JATIMTIMES - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ngantang tidak memiliki peralatan maupun sarana prasarana kesehatan yang lengkap, sehingga membuat pelayanan kesehatan kepada masyarakat terhambat dan tidak berjalan maksimal.
Kondisi kurangnya peralatan maupun sarana prasarana kesehatan yang menyebabkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terhambat ini diungkapkan langsung oleh Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD Ngantang Henri Sulistiyanto.
Baca Juga : Perkuat Pendidikan Inklusif, Pemkot Kediri Gelar Diklat Pendampingan Peserta Didik Disabilitas
"Masih amat sangat kekurangan sekali dan dari sisi apapun kami masih kekurangan. Dari sisi sumber daya manusia, alat, sarana prasarana, semua kekurangan. Misalkan kita mau running seperti rumah sakit yang lainnya, masih sangat-sangat jauh dari mencukupi," ungkap Henri.
Ia pun membeberkan kondisi peralatan dan sarana prasarana kesehatan di RSUD Ngantang. Henri yang merupakan dokter spesialis obstetri dan ginekologi atau dokter spesialis kandungan ini menyebutkan, bahwa di RSUD Ngantang tidak memiliki peralatan persalinan yang memadai untuk menolong ibu hamil yang akan melahirkan.
"Saya dokter spesailis kandungan, saya bicara dari sisi saya dulu. Di sini tidak ada alat yang mencukupi untuk menolong persalinan. Cuma ada satu. Satu itu pun kalau terpakai terus ada pasien lagi yang mau melahirkan juga nggak bisa. Terus saya mau bekerja seperti apa kalau mau menolong masyarakat," jelas Henri.
Selain itu, ia menuturkan, di RSUD Ngantang juga tidak terdapat alat rekam jantung bayi yang sangat dibutuhkan untuk menolong proses persalinan normal seorang ibu hamil. "Alat rekam jantung bayi itu sangat dibutuhkan agar dapat melihat kesehatan bayi seperti apa. Kalau misalnya kita tidak memakai itu nggak bisa," tutur Henri.
Kemudian ia juga menyampaikan terkait kepemilikan ventilator di RSUD Ngantang yang tidak dapat terpakai secara maksimal. Sehingga, ventilatornya ada, tetapi tidak dapat difungsikan. "Di sini kan juga banyak ventilator, tetapi ventilatornya masih belum bisa terpakai, masih ada yang kurang, konektornya yang kurang. Jadi ya nggak bisa melayani," imbuh Henri.
Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa peralatan dan sarana prasarana kesehatan di RSUD Ngantang ini sebenarnya tidak lebih lengkap daripada peralatan dan sarana prasarana kesehatan yang ada di Puskesmas Ngantang.
"Di Puskesmas sama di Rumah Sakit kalau saya lihat lebih lengkap di puskesmas daripada di sini. Seharusnya kan lebih lengkap di Rumah Sakit," tegas Henri.
Baca Juga : SIM Hampir Habis? Ini Jadwal dan Lokasi SIM Keliling Kota Malang Mei 2026
Lebih lanjut, untuk target terdekat selain pemenuhan peralatan dan sarana prasarana kesehatan, RSUD Ngantang juga mengejar target kredensialing atau kerja sama dengan BPJS Kesehatan untuk memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat.
"Untuk menjalin kerja sama dengan BPJS itu banyak sekali persyaratan yang harus dipenuhi dan itu kami belum bisa memenuhi karena keterbatasan tenaga, sarana prasarana, sehingga kami belum bisa bekerja sama dengan BPJS. Target secepatnya, kalau bisa dalam bulan ini," jelas Henri.
Pihaknya berharap, kondisi peralatan dan sarana prasarana kesehatan di RSUD Ngantang yang sangat kurang ini mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang agar dapat segera dipenuhi.
"Saya harapkan Bapak Bupati datang ke sini mengetahui kekurangan kami, baik dari segi apapun, sarana prasarana, sdm (sumber daya manusia) dan kami memohon dengan sangat agar dapat segera dipenuhi. Minimal standar minimal yang harus ada di rumah sakit," pungkas Henri.
