Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Hiburan, Seni dan Budaya

Alasan Film Animasi Merah Putih: One For All Dikritik Meski Berbiaya Miliaran

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

10 - Aug - 2025, 18:19

Placeholder
Poster Film animasi Merah Putih: One For All. (Foto: X)

JATIMTIMES - Film animasi Merah Putih: One For All belakangan jadi sorotan netizen. Bukan karena ceritanya, melainkan kualitas animasinya yang dianggap di bawah ekspektasi meski disebut menelan biaya miliaran rupiah.

Film garapan Perfiki Kreasindo ini disutradarai dan ditulis oleh Endiarto bersama Bintang, sementara posisi produser dipegang oleh Toto Soegriwo.

Baca Juga : Benarkah Tidak Boleh Minum Air Putih Saat Terbangun Tengah Malam? Ini Penjelasan Lengkap dari Ahli

Lewat akun Instagram pribadinya, @totosoegriwo, Toto mengungkap bahwa proses produksi film ini menghabiskan anggaran sekitar Rp 6,7 miliar. Yang mengejutkan, pengerjaannya rampung kurang dari satu bulan.

Proses produksi yang sangat singkat ini memunculkan spekulasi. Banyak yang menilai film ini dikebut demi tayang tepat pada momen peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Netizen bahkan menyebut pengerjaannya mengandalkan prinsip the power of kepepet.

Dilansir dari kanal YouTube Yono Jambul, terungkap bahwa sejumlah aset animasi yang digunakan bukanlah hasil kreasi tim produksi, melainkan dibeli dari store Daz3D. "Mereka ada adegan jalan kan. Nah mereka belinya aset street of Mumbai. Aneh banget kan makanya jalannya," ujarnya, dikutip JatimTIMES, Minggu (10/8/2025).

Penggunaan aset jadi ini membuat nuansa lokal di film tersebut nyaris tak terasa. Bahkan, menurut sejumlah pengulas, hasil akhirnya terlihat janggal. Kritikan pun mengarah pada kualitas animasi yang dianggap tidak memiliki taste kuat, sehingga memicu gelombang komentar pedas di media sosial.

Isu lain yang ramai dibicarakan adalah harga aset karakter dan set yang dikabarkan tidak lebih dari belasan dolar. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengapa anggaran produksi bisa mencapai miliaran rupiah.

Beberapa pihak menduga besarnya anggaran mungkin terkait upah animator yang harus bekerja dalam waktu sangat singkat, atau ada biaya lain yang dialokasikan untuk keperluan berbeda.

Sebagai perbandingan, produksi anime populer seperti One Piece atau Demon Slayer menghabiskan sekitar Rp 1,8 miliar per episode. Meski durasinya tak sepanjang Merah Putih: One For All, kualitas animasi yang dihasilkan jauh lebih halus.

Baca Juga : 1.000 Bendera untuk Kota Blitar, Mas Ibin Ajak Warga Kobarkan Semangat Kemerdekaan

Menanggapi kritik keras yang beredar di media sosial, produser Toto Soegriwo angkat bicara. "Senyumin aja. Komentator lebih pandai dari pemain. Banyak yang mengambil manfaat juga kan? Postingan kalian jadi viral kan?," tulis Toto melalui akun Instagram-nya.

Untuk diketahui, Film Merah Putih: One For All dijadwalkan rilis di bioskop pada 14 Agustus 2025. Trailer-nya sudah dipublikasikan melalui kanal YouTube Perfiki TV, CGV Kreasi, dan Historika Film.

Di kanal YouTube CGV Kreasi, film ini diklaim sebagai animasi pertama bertema kebangsaan. Ceritanya berlatar di sebuah desa yang tengah bersiap menyambut Hari Kemerdekaan.

Sekelompok anak terpilih menjadi Tim Merah Putih yang bertugas menjaga bendera pusaka untuk upacara 17 Agustus. Namun, bendera tersebut hilang sebelum upacara berlangsung. 

Tim dengan latar belakang budaya berbeda ini pun bersatu dalam misi penyelamatan bendera pusaka tersebut.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya film animasi merah putih tto soegriwo endiarto



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya