JATIMTIMES - Sejarah Jawa tidak pernah benar-benar tuntas hanya dengan membaca daftar gelar raja yang silih berganti bertakhta di Kartasura. Pusaka, sebagai penanda legitimasi, kerap dianggap sebagai "nyawa tanah Jawa" yang berpindah-pindah di antara para penguasa yang saling mencurigai satu sama lain.
Pada masa pergantian kekuasaan antara Amangkurat III, yang lebih dikenal dengan nama Amangkurat Mas, dan Susuhunan Pakubuwana I, pusaka-pusaka seperti tombak Kyai Baru, keris Kyai Belabar, dan tombak Kyai Gondil diperebutkan bukan sekadar sebagai simbol. Pusaka-pusaka itu menjadi urat nadi keabsahan kekuasaan.
Baca Juga : Akhir Juli 2025 Membawa Hoki! 5 Zodiak Ini Siap Panen Rezeki Besar
Di tengah porak-poranda Kartasura, perlawanan Pangeran Arya Blitar, putra Pakubuwana I, semakin memperkeruh suasana dan menambah sengkarut dendam di antara garis darah, para sekutu, dan penjajah Kompeni Belanda.
Tahun-tahun awal abad ke-18 menjadi saksi bagaimana Kompeni, dengan kebijakan politik belah bambu, piawai memainkan taktik berpura-pura mendukung raja yang sah demi meredam pemberontakan. Dalam intrik semacam inilah, keberanian seorang Arya Blitar tampil sebagai penentu. Ia tidak hanya bertempur di hutan-hutan Pasuruan dan Malang, tetapi juga menegakkan nama Pakubuwana I, ayahandanya, saat pusaka-pusaka agung Mataram perlahan hanyut menuju pelabuhan Batavia.
Pada titik inilah, sejarah pusaka Jawa berubah menjadi pelajaran tentang bagaimana dendam, restu leluhur, dan tipu muslihat Kompeni saling berkelindan hingga menjadi racun penaklukan.
Kesepakatan Palsu: Amangkurat III Menyerahkan Diri
Pada puncak keterdesakan, Susuhunan Amangkurat III tak lagi punya kekuatan tempur yang berarti. Kartasura yang pernah menjadi pusat kerajaan Mataram Islam telah direnggut pasukan Pakubuwana I. Kekuatan prajuritnya tercerai-berai; sisa loyalis yang mendampinginya di Blitar pun berbisik agar segera mencari jalan damai. Dengan dada sesak, Amangkurat III menulis surat kepada Kepala Perwakilan Kompeni di Surabaya. Ia, yang pernah duduk di singgasana Kartasura, kini mengiba agar diampuni, seraya berjanji tunduk pada kehendak VOC.
Setibanya para utusan di Surabaya, surat pun dibuka. Kepala Perwakilan Kompeni, yang memahami betul celah-celah politik Jawa, segera memanfaatkan kesempatan emas ini. Seperti tercatat dalam Babad Kartasura, Kepala Perwakilan VOC di Surabaya berkata dengan lantang, “Apabila Kangjeng Susuhunan sungguh-sungguh hendak berdamai dengan Kompeni Belanda, hendaklah segera datang ke Surabaya. Apa saja yang dikehendaki akan disetujui Kompeni. Jika hendak bertahta kembali di Kartasura, Kompeni akan mengangkatnya kembali.”
Janji manis itu dilontarkan penuh sanjungan, disertai pemberian hadiah berupa kain kepada para utusan. Segalanya disusun seolah-olah Kompeni benar-benar berniat mengembalikan martabat seorang raja yang telah jatuh.
Sontak, kabar diterima Amangkurat III dengan sukacita yang palsu. Malam itu juga, ia memerintahkan keluarga, sisa pengikut, serta tombak pusaka yang masih digenggam, untuk berangkat ke Surabaya. Ia percaya betul, Kompeni akan menepati janji. Namun di balik itu, di Kartasura, Pakubuwana I dan Pangeran Arya Blitar, yang mewarisi naluri politis leluhur Demak, sudah menyiapkan jebakan sendiri: mengamankan pusaka Tanah Jawa agar tidak hanyut di tangan raja yang dianggap durhaka.
Tombak Kyai Baru: Sumbu Konflik Saudara
Pusaka tombak Kyai Baru dan Kyai Gondil menjadi penanda penting. Begitu mendengar kabar Amangkurat III hendak menyerahkan diri ke Kompeni, Pangeran Arya Blitar, atas restu Susuhunan Pakubuwana I, segera mengirim utusan. Amanahnya jelas: pusaka harus kembali ke Kartasura. Dalam kosmologi politik Jawa, pusaka bukan sekadar senjata, melainkan perwujudan wahyu kekuasaan. Siapa memegangnya, ialah pemilik legitimasinya.
Namun jawaban Amangkurat III di Blitar sungguh menghina utusan. Dengan nada marah, ia berseru, “Hai, utusan, beritahukan pada tuanmu! Jika tombak Kyai Baru diminta Pakubuwana, tunggu saja di Surabaya. Setelah tiba di sana, akan kuserahkan sendiri. Kompeni memanggilku untuk berdamai, bukan untuk melepaskan pusaka di tanah ini!” Utusan pulang dengan tangan hampa, membawa amarah Pangeran Arya Blitar ke titik puncak. “Kalau aku tahu dia berbohong demikian, pasti kuremas mulutnya!” serapahnya. Ini bukan sekadar konflik pusaka; ini kehormatan trah Mataram yang dilecehkan oleh saudara sedarah.
Sebagai tambahan penjelasan agar tidak membingungkan pembaca: Pangeran Arya Blitar, putra Pakubuwana I, bukanlah Adipati Blitar. Ia adalah pangeran Kerajaan Kartasura yang tinggal di istana. Gelar "Blitar" yang disandangnya adalah warisan turun-temurun dari garis ibunya, Ratu Mas Blitar dari Madiun. Sang ibu merupakan pewaris gelar yang berasal dari leluhurnya, Panembahan Juminah atau Pangeran Blitar I.
Dalam struktur istana Mataram, gelar "Blitar" diwariskan secara turun-temurun di kalangan keturunan Panembahan Juminah, putra Panembahan Senapati dan Retna Dumilah, Ratu Madiun. Pada masa pemerintahan Pakubuwana I, gelar ini disandang oleh Raden Mas Sudomo, yang dikenal sebagai Pangeran Arya Blitar, sosok yang menjadi musuh utama Amangkurat III.
Perlu dicatat bahwa di Blitar sendiri memang dikenal tokoh sejarah lain yang bernama Arya Balitar. Namun, ia bukan Raden Mas Sudomo. Arya Balitar dalam versi ini adalah seorang adipati Blitar yang hidup pada masa Kesultanan Demak. Nasabnya pun terbilang mulia, karena ia adalah putra dari Raden Kusen, Adipati Terung, sekaligus adik dari Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak. Dengan demikian, Arya Balitar merupakan saudara Adipati Sengguruh dan bagian dari trah awal Demak yang memainkan peran penting di wilayah timur Jawa.
Pengkhianatan Kompeni: Dari Surabaya ke Batavia
Dalam hitungan hari, Amangkurat III tiba di Surabaya. Sambutan Kompeni dan Adipati Jayengrana sungguh menenangkan. Dihormati bagai raja, dijamu dengan pesta, dan diistirahatkan di pesanggrahan Wisma Adipati Jayengrana. Kepala Perwakilan VOC kembali menegaskan janji: “Paduka dipersilakan bertolak ke Semarang, bertemu Tuan Komisaris. Setelah itu, paduka akan kembali ke Kartasura, diangkat sebagai Susuhunan sah.”
Amangkurat III dan para prajuritnya tertipu oleh kemegahan yang ternyata palsu. Di balik tampilan itu, Kompeni tidak ingin kehilangan momentum. Mereka membawa seluruh pusaka agung yang dibawa oleh Susuhunan. Tombak Kyai Baru, tombak Kyai Gondil, dan keris Kyai Belabar dibawa bersama tubuh Amangkurat III ke atas kapal.
Tanpa disadari, raja yang terbuang itu telah menyerahkan urat nadi kekuasaannya sendiri. Kapal milik Kompeni kemudian berlayar menuju Batavia. Sejak saat itu, pusaka Tanah Jawa tercatat hilang, tersembunyi di antara peti-peti berisi harta rampasan milik Kompeni.
Dendam Arya Blitar: Kepala Pulangjiwa sebagai Tumbal
Tidak hanya pusaka yang diburu. Pangeran Arya Blitar juga memburu pengkhianatan saudara sendiri. Ketika Kompeni menyerahkan para tokoh yang dianggap musuh Pakubuwana, Arya Pulangjiwa termasuk di dalamnya. Nama ini menarik: dulunya, ia pun bergelar dan dipanggil Arya Blitar, sama seperti putra Pakubuwana I. Untuk menegaskan hierarki, nama itu dicabut: “Arya Blitar” disematkan pada putra sah Pakubuwana I, sedangkan saudara yang berkhianat diberi nama Pulangjiwa, sebagai lambang keterbuangan.
Tengah malam di Pasuruan, Arya Pulangjiwa mencoba kabur ke hutan. Namun dendam Arya Blitar tak mengenal gelap malam. Ki Tumenggung Suralaya dan Ki Barebes diutus memburu. Dalam babad, penyerbuan itu dikisahkan dramatis: Pulangjiwa ditemukan di balik rimbun hutan Pasuruan, lehernya dipenggal, kepalanya dibawa pulang ke Malang sebagai persembahan. Bagi Arya Blitar, kematian Pulangjiwa menjadi tumbal kesetiaan: pusaka memang lepas, tetapi nama trah Pakubuwana harus dibersihkan.
Malang dan Jawa Timur Tunduk: Ketika Api Perlawanan Padam
Kemenangan Pangeran Arya Blitar di Jawa Timur bukan sekadar catatan dalam sejarah militer. Malang, Pasuruan, dan wilayah pesisir timur pada awal abad ke delapan belas merupakan basis kuat para loyalis Amangkurat III.
Ketika pasukan Arya Blitar bersama barisan pendukung Pakubuwana menembus wilayah Malang, perlawanan meletus di lorong-lorong kota. Ngabehi Lor dan Ngabehi Kidul, dua patih setempat, gugur di tangan para prajurit Wirasantika. Nama terakhir inilah yang kelak diangkat menjadi Bupati Jipang.
Sementara itu, Surahim, putra Adipati Wiranagara, berhasil meloloskan diri ke dalam rimba. Ia menjadi bagian dari serpihan kecil loyalis Mataram yang semakin tercerai-berai.
Kemenangan ini tidak berdiri sendiri. Kompeni, yang semula pura-pura mendukung Amangkurat III, berbalik mendukung Pakubuwana I begitu aroma kemenangan tercium. Barisan Wiranagara yang bubar memaksa para adipati yang tadinya setengah hati tunduk pada Pakubuwana I. Rumah-rumah di Malang yang dicurigai membantu Amangkurat III dibakar, menanamkan teror bahwa kuasa pusat kini milik Kartasura sepenuhnya.
Di atas puing Malang, Pangeran Arya Blitar menegakkan bendera Pakubuwanan. Para putri Adipati Wiranagara diboyong ke Kartasura — bukti simbolik bahwa keluarga aristokrat yang menentang takluk sepenuhnya. Ki Tumenggung Wiraguna, Arya Tiron, Raden Mandurareja, dan Mangunagara pun diserahkan kepada Arya Blitar. Satu nama yang luput hanyalah Arya Pulangjiwa, yang sudah tewas di Pasuruhan dengan kepala terpenggal.
Surat Kemenangan: Pengakuan Darah dan Restu Ayahanda
Di tengah hutan Malang yang mulai sepi, Arya Blitar menulis surat panjang kepada ayahandanya, Susuhunan Pakubuwana I, di Kartasura. Kalimatnya padat, tanpa basa-basi, namun sarat kebanggaan: “Segala negeri di Jawa Timur telah menyatakan tunduk di bawah kekuasaan paduka. Para pengkhianat telah hamba basmi. Putri-putri boyongan, tokoh-tokoh bekas pendukung Amangkurat Mas, semua hamba persembahkan. Hanya pusaka Tanah Jawa yang dibawa ke Batavia, tak dapat hamba rebut.”
Surat itu, dibawa Wilatikta dan Kanduruwan, tiba di Kartasura. Susuhunan Pakubuwana I, sebagaimana dicatat babad, hanya terdiam lama membaca kabar itu. Tidak ada gemuruh sorak kemenangan, yang ada hanya napas panjang dan sabda lirih, “Walau pusaka diangkut ke luar Jawa, aku percaya takkan menjadikan bencana, asal masih ada Kadilangu dan Masjid di Demak.” Bagi Pakubuwana I, pusat wahyu masih berakar pada rohani: keturunan Sunan Kalijaga di Kadilangu dan jejak spiritual di Demak adalah pusaka sejati, selebihnya hanya simbol.
Balik ke Kartasura: Arya Blitar Menjadi Penjaga Tahta
Tidak lama berselang, utusan Patih Cakrajaya datang menyusul ke Malang, menjemput Pangeran Arya Blitar pulang ke Kartasura. Bersama para bupati, wira tamtama, dan sisa barisan tempur, Arya Blitar meninggalkan Malang, membiarkan wira tamtama tertentu berjaga agar bekas basis pemberontakan tetap steril.
Setiba di Kartasura, Arya Blitar disambut di pendapa dengan upacara yang penuh tata krama istana. Ia menghadap Pakubuwana I, ayahandanya, dalam suasana yang dalam catatan babad disebut sebagai penghadapan besar. Inilah forum resmi kerajaan, tempat di mana sisa-sisa gejolak politik perlahan diredam dengan balutan penghormatan.
Baca Juga : Kalender Jawa Kamis Wage, 31 Juli 2025: Watak Weton, Rezeki, Jodoh dan Pantangan
Pakubuwana I, dengan tutur yang masih diselimuti rasa curiga, memeluk Arya Blitar. Ia memuji keteguhan sang putra dalam menumpas loyalis Amangkurat III, sembari menatap tajam para prajurit yang tersisa.
"Anakku, aku berbesar hati karena engkau berhasil memenangkan peperangan. Malang dan pesisir timur kini telah kembali tunduk," sabdanya.
Tata Baru Kadipaten: Siapa Mendapat Apa
Penghadapan besar tidak hanya meneguhkan Arya Blitar. Pakubuwana I, dengan cermat, membagi ganjaran pada para panglima, bupati, dan adipati. Citrasoma diangkat menjadi Adipati Jepara; Wirasantika, yang membunuh Ngabehi Lor dan Kidul, diangkat menjadi Bupati Jipang sekaligus Tumenggung Surawijaya, kepala mancanagara. Pusparudita mendapat Batang; Jayaningrat memperoleh Pekalongan. Wilayah pesisir yang dulunya goyah oleh loyalis Amangkurat III kini dikunci rapat oleh orang-orang kepercayaan Pakubuwana I.
Usulan Arya Blitar tentang keluarga almarhum Panembahan Mandura juga diterima: putranya diangkat sebagai Patih di Madura, cucunya diberi sebutan Tumenggung Suryadinata dan Sasrawinata. Dalam sidang ini pula, negeri Pati diserahkan pada Pangeran Purbaya, sedang Panji Tohpati diserahkan kepada Arya Blitar. Ini adalah penegasan simbolik. Keluarga Pakubuwana I berakar di jantung Tanah Jawa, tetapi juga menancapkan pengaruh hingga ke wilayah pesisir dan timur, kawasan yang kerap menjadi ladang pembangkangan.
Refleksi: Pusaka Hilang, Wahyu Tak Luntur
Jika membaca Babad Kartasura dengan mata yang kritis, kisah ini akan menyingkap sebuah dilema yang mendasar. Pusaka Tanah Jawa seperti tombak Kyai Baru, keris Kyai Belabar, dan tombak Kyai Gondil memang hanyut bersama Amangkurat III menuju Batavia.
Namun, yang paling dicatat oleh sejarah bukan sekadar kehilangan benda-benda pusaka itu, melainkan bagaimana Pakubuwana I menjadikan restu rohani dari Kadilangu dan Masjid Demak sebagai benteng moral. Di sanalah ia meredam kecemasan mendalam atas lenyapnya lambang-lambang legitimasi kerajaan.
Dalam historiografi Jawa, inilah semacam “kontrak spiritual”. Raja boleh kehilangan benda lahir, tetapi tidak boleh kehilangan sumber legitimasi rohani. Sejarah di episode ini menutup kisah Arya Blitar bukan dengan dentang senjata, melainkan dengan perintah agar ia menjaga tahta dan wilayah, mengingatkan bahwa pusaka sejati hidup di dada rakyat yang patuh.
Warisan Arya Blitar: Dendam yang Menjadi Tameng
Di ujung kisah, Pangeran Arya Blitar tidak semata muncul sebagai putra yang patuh. Ia adalah figur perlawanan yang memahami bahwa konflik bukan hanya perang tombak, tetapi juga pertaruhan nama baik, dendam sejarah, dan pusaka rohani. Ketika Arya Pulangjiwa diburu di hutan Pasuruan, itu bukan sekadar balas dendam keluarga. Itu pesan: pengkhianatan harus ditebus dengan darah.
Arya Blitar kemudian tercatat dalam sejarah sebagai tameng bagi ayahandanya, Pakubuwana I, dalam upaya menata kembali Kartasura setelah perang saudara. Ia tampil sebagai perantara antara istana dan daerah-daerah yang telah ditaklukkan, menjadi pengawal bagi wibawa takhta yang rapuh akibat hilangnya pusaka kerajaan.
Pusaka yang Pergi, Ingatan yang Abadi
Tidak ada pusaka Tanah Jawa yang pernah benar-benar kembali dari Batavia. Seiring waktu, tombak Kyai Baru, Kyai Gondil, dan keris Kyai Belabar menjadi legenda yang hanya tersisa dalam baris babad. Namun api perlawanan, dendam Arya Blitar, restu rohani Kadilangu, dan mesjid Demak, tetap membangun narasi baru: bahwa Jawa tidak pernah sepenuhnya takluk pada Kompeni.
Bagi sejarawan modern, kisah hilangnya pusaka ini menjadi cermin betapa ruwetnya persilangan antara kuasa, spiritualitas, dan intrik kolonial. Sebuah pusaka bisa saja hanyut, tetapi watak Tanah Jawa yang dipenuhi restu leluhur dan dendam turun-temurun tetap menyala sebagai bara di relung hati rakyatnya.
Dan di antara bara itu, nama Arya Blitar dikenang. Ia adalah putra raja yang mewarisi dendam sekaligus setia menjaga pusaka yang tak kasat mata, yaitu kehormatan trah Mataram.
Pusaka Kartasura yang Tak Pernah Hilang: Jejak Amangkurat III dan Kesetiaan Raden Ajeng Reksoprodjo di Setono Gedong
Di jantung Kota Kediri, di sebuah kawasan padat yang kini berdampingan dengan Stasiun Kereta Api Kediri, berdiri Situs Setono Gedong. Inilah titik pusaka yang hingga hari ini menjadi saksi bisu atas jejak-jejak peninggalan Kasultanan Mataram Islam.
Setono Gedong bukan sekadar kompleks makam para wali, bangsawan, dan ulama. Ia adalah ruang di mana mitos, dendam politik, dan perlawanan ideologi bertemu, menyusun narasi panjang tentang pusaka Kartasura yang konon tidak pernah benar-benar lenyap.
Sejarah mencatat nama Susuhunan Amangkurat III, raja keenam Mataram, naik tahta pada 1703 menggantikan ayahnya, Amangkurat II. Namun masa pemerintahannya singkat: dua tahun saja ia berkuasa sebelum dikudeta oleh pamannya sendiri, Pangeran Puger, yang kemudian bergelar Pakubuwana I. Kudeta ini bukan sekadar perebutan takhta; ia adalah wujud pertarungan ideologi di mana pengaruh VOC menancap semakin dalam di nadi kekuasaan Kartasura. Di sinilah pusaka kraton bukan hanya lambang legitimasi raja, tetapi juga simbol kedaulatan.
Dalam catatan resmi keraton dan laporan Belanda, Amangkurat III, yang juga dikenal sebagai Sunan Amangkurat Mas, diasingkan ke Batavia sebelum akhirnya dibuang ke Sri Lanka dan wafat di sana pada tahun 1734.
Namun di Kediri, berkembang narasi yang berbeda. Tradisi lisan menuturkan bahwa Amangkurat III tidak wafat di tanah asing, melainkan memilih menepi di Kediri. Ia dikisahkan menjauh dari pertikaian politik dan mengabdi sebagai wali hingga akhir hayatnya.
Bukti fisik berupa makam yang diyakini sebagai tempat persemayamannya di Situs Setono Gedong menjadi penopang kisah ini. Narasi tersebut berdiri berseberangan dengan versi resmi istana yang menyatakan bahwa makam sang raja berada di Imogiri.
Satu hal yang membuat riwayatnya berlapis misteri adalah jejak pusaka Kartasura. Dikisahkan, ketika Amangkurat III melarikan diri, ia tak pergi seorang diri. Ada sosok Raden Ajeng Reksoprodjo, abdi dalem perempuan, yang setia mengiringinya. Menurut cerita turun-temurun yang dipegang para juru kunci Setono Gedong, Reksoprodjo-lah yang memikul tanggung jawab merawat, menyembunyikan, dan menjaga pusaka keramat Mataram: tombak, keris, dan benda-benda simbolik yang diyakini menjadi sumber legitimasi raja-raja Jawa.
“Raden Ajeng Reksoprodjo ini adalah seorang perempuan. Beliau abdi yang menjaga dan merawat pusaka eyang Amangkurat III,” tutur Yusuf Wibisono, juru kunci Setono Gedong saat diwawancarai pewarta media ini. Loyalitas Reksoprodjo teruji saat perjalanan pelarian berbahaya. Di tengah hutan, pasukan Pakubuwana I sempat menghadang. Suaminya gugur di tempat, namun Reksoprodjo berhasil lolos dengan membawa pusaka-pusaka itu hingga bertemu kembali dengan rombongan Amangkurat III di Jawa Timur.
Menariknya, dalam babad Kartasura versi keraton, ketika Pangeran Arya Blitar, putra Pakubuwana I, menjemput pusaka di Blitar dengan mengirimkan utusan dari Kartasura, Amangkurat III menolak menyerahkannya. Dari sinilah muncul tafsir bahwa pusaka warisan raja-raja Kartasura tetap berada dalam lingkaran loyalis Amangkurat III. VOC yang kala itu berkepentingan mengamankan stabilitas Jawa Tengah, hanya mencatat pemindahan Amangkurat III ke Sri Lanka, tanpa menyinggung detail nasib pusaka-pusaka tersebut.
Versi Kediri menambahkan lapisan lain dalam narasi sejarah ini. Mereka meyakini bahwa pusaka-pusaka keraton yang dibawa kabur tidak pernah benar-benar hilang, melainkan tetap terjaga dan kembali ke Jawa bersama Amangkurat III yang konon masih hidup. Menurut versi ini, sang raja memilih menetap di Kediri dan menghabiskan sisa hidupnya di sana hingga wafat.
Konon, pusaka-pusaka itu dikuburkan tepat di samping makam Amangkurat III di Setono Gedong. “Pendaman pusaka itu atasnya dirupakan seperti kuburan,” kata Yusuf. Di sinilah peran Raden Ajeng Reksoprodjo menjadi sangat sentral. Sosoknya nyaris tak muncul dalam babad atau kronik istana, tetapi di lorong-lorong cerita rakyat Kediri, namanya bertahan sebagai perempuan tangguh penjaga marwah pusaka kerajaan. Makam Reksoprodjo pun berada dalam satu kawasan dengan pusaka yang dijaganya—sebuah simbol abdi dalem yang wafat bersama rahasia kebesaran Mataram.
Sebagai pembanding, catatan resmi versi keraton dan Belanda menyebutkan Amangkurat III wafat di Srilanka pada 1734. Tiga tahun kemudian, jenazahnya beserta keluarganya yang selamat dikembalikan ke Jawa bersama benda pusaka kerajaan. Jenazah sang raja kemudian dimakamkan kembali di Astana Sultanagungan, Imogiri, bersama kedua putranya, Pangeran Teposono dan Pangeran Wiramenggala.
Bagi masyarakat Kediri, kisah ini lebih dari sekadar tafsir lokal. Ia adalah narasi tandingan atas dominasi catatan kolonial. Keberadaan pusaka yang “tak pernah hilang” menjadi simbol penolakan hegemoni VOC dan legitimasi Kartasura yang patah di tangan sendiri. Sementara Pakubuwana I menyatakan bahwa pusaka Jawa yang sejati adalah Masjid Agung Demak dan makam Sunan Kalijaga, jejak Setono Gedong tampak mengisyaratkan sesuatu yang berbeda. Di jantung Kota Kediri, serpihan kekuasaan Mataram terasa masih bertahan di bawah bayang batu tua, peninggalan masa silam yang diduga berasal dari era Kediri atau Majapahit.
Di sinilah pusaka, spiritualitas, dan dendam sejarah menjalin simpul. Amangkurat III dalam memori Kediri bukan hanya raja yang kalah, melainkan raja yang memilih jalan sunyi: mendirikan benteng tak terlihat lewat pusaka yang disembunyikan. Reksoprodjo, sang abdi perempuan, adalah manifestasi kesetiaan di era di mana kepercayaan lebih bernilai daripada catatan tinta. Hingga hari ini, pintu makam Amangkurat III di Setono Gedong terkunci rapat, seakan menjaga rahasia pusaka Kartasura yang tak pernah benar-benar pergi.
