Dokter Kandungan Ternyata Lebih Didominasi Pria Dibandingkan Wanita, Ini Alasannya

Reporter

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy

19 - Apr - 2025, 06:32

Ilustrasi dokter kandungan pria. (Foto: Freepik)

JATIMTIMES - Publik lagi heboh dengan kabar dugaan pelecehan seksual oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi (obgyn) terhadap pasien di Garut. Korban pelecehan seksual bahkan disebut lebih dari satu orang.

Perlu diketahui, dokter obgyn merupakan dokter yang khusus menangani reproduksi wanita, termasuk menstruasi, kehamilan, persalinan, dan menopause. 

Baca Juga : 5 Khasiat Daun Katuk untuk Produksi ASI yang Jarang Kamu Ketahui

Ada juga dokter spesialis andrologi.  Yakni dokter spesialis yang menangani masalah pada sistem reproduksi laki-laki.

Dikutip dari situs Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), terdapat total 5.270 dokter obgyn yang terdaftar sebagai anggota.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.460 dokter obgyn berjenis kelamin laki-laki. Sementara 1.810 dokter obgyn lainnya adalah perempuan.

Melihat data tersebut, dokter yang menangani reproduksi wanita justru didominasi  dokter berjenis kelamin laki-laki. Lalu, apa yang menyebabkan lebih banyak laki-laki daripada perempuan yang bekerja sebagai dokter kandungan?

Alasan Dokter Kandungan Kebanyakan Pria

Ginekolog dr Anita Mitra dalam akun Instagram miliknya, @gynaegeek, menjelaskan alasan mengapa banyak dokter pria yang spesialisasinya di kesehatan reproduksi wanita. Salah satu alasannya ini cukup 'mengejutkan', yakni berhubungan dengan alat kesehatan yang tersedia. 

"Alat bedah umumnya dirancang untuk pria karena memiliki pegangan yang besar, yang bisa merepotkan untuk orang dengan tangan kecil (perempuan). Dan sejauh ini saya tidak mengetahui ada perusahaan yang membuat instrumen untuk tangan perempuan yang kecil. Ketika saya memberi tahu ini, sepertinya akan mengejutkan orang," kata Mitra, dilansir dari Huffpost.

Ada alasan lain mengapa banyak dokter kandungan berjenis kelamin pria. Alasan ini dapat ditemukan dalam data dari Royal College of Obstetrics and Gynaecology, seperti dijelaskan Mitra.

Disebutkan, menjelang akhir pendidikan dokter, mereka diminta untuk memilih spesialisasi. Menurut data, pria cenderung memilih ginekologi, sementara perempuan banyak yang memilih spesialisasi kebidanan (obstetri) yang fokus pada kehamilan, persalinan, dan masa nifas.

"Ginekologi adalah spesialisasi bedah yang bila dibandingkan dengan obstetri, ini banyak didominasi pria karena memiliki tantangan tersendiri," ujar Mitra.

"Pelatihan bedah bisa sangat intens dengan hari yang sangat panjang dan bisa menjadi rumit bila Anda menjalaninya saat memiliki keluarga dan bekerja sambilan, ini tidak selalu mudah," sambungnya.

Mitra menuturkan, perempuan juga masih menghadapi isu seksisme di tempat kerja. Meskipun telah berubah, harus diakui bahwa isu ini juga masih terjadi di luar profesi medis.

"Tapi syukurlah ada banyak ginekolog dan ahli bedah perempuan yang menginspirasi di luar sana. Jadi, jangan menunda bila itu adalah jalur karier yang ingin Anda jalani. Tidak ada yang tak mungkin," katanya.

Laki-Laki Tidak Nyaman Jadi Dokter Laki-Laki

Baca Juga : 5 Cara Aman Konsumsi Jahe untuk Morning Sickness Berdasarkan Penelitian Medis

Terpisah, dokter di Rwanda Xiavier Rusizana mengatakan dokter laki-laki maupun perempuan mungkin merasa tidak nyaman saat harus merawat orang yang memiliki gender sama. 

“Sama halnya ketika seorang perempuan menjadi spesialis andrologi, beberapa laki-laki mungkin merasa tidak nyaman karenanya," ucap dia dilansir dari New Times.

Dokter laki-laki, kata dia, bisa juga terinsipirasi menjadi dokter kandungan karena memiliki ibu, saudara perempuan, bibi, atau istri yang mengalami masalah reproduksi.  

"Hal ini dapat menginspirasinya untuk menjadi dokter kandungan untuk mencoba mencegah terjadinya masalah tersebut,” lanjut dia. 

Meski begitu, Xiavier memastikan dokter tetap menjalankan tugas dengan profesional meskipun berbeda gender dengan pasiennya.

Lebih Mudah Merawat Perempuan 

Sementara dikutip dari The Cut, dokter laki-laki memilih mengambil spesialisasi kandungan karena lebih mudah merawat pasien perempuan.

Pasien perempuan dinilai bersikap lebih baik dan terbuka menceritakan kondisi yang dialami. Mereka juga cenderung menjaga kondisi tubuh mereka sendiri. 

Selain itu, pelayanan kesehatan bagi perempuan lebih unggul daripada laki-laki. Contohnya, ada beragam pengobatan untuk masalah reproduksi perempuan. Ini termasuk perawatan kanker yang sering dialami perempuan seperti payudara, usus besar, leher rahim, ovarium, dan rahim.