free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Agama

Pernah Ada Larangan Menulis Hadis Pernah, Ini Alasan Historis di Baliknya

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Nurlayla Ratri

20 - Jan - 2026, 10:26

Placeholder
Ilustrasi saat dahulu penulisan hadist sempat dilarang (ist)

JATIMTIMES - Pada fase paling awal sejarah Islam, penulisan hadis bukanlah sesuatu yang langsung dibolehkan. Justru sebaliknya, Rasulullah SAW sempat secara tegas melarang para sahabat mencatat ucapan dan perbuatannya. Larangan ini sering luput dipahami konteksnya, padahal ia menjadi kunci penting dalam sejarah kodifikasi ajaran Islam.

Sejak wahyu pertama turun, fokus utama umat Islam adalah menjaga kemurnian Alquran. Ayat demi ayat dihafal, diajarkan, dan ditulis di berbagai media sederhana seperti pelepah kurma, kulit binatang, tulang, hingga batu. Rasulullah SAW menempatkan Alquran sebagai satu-satunya teks suci yang harus dicatat secara resmi. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan Alquran dan Kami pula yang menjaganya” (QS al-Hijr: 9).

Baca Juga : Yai Mim Ditahan Polisi Kasus Dugaan Pornografi

Dalam situasi itulah larangan penulisan hadis diberlakukan. Abu Said al-Khudri meriwayatkan sabda Nabi SAW, “Jangan kalian menulis sesuatu dariku. Siapa yang menulis dariku selain Alquran, maka hapuslah” (HR Muslim). Pesan ini jelas, tegas, dan tanpa multitafsir. Tujuannya bukan merendahkan kedudukan hadis, melainkan mencegah risiko bercampurnya wahyu dengan penjelasan Nabi di masa ketika kemampuan baca tulis masih terbatas.

Larangan tersebut juga tercermin dalam dialog Rasulullah SAW dengan beberapa sahabat yang kedapatan mencatat hadis. Ketika mereka menjelaskan bahwa tulisan itu berisi perkataan Nabi, beliau mengingatkan bahwa umat-umat sebelum Islam tersesat karena menulis kitab-kitab lain bersamaan dengan Kitab Allah. Peringatan itu menjadi sinyal kuat bahwa prioritas utama saat itu adalah mengamankan Alquran sebagai sumber hukum tertinggi.

Namun, larangan tersebut tidak bersifat permanen. Seiring waktu, Alquran telah dihafal secara luas oleh para sahabat dan posisinya semakin kokoh dalam kehidupan umat. Kekhawatiran akan tercampurnya teks Alquran dan hadis pun berkurang. Dalam kondisi inilah Rasulullah SAW mulai memberi izin penulisan hadis secara terbatas kepada sahabat tertentu.

Abdullah bin Amr bin Ash menjadi salah satu figur penting dalam fase perubahan ini. Ia dikenal rajin mencatat setiap perkataan Rasulullah SAW. Ketika kebiasaannya itu dipersoalkan oleh sebagian orang Quraisy, Rasulullah SAW justru membenarkannya. Dengan menunjuk ke mulutnya, beliau bersabda, “Tulislah. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari sini kecuali kebenaran.”

Perubahan kebijakan dari larangan menuju pembolehan ini dipahami ulama sebagai bagian dari proses bertahap, atau dalam istilah ushul fikih dikenal dengan konsep nasakh. Larangan awal berfungsi sebagai pagar pengaman, sementara pembolehan datang ketika umat telah siap secara intelektual dan spiritual.

Baca Juga : Gerhana Matahari Total Terpanjang Abad Ini Dimulai 2026, Puncaknya Capai 6 Menit

Sejarah ini menunjukkan bahwa larangan penulisan hadis bukanlah penolakan terhadap Sunnah, melainkan strategi kenabian yang visioner. Rasulullah SAW memastikan bahwa Alquran berdiri kokoh tanpa bayang-bayang teks lain. Setelah fondasi itu kuat, hadis pun dicatat dan diwariskan sebagai penjelas Alquran, sebagaimana peran Nabi yang ditegaskan Allah SWT, “Dan Kami turunkan kepadamu Alquran agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka” (QS an-Nahl: 44).

Larangan penulisan hadis di masa awal Islam justru menjadi bukti betapa seriusnya Rasulullah SAW menjaga kemurnian wahyu. Dari kehati-hatian itulah lahir tradisi keilmuan Islam yang rapi, bertahap, dan bertanggung jawab hingga hari ini.


Topik

Agama larangan menulis hadis



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Nurlayla Ratri