangka panjang.
“Dulu Warna-Warni juga fokus di atap. Tapi di sana rumahnya lebih tertutup. Sementara di sini terbuka, jadi faktor keawetan cat sangat berpengaruh. Kami juga masih punya MoU dengan DecoFresh sejak 2018, tapi sempat terhenti karena pandemi,” jelasnya.
Adnan memperkirakan daya tahan cat akan bertahan sekitar dua tahun. Dirinya berharap pengecatan bisa dilakukan rutin, tentunya hal tersebut jika kerja sama dengan pihak sponsor dan pemerintah terus berlanjut.
"Beberapa bahkan sukarela memberi jajanan dan kopi kepada tim pengecat sebagai bentuk apresiasi," imbuh Adnan.
Baca Juga : Pedamaran 1450: Syekh Siti Jenar Berguru pada Arya Damar, Putra Sang Raja Brawijaya V
Menurutnya, memudarnya warna kampung juga berdampak terhadap jumlah kunjungan wisatawan. Saat cat mulai pudar, angka kunjungan sempat menurun drastis hingga 70 persen.
Bahkan, wisatawan asing mempertanyakan mengapa warna kampung tidak segera diperbarui. Padahal, kampung tematik ini memiliki andalan dari pernak-pernik warna rumah yang sangat beragam dan kreatif.
“Pernah dalam sehari hanya satu sampai tiga orang yang datang, bahkan kadang tidak ada sama sekali. Sekarang mulai naik lagi. Sekitar 80 persen pengunjung adalah wisatawan mancanegara, sisanya lokal, dan itu pun lebih ramai saat akhir pekan,” terangnya.
Setelah pengecatan atap rampung, ia berharap Kampung Tridi bisa terus dikembangkan dengan berbagai inovasi baru. Dirinya juga mendorong Pemkot Malang agar lebih aktif memberi dukungan nyata, tidak hanya sebatas pada wacana.
“Kampung ini bisa menjadi ikon Malang kalau dikembangkan bersama. Kami harap Pemkot Malang tidak hanya memberi dukungan secara teori, tapi juga benar-benar hadir membantu pengembangan wisata buatan,” pungkas Adnan.
