STIE Malangkucecwara Lepas 4 Mahasiswa Magang ke Jepang, Terima Kembali Peserta Internship dan Student Exchange
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
02 - Mar - 2026, 04:38
JATIMTIMES – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak lulusan berdaya saing global. Pada tahun akademik 2026/2027, kampus ini menggelar agenda pelepasan empat mahasiswa program internship ke Jepang sekaligus penerimaan kembali mahasiswa yang telah menyelesaikan program magang dan student exchange selama satu tahun di Negeri Sakura, Senin (2/3/2026).
Acara yang berlangsung di lingkungan kampus tersebut dihadiri jajaran pimpinan, orang tua mahasiswa, hingga keluarga peserta yang datang dari luar daerah. Momentum ini menjadi simbol kesinambungan program internasional yang telah dijalankan secara konsisten selama bertahun-tahun.

Empat mahasiswa yang resmi diberangkatkan untuk mengikuti program internship selama satu tahun di Jepang adalah: Mercidominick Fidelius Conrad Menachem Purba, Parida Shifa Aszahri, Natercia Sarmento Mehezes dan Farida.
Baca Juga : MHQ PKS Jatim Mengharukan, Kisah Tunanetra Berjuang Hafal 11 Juz Al-Qur'an
Mereka akan menjalani program magang di berbagai sektor, mulai dari perhotelan, industri manufaktur, hingga perusahaan suku cadang yang berafiliasi dengan industri otomotif Jepang, termasuk perusahaan terkait Toyota.

Ketua Kantor Urusan Internasional (KUI) STIE Malangkucecwara Dwi Nita Aryani MM PhD menjelaskan bahwa program student exchange telah berjalan sejak 2015. Sementara program internship dimulai pada 2020. Setiap tahun, kampus mengirimkan sekitar empat hingga enam mahasiswa untuk mengikuti program di Jepang.
“Hari ini kami menerima kembali mahasiswa yang telah menyelesaikan internship dan student exchange di Jepang, termasuk yang belajar di Kanda University Jepang selama satu tahun. Bersamaan dengan itu, kami juga melepas empat mahasiswa yang akan berangkat internship,” ujarnya.

Sementara itu, mahasiswa yang telah menyelesaikan program dan kembali ke Indonesia antara lain: Muhammad Ihsanuddin Tasywiq, Septia Dara Anandita, Silmehuriyah El Fithri dan Salsabila Safira’ilma Syandairy.
Selama satu tahun di Jepang, mereka tidak hanya bekerja secara aplikatif di sektor industri dan perhotelan, tetapi juga tetap mengikuti perkuliahan secara daring untuk memenuhi kewajiban akademik di kampus.
Menurut Dwi Nita Aryani, dampak terbesar dari program ini bukan semata pengalaman kerja, melainkan pembentukan karakter dan peningkatan kapasitas diri mahasiswa.
“Yang paling terasa adalah agility mereka. Mereka lebih tangguh, cepat beradaptasi, mampu menyelesaikan masalah, dan menempatkan diri di lingkungan baru,” jelasnya.
Selain itu, mahasiswa mengalami peningkatan signifikan dari sisi attitude, skill, dan knowledge. Mereka belajar bahasa Jepang, memahami budaya kerja disiplin, serta menerapkan ilmu manajemen secara langsung di lapangan.
Menariknya, sebagian alumni program bahkan kembali bekerja di Jepang setelah masa magang selesai. Sebagian lainnya mampu memperoleh pekerjaan lebih cepat di Indonesia berkat pengalaman internasional yang dimiliki.
Meski program ini dinilai sukses, pihak kampus terus melakukan evaluasi. Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah penguatan kemampuan bahasa Jepang dan kesiapan mental mahasiswa sebelum diberangkatkan.
“Kondisi lingkungan dan budaya kerja di Jepang berbeda. Karena itu, persiapan bahasa dan mental harus terus ditingkatkan agar mahasiswa tidak mengalami banyak kendala saat di sana,” tegasnya.
Baca Juga : Kemenag Kota Malang Apresiasi Festival Ramadan Kareem, Isi Puasa dengan Kegiatan Positif dan Produktif
Perbaikan kualitas pembekalan dilakukan agar mahasiswa semakin siap menghadapi tantangan global dan meminimalkan potensi kesalahan adaptasi.
Evi Taliasari, orang tua salah satu peserta internship asal Surabaya, mengaku bangga sekaligus haru melepas putra tunggalnya ke Jepang.
Awalnya, sang anak hanya ingin mencari pengalaman magang. Namun kesempatan terbuka setelah melalui proses seleksi dan penantian cukup panjang, termasuk pengurusan Certificate of Eligibility (COE) yang memakan waktu.
“Memang ada rasa kangen karena anak tunggal. Tapi ini bagian dari pembelajaran. Kalau di rumah mungkin bisa manja, tapi di sana dia harus belajar mandiri,” ujarnya.
Putranya akan ditempatkan di bidang Food and Beverage (FB), khususnya di bagian kitchen, dengan durasi kerja delapan jam per hari selama satu tahun.
Salah satu mahasiswa yang berangkat, Mercidominick Fidelius Conrad Menachem Purba, mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2022, menegaskan bahwa internship ini selaras dengan bidang studinya.
“Internship ini bukan sepenuhnya bekerja, tapi belajar mengelola kehidupan, keuangan, dan tanggung jawab. Kami membawa nama kampus dan Indonesia, jadi harus bertanggung jawab,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa jam kerja magang berlangsung selama delapan jam per hari. Persiapan yang dilakukan meliputi kursus bahasa Jepang, penyesuaian perlengkapan sesuai musim semi (sakura), serta penguatan mental.
“Yang paling penting mental. Karena kita akan hidup di lingkungan baru dengan budaya berbeda,” katanya.
Program internship dan student exchange yang dijalankan STIE Malangkucecwara menjadi bagian dari strategi internasionalisasi kampus. Melalui pengalaman lintas negara, mahasiswa tidak hanya memperoleh kompetensi teknis, tetapi juga karakter, disiplin, dan perspektif global. Program ini bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan investasi masa depan bagi mahasiswa untuk menjadi lulusan yang adaptif, profesional, dan siap bersaing di level global.
