JATIMTIMES - Uji kandungan bakteri pada usus ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) mengungkap adanya indikasi Escherichia coli atau e. coli melebihi ambang batas aman di tengah maraknya perburuan spesies invasif ini di sejumlah perairan Indonesia. Komunikator sains Andrea Novita menilai temuan tersebut berkaitan erat dengan kondisi lingkungan air yang tercemar.
Temuan menarik dilakukan Andrea dari uji sederhana yang dilakukan terhadap organ dalam ikan sapu-sapu. Sampel usus ikan diuji menggunakan media khusus untuk mendeteksi keberadaan bakteri berbahaya seperti Salmonella dan Escherichia coli.
Baca Juga : One Piece 1182 Tunda Rilis, Ini Penyebabnya
Hasil pengamatan menunjukkan tidak ditemukannya koloni hitam yang biasanya menjadi indikator keberadaan Salmonella. Namun, koloni berwarna merah muda atau pink justru mendominasi media, yang mengarah pada indikasi bakteri E. coli.
Temuan ini semakin menguat setelah dibandingkan dengan hasil uji kuantitatif menggunakan metode MPN (most probable number), yang menunjukkan angka 24 MPN per gram. Angka tersebut jauh melampaui ambang batas aman yang umumnya berada di kisaran 3 MPN per gram.
Andrea, menilai temuan ini menjadi sinyal penting terkait kondisi lingkungan perairan tempat ikan tersebut hidup. “Kalau kandungan E. coli-nya sampai delapan kali di atas ambang batas, itu bukan cuma soal ikannya, tapi menunjukkan kualitas airnya memang kurang baik,” jelasnya.
Menurut dia, bakteri E. coli umumnya berasal dari kontaminasi limbah, terutama yang berkaitan dengan aktivitas domestik atau sanitasi yang tidak optimal. Kehadiran bakteri ini dalam jumlah tinggi dapat menjadi indikator bahwa perairan telah tercemar.
“E. coli itu indikator klasik pencemaran. Kalau tinggi, kemungkinan besar ada kontaminasi dari limbah, dan itu bisa berdampak ke organisme lain, termasuk manusia kalau dikonsumsi tanpa pengolahan yang benar,” tambahnya.
Kondisi ini juga memperkuat alasan mengapa ikan sapu-sapu semakin gencar diburu di berbagai daerah. Selain karena sifatnya yang invasif dan merusak habitat, kualitas lingkungan tempat hidupnya turut menjadi perhatian, terutama jika dikaitkan dengan potensi risiko kesehatan.
Baca Juga : Pemkab Malang Dapat Jatah 32 Ribu Dosis Vaksin PMK untuk Ternak Warga, Distribusi Sudah Capai 80 Persen
Di sejumlah wilayah, ikan sapu-sapu bahkan ditangkap secara massal untuk dimusnahkan demi menjaga keseimbangan ekosistem. Populasinya yang cepat berkembang membuat spesies ini mendominasi dan menggeser ikan lokal.
Meski demikian, Andrea mengingatkan bahwa persoalan utama tetap berada pada kondisi lingkungan yang perlu diperbaiki secara menyeluruh.
“Mengendalikan ikan invasif itu penting, tapi yang lebih penting adalah memperbaiki kualitas perairannya. Kalau sumber pencemarannya tidak ditangani, masalah serupa akan terus berulang,” tegasnya.
