free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hiburan, Seni dan Budaya

Getayu Mengamuk: Ketika Kuda Diponegoro Mengalahkan Kavaleri Kompeni

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

13 - Aug - 2025, 11:42

Placeholder
Lukisan realis Pangeran Diponegoro yang tengah menatap penuh kasih kuda kesayangannya, Kiai Getayu. (Foto: created by JatimTIMES)

JATIMTIMES - Perang Jawa yang meletus pada tahun 1825 tidak hanya menjadi panggung perlawanan besar terhadap kekuasaan kolonial, tetapi juga membangkitkan narasi heroik yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Jawa. 

Salah satu kisah yang bertahan dalam benak para penutur sejarah rakyat adalah tentang seekor kuda, bukan manusia, yang melawan pasukan kavaleri Belanda dan menjadi simbol kekuatan spiritual dalam perlawanan. 

Baca Juga : Pemkot Surabaya Libatkan Investor Bangun JPO Baru Jalan Tunjungan

Namanya Getayu. Ia bukan sekadar tunggangan, melainkan rekan seperjalanan Pangeran Diponegoro, simbol kehormatan dan martabat, serta saksi bisu atas kekerasan yang mengiringi langkah para pejuang menuju jalan sunyi perlawanan.

Di Punggung Getayu, Diponegoro Memulai Jalan Sunyi

Pada hari-hari awal pemberontakan, tepatnya 20 Juli 1825, Pangeran Diponegoro melarikan diri dari kepungan Belanda di Tegalrejo. Dalam catatannya, Babad Diponegoro, ia menuliskan bahwa pelariannya dilakukan bersama kuda kesayangannya, Getayu. Kuda ini tidak biasa. Dalam penggambaran Sang Pangeran, Getayu “melangkah seperti pengantin pria yang menjemput mempelai,” bahkan ketika tembakan musuh mengarah padanya. Di tengah dentuman meriam dan lolongan pasukan kolonial, Getayu justru menari mengikuti suara batin pemiliknya, seolah mendengarkan gamelan tak kasat telinga.

Tidak banyak yang memahami bahwa dalam pandangan spiritual Jawa, hubungan manusia dengan hewan bisa melampaui relasi jasmani. Getayu bukan sekadar alat transportasi, melainkan perpanjangan dari kehendak dan laku spiritual Diponegoro. Ketika sang pangeran menyatakan perang karena tanah leluhur dikhianati dan kehormatan ulama diinjak-injak, Getayu menjadi wakil dari kekuatan mistik yang menjaga niat dan perjalanan itu.

Mengamuknya Getayu di Trucuk

Diponegoro

Pertengahan tahun 1825, pasukan Diponegoro berada dalam tekanan. Setelah serangkaian pertempuran, sang Pangeran menetap sementara di Trucuk, kawasan selatan Progo. Getayu, yang biasanya setia di sisi Diponegoro, dilepaskan untuk digiring bersama kuda-kuda lain. Namun dalam perjalanan itulah, terjadilah sebuah peristiwa yang kemudian melegenda dalam narasi perang suci rakyat Jawa.

Menurut Babad Diponegoro, saat itu sekitar 40 orang kavaleri Belanda mengejar pasukan gerilya. Mereka memisahkan kuda-kuda milik para bangsawan Jawa, termasuk Getayu, dan menggiringnya. Namun, Getayu tiba-tiba melepaskan diri dari tali kekang dan mengamuk. Ia menyeruduk, menendang, dan menerjang tentara kolonial dengan kekuatan yang mustahil dimiliki seekor kuda biasa.

Para serdadu Belanda mencoba menembak, memukul dengan pedang, bahkan mengepungnya. Namun kuda itu tidak terluka sama sekali. Dalam pertarungan yang tidak seimbang itu, kuda Jawa justru mengalahkan kavaleri Eropa. Getayu berlari ke tepi Kali Saka dan tanpa disadari, empat serdadu Belanda yang mengejarnya terjeblos ke dalam lumpur dan tewas tenggelam. Peristiwa ini menjadi bahan pembicaraan tidak hanya di kalangan rakyat, tetapi juga para ulama yang melihat bahwa Getayu dilindungi kekuatan gaib.

Ketika Tentara Kolonial Gagal Menyergap Dagen

Pada bulan Oktober 1825, pasukan Belanda yang dipimpin Jenderal De Kock mendapat kabar bahwa Diponegoro akan merayakan Grebeg Maulud di Desa Dagen. Perayaan ini penting karena menggabungkan aspek politik dan spiritualitas. Diponegoro hendak memberi penghargaan pada para ulama, sebagaimana dilakukan para raja Mataram masa lalu di makam Imogiri. Ia ingin menegaskan bahwa ia bukan sekadar panglima perang, tetapi pemimpin spiritual.

Jenderal De Kock menyusun dua kolone besar untuk menyerang Dagen. Kolone pertama dipimpin Mayor Sollewijn, dengan infanteri, artileri, dan kavaleri; kolone kedua dipimpin Kapten Van de Polder. Keduanya diarahkan untuk mengepung Dagen dari arah timur dan utara. Serangan dilakukan pada 24 Oktober.

Namun saat tiba di Geblak, pasukan Belanda ditantang oleh barisan pemberontak. Setelah pertempuran sengit dan korban di pihak rakyat, mereka tetap gagal menangkap Diponegoro yang telah melarikan diri ke utara, menyeberangi Sungai Progo. Keberhasilan pelarian ini tidak lepas dari keahlian pengintaian pasukan Diponegoro dan medan hutan sungai yang mereka kuasai.

Diponegoro

Jumeneng, Bedoyo, dan Jejak yang Terhapus

Pada awal November, kabar kembali beredar bahwa Diponegoro berada di Desa Jumeneng. Maka Jenderal Van Geen, Letnan Kolonel Cochius, dan Mayor Sollewijn menggerakkan lebih dari dua ribu pasukan dari berbagai satuan: infanteri Eropa, pasukan tombak dari Madura, pionir Sumenep, dan pasukan kavaleri. Tujuan mereka jelas: menangkap atau membunuh Diponegoro.

Namun, medan yang berat, hujan deras, dan pemandu yang keliru membuat ekspedisi ini gagal. Jumeneng berhasil dikepung, tetapi Diponegoro telah lebih dahulu meloloskan diri. Dalam Babad Diponegoro, disebutkan bahwa sang pangeran bersama Kyai Maja dan Pangeran Ngabehi sempat terkepung dan hampir terbunuh, namun dengan keberanian mereka menyerang balik, menerobos kepungan, dan menyelamatkan diri ke Desa Mrijan. Dari sana mereka menuju Langon dan kemudian ke Salak Mambu.

Rangkaian pelarian ini bukan sekadar strategi perang, melainkan juga ritual spiritual. Dengan menjauh dari kota-kota dan menetap di lereng, tepi sungai, atau perbukitan, Diponegoro menjalankan laku tirakat sekaligus perang suci.

Baca Juga : Rekomendasi Drama Korea Terbaik: Dari Romantis Hingga Thriller, Semua Wajib Tonton

Antara Bedoyo dan Krapyak, Darah dan Debu

Tanggal 20 hingga 21 November 1825 menjadi saksi rangkaian pertempuran yang tersebar dari Bedoyo hingga Krapyak. Mayor Sollewijn memimpin pasukan kavaleri, didampingi Pangeran Soeriadiningrat dari Mangkunegaran. Mereka menghadapi serangan dari gerombolan besar pemberontak. Dalam satu pertempuran yang paling sengit, dilaporkan bahwa pihak musuh kehilangan lebih dari seratus orang, sementara pasukan kolonial kehilangan seorang kavaleri.

Pertempuran ini menegaskan bahwa perlawanan Diponegoro telah menjelma menjadi gerakan rakyat. Para petani, santri, bahkan perempuan dan anak-anak, terlibat sebagai mata dan telinga, penyedia logistik, dan pengirim pesan. Sejak saat itu, setiap jengkal tanah di sekitar Yogya menjadi medan tempur. Bahkan ketika Diponegoro tidak terlihat, ruh perjuangannya terasa di mana-mana. Untuk memahami mengapa ia mampu menggerakkan rakyat dengan begitu luas, kita perlu menelusuri asal-usul dan garis keturunannya yang sarat legitimasi politik dan spiritual.

Asal Usul dan Nasab Pangeran Diponegoro

Diponegoro

Dalam lanskap sejarah Jawa, Pangeran Diponegoro bukan sekadar tokoh pemberontak. Ia merupakan simpul dari garis darah panjang yang merentang dari Majapahit, Pajang, hingga Mataram Islam. Kepribadiannya yang keras, spiritualitasnya yang kuat, dan perlawanan militannya dalam Perang Jawa 1825 hingga 1830 tidak bisa dilepaskan dari asal usul dan warisan darah yang ia bawa sejak lahir.

Darah Majapahit mengalir dalam tubuh ibunya, Raden Ayu Mangkorowati. Ia adalah keturunan Wasi Bageno, seorang resi Islam yang sebelumnya bernama Raden Joko Dolog, putra ke seratus tujuh belas dari Prabu Brawijaya V. Setelah runtuhnya Majapahit pada 1478, Joko Dolog meninggalkan istana dan bertapa di tepi Kali Progo, sebelum akhirnya berguru kepada Sunan Kalijaga di Gunung Jambalkat, Bayat. Dari sana, ia menerima Islam dan mendirikan permukiman dakwah di Jatinom.

Nasab Wasi Bageno bersambung melalui pernikahan anak cucunya dengan keturunan Pangeran Benowo, putra Sultan Hadiwijaya dari Pajang. Dari jalur inilah muncul nama-nama seperti Kyai Gendung Barung, Kyai Nur Ngalim, hingga Kyai Ngabehi Singat Sedoso. Tokoh terakhir inilah yang menurunkan Raden Ayu Mangkorowati, perempuan ningrat yang kemudian menjadi garwa ampil dari Sultan Hamengkubuwana III.

Melalui ibunya, Diponegoro mewarisi tidak hanya trah agung, tetapi juga semangat spiritual dan kehormatan aristokratik yang teruji oleh zaman. Ia lahir sebagai Raden Mas Ontowiryo, tumbuh di Tegalrejo dalam asuhan budaya Islam yang ketat dan semangat perlawanan yang terus menyala terhadap pengaruh asing. Dalam dirinya, bertaut dua dunia: darah ksatria dan ruh santri.

Ketika kelak ia memimpin perlawanan terhadap Belanda, nasab itu bukan sekadar silsilah, melainkan sumber legitimasi. Ia tampil sebagai pewaris Majapahit yang terbuang, anak spiritual Islam yang tercerahkan, dan keturunan Pajang yang dikhianati sejarah. Dari tubuhnya mengalir dendam panjang atas kehancuran kerajaan leluhur, penjajahan yang menginjak martabat, serta krisis moral dalam istana Mataram.

Maka, perlawanan Diponegoro adalah perang nasab, perang iman, dan perang melawan sejarah yang pincang. Ia bukan hanya anak raja, tetapi pewaris luka yang belum selesai.


Topik

Hiburan, Seni dan Budaya Sejarah Sejarah Nusantara Perang Jawa Getayu Mengamuk Kuda Diponegoro Kavaleri Kompeni



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Sri Kurnia Mahiruni