free web hit counter
Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Peristiwa

Adik Keisya Levronka Jatuh dari Lantai 6 Saat Latihan Kampus, Ibu Tagih Tanggung Jawab Kampus

Penulis : Mutmainah J - Editor : Dede Nana

03 - Feb - 2026, 09:19

Placeholder
Keluarga Keisya Levronka. (Foto Instagram)

JATIMTIMES - Kasus kecelakaan yang menimpa Lexi Valleno Havlenda, adik dari penyanyi Keisya Levronka, kembali menjadi perhatian publik setelah sang ibu, Levi Leonita Davies, menyuarakan keluhannya melalui media sosial. Peristiwa yang sebenarnya terjadi sekitar dua tahun lalu itu mencuat kembali setelah Levi mengaku sudah kehabisan cara untuk mencari kejelasan tanggung jawab dari pihak-pihak terkait.

Lewat akun Instagram pribadinya, @levihavron, Levi mengungkap alasan mengapa ia akhirnya memilih berbicara secara terbuka. Ia menyebut komunikasi dengan pihak yang terlibat tidak berjalan mudah, sementara kondisi anaknya masih membutuhkan penanganan medis hingga sekarang. 

Baca Juga : Dinsos-P3AP2KB Kota Malang Gelar Sosialisasi Penguatan Layanan Dunia Usaha Sahabat Anak

Unggahan tersebut langsung menyedot perhatian warganet hingga beberapa selebritas rekan Keisya yakni Tiara Andini, Mahalini Raharja dan Ziva Magnolya karena menyangkut keselamatan mahasiswa dalam kegiatan kampus.

Lexi Valleno Havlenda diketahui merupakan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Tarumanagara (Untar) angkatan 2023. Ia aktif mengikuti kegiatan kemahasiswaan dan tergabung dalam Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Mahasiswa Hukum Pencinta Alam (MAHUPA). UKM pecinta alam umumnya memiliki kegiatan fisik dan lapangan, termasuk pelatihan teknik dasar yang berkaitan dengan alam bebas dan aktivitas vertikal.

Menurut penuturan Levi, kecelakaan terjadi saat Lexi mengikuti latihan yang berkaitan dengan aktivitas panjat atau eksplorasi vertikal di area kampus. Dalam kegiatan tersebut, alat pengaman yang digunakan disebut terlepas, hingga menyebabkan Lexi terjatuh dari lantai enam gedung kampus.

Tak hanya soal jatuhnya Lexi, Levi juga menyoroti penanganan awal setelah insiden. Ia menilai prosedur darurat yang dilakukan saat itu tidak tepat untuk kondisi korban jatuh dari ketinggian.

Dalam unggahannya, Levi menyebut anaknya sempat dibopong, didudukkan di kursi roda, lalu dibawa menggunakan taksi online, bukan ambulans. Baginya, langkah tersebut berisiko memperparah cedera, terutama jika terjadi cedera tulang belakang atau saraf.

“Pertanyaannya kenapa tidak memanggil ambulans? Memanggil taksi online pun sama-sama menunggu. Dan kenapa anak saya diangkat dan didudukkan, yang mungkin jika itu tidak dilakukan cederanya tidak fatal seperti ini,” tulis Levi dalam unggahannya di Instagram @levihavron, dikutip Selasa (3/2/2026).

Pernyataan ini memicu diskusi di masyarakat soal standar keselamatan kegiatan mahasiswa berisiko tinggi, serta pentingnya prosedur pertolongan pertama yang sesuai ketika terjadi kecelakaan berat.

Levi mengungkapkan bahwa dampak kecelakaan tersebut tidak berhenti pada hari kejadian. Hingga kini, Lexi masih harus menjalani rangkaian perawatan medis jangka panjang.

Ia rutin kontrol ke beberapa dokter spesialis, menjalani terapi saraf, serta mengonsumsi obat jalan. Proses pemulihan yang panjang ini tentu berdampak tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan finansial bagi keluarga.

“Lalu siapa yang bertanggung jawab? Tidak ada. Saling lempar dan janji-janji tak pasti. Sampai saat ini dan entah sampai kapan anak saya masih harus kontrol beberapa spesialis, terapi saraf, dan obat jalan. Sementara dari pihak kampus atau organisasi tidak ada kejelasan,” tulis Levi.

Ungkapan tersebut menggambarkan kekecewaan keluarga yang merasa belum memperoleh kepastian mengenai bentuk tanggung jawab atas kejadian yang dialami Lexi.

Baca Juga : Jalan Berlubang Picu Kecelakaan Maut, Pengendara Motor Pegawai Pasar di Tulungagung Tewas di Tempat

Klarifikasi Resmi dari Universitas Tarumanagara

Menanggapi ramainya perbincangan publik, Universitas Tarumanagara menyampaikan klarifikasi melalui Instagram Story. Dalam pernyataan tersebut, pihak kampus menegaskan telah menunjukkan empati dan itikad baik sejak awal kejadian.

Untar menyebut sudah menawarkan dukungan bantuan sesuai kapasitas institusi serta membuka ruang dialog dengan keluarga korban. Namun, disebutkan ada perbedaan pandangan terkait bentuk bantuan yang diajukan.

“Untar telah menyampaikan kesediaan memberikan bantuan secara proporsional sesuai kewenangan universitas. Namun, pihak keluarga mengajukan permintaan di luar cakupan yang dapat kami penuhi sehingga tidak tercapai kesepakatan,” tulis pernyataan resmi Untar.

Dalam klarifikasi yang sama, pihak Untar juga menegaskan bahwa kegiatan latihan wall climbing tersebut disebut dilakukan tanpa izin resmi universitas. Kegiatan itu disebut berlangsung pada hari libur, saat tidak ada aktivitas operasional kampus.

Pihak kampus menyatakan petugas keamanan sempat melarang kegiatan tersebut, namun tetap dijalankan oleh pihak UKM. Hal ini menambah lapisan persoalan, karena menyangkut prosedur perizinan, pengawasan, serta tanggung jawab dalam kegiatan mahasiswa yang berisiko tinggi.

“Kami menyesalkan kejadian ini dan berharap mahasiswa yang bersangkutan dapat segera pulih. Ke depan, Untar berkomitmen memperkuat pelatihan dan pengawasan terhadap kegiatan kemahasiswaan agar kejadian serupa tidak terulang,” lanjut pernyataan tersebut.

Untar juga mengimbau masyarakat untuk menyikapi kasus ini secara bijaksana, menilai informasi secara objektif, dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan sebelum memahami situasi secara utuh.

Kasus yang dialami Lexi Valleno Havlenda tidak hanya menyisakan duka bagi keluarga, tetapi juga memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai standar keselamatan, pengawasan, serta kesiapan prosedur darurat dalam kegiatan kemahasiswaan yang berisiko tinggi. Aktivitas seperti panjat tebing atau teknik vertikal memang sarat pembelajaran, namun tetap menuntut perencanaan matang, peralatan layak, pendamping berkompeten, serta sistem respons medis yang cepat dan tepat ketika insiden terjadi.

Di sisi lain, perbedaan pandangan antara keluarga korban dan pihak kampus menunjukkan pentingnya komunikasi terbuka serta kejelasan tanggung jawab agar persoalan tidak berlarut-larut. Sementara proses pemulihan Lexi masih berjalan, publik pun diingatkan untuk menyikapi kasus ini secara bijak, menunggu kejelasan fakta secara utuh, sekaligus menjadikannya pelajaran agar keselamatan mahasiswa benar-benar menjadi prioritas utama di setiap kegiatan kampus.


Topik

Peristiwa Lexi Valleno Havlenda Keisya Levronka universitas tarumanagara



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Dede Nana

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa