Jurang Inflasi Jatim Tembus 2,41 Poin: Sumenep 6,37 Persen, Gresik 3,96 Persen
Reporter
Muhammad Choirul Anwar
Editor
Nurlayla Ratri
03 - Mar - 2026, 01:49
JATIMTIMES - Inflasi tahunan Jawa Timur (Jatim) pada Februari 2026 tercatat 4,88 persen. Angka rata-rata provinsi itu menyembunyikan disparitas yang cukup lebar antar-daerah, dengan selisih inflasi tertinggi dan terendah mencapai 2,41 poin persentase.
“Pada Februari 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Jawa Timur sebesar 4,88 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,07,” ujar Plt. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jatim Herum Fajarwati.
Baca Juga : Iran Terancam Mundur dari Piala Dunia 2026, Siapa Penggantinya?
Di balik angka tersebut, terdapat perbedaan tekanan harga yang cukup kontras antar-wilayah. Ia merinci, inflasi tertinggi terjadi di Sumenep, sedangkan yang terendah tercatat di Kabupaten Gresik.
“Inflasi tertinggi terjadi di Sumenep sebesar 6,37 persen dengan IHK sebesar 115,44, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kabupaten Gresik sebesar 3,96 persen dengan IHK sebesar 108,65,” jelasnya .
Selain Sumenep, sejumlah daerah juga mencatat inflasi di atas 5 persen, yakni Kota Kediri sebesar 5,22 persen, Kota Surabaya 5,11 persen, dan Kota Probolinggo 5,04 persen. Tekanan harga di wilayah-wilayah tersebut berada di atas rata-rata provinsi, memperlihatkan dinamika harga yang lebih tinggi dibandingkan daerah lain.
Sementara itu, beberapa daerah bergerak relatif mendekati angka provinsi, seperti Kabupaten Jember dengan 4,74 persen, Banyuwangi 4,63 persen, Kota Madiun 4,52 persen, dan Kabupaten Malang 4,50 persen.
Di sisi lain, Kota Malang mencatat 4,47 persen, Kabupaten Sidoarjo 4,33 persen, dan Kabupaten Gresik 3,96 persen , menjadikan Gresik sebagai wilayah dengan tekanan harga paling rendah di Jatim.
Baca Juga : Timur Tengah Memanas, Harga Emas Diprediksi Meledak hingga Rp 3 Juta per Gram
Secara struktur, inflasi tahunan Jatim terutama dipicu oleh kenaikan pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. “Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh kenaikan indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 20,71 persen,” tambahnya.
Dengan selisih antar-wilayah yang menembus 2,41 poin, gambaran inflasi Jatim menjadi tidak sepenuhnya seragam. Rata-rata provinsi memang berada di angka 4,88 persen, tetapi pengalaman tekanan harga yang dirasakan masyarakat di masing-masing kabupaten/kota menunjukkan variasi yang cukup tajam, terutama menjelang periode konsumsi yang cenderung meningkat seperti momentum Lebaran.
