Beberapa bongkah batu tersusun rapi di tepi sungai di dusun Gunung Malang, Desa Ampelan, Kecamatan Wringin, Bondowoso. Desa Ampelan berpenduduk sekitar 1.600 jiwa, berjarak 13 kilometer dari pusat Kota Bondowoso.
"Hipotesis sementara kami, batu ini peninggalan era megalitikum," ungkap Misbahul Munir, ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Ampelan.
"Andai hipotesis ini benar, berarti Desa Ampelan sudah mengenal peradaban sejak puluhan abad yang lalu. Sebagai warga Ampelan, kami seharusnya bangga," tambahnya.
Merujuk pendapat pakar sejarah asal Belanda H.R. Van Heekeren dalam buku yang bertajuk
"The Bronze-iron Age of Indonesia", beberapa benda megalitikum di daerah Bondowoso sudah ada sejak kira-kira 40 abad sebelum Masehi.
Sementara itu, Ahmadi, ketua Komunitas Pemuda Ampelan Bersaudara. mengapresiasi identifikasi benda yang diduga benda megalitikum tersebut serta berharap agar warga Desa Ampelan semakin cinta dan peduli terhadap desa dan alam di sekitarnya.
"Semoga keberadaan batu itu dapat mempertebal rasa cinta dan kepedulian kita terhadap alam dan lingkungan di sekitar kita", ujarnya.
"Semoga ke depan para pemuda Ampelan dapat mewarisi semangat para leluhur untuk selalu merawat dan bersahabat dengan alam," tambahnya.
