JATIMTIMES - Ketua DPRD Kota Malang Amithya Ratnanggani Sirraduhita menilai Fatayat NU memiliki posisi strategis dalam menjawab berbagai tantangan sosial yang dihadapi perempuan saat ini.
Pandangan tersebut disampaikannya bertepatan dengan pelantikan Pengurus Cabang (PC) Fatayat NU Kota Malang masa khidmat 2025-2030, Minggu (31/5/2026) di Universitas Islam Malang (Unisma). Pelantikan itu juga menjadi momentum dimulainya kepemimpinan baru organisasi perempuan muda Nahdlatul Ulama tersebut.
Baca Juga : DPRD Kota Malang Kawal Pengisian Jabatan Kosong, Hampir 800 ASN Pensiun dalam Dua Tahun
Menurut Amithya, sejumlah program prioritas yang dipaparkan kepengurusan baru Fatayat NU Kota Malang menunjukkan arah gerak organisasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama dalam membangun karakter perempuan di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
"Tadi saya mendengar ada lima program yang menjadi highlight di periode ini. Saya berharap bisa berkolaborasi karena memang titik beratnya adalah bagaimana kemudian membangun karakter, khususnya untuk para perempuan. Dan ini memang tidak bisa kita lakukan sendirian sebagai salah satu pemangku kepentingan yang ada di dalam pemerintahan dan juga masyarakat," ujar Amithya.
Ia menegaskan bahwa penguatan perempuan membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah, organisasi kemasyarakatan, hingga komunitas akar rumput perlu membangun kerja sama yang lebih erat agar program pemberdayaan dapat menjangkau masyarakat secara luas.
"Saya kira ini merupakan satu hal yang baik untuk bisa kita rajut kembali, atau kita mulai untuk dirajut untuk kerja sama, dan juga bagaimana sama-sama bisa memberikan kontribusi untuk masyarakat, khususnya Kota Malang," kata Amithya.
Menurut dia, salah satu isu yang perlu mendapat perhatian serius adalah disrupsi teknologi. Perkembangan teknologi digital yang semakin masif dinilai menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa diabaikan, terutama bagi perempuan dan keluarga.
"Saya kira secara konsep utama yang di-highlight adalah mengenai bagaimana kita bisa menghadapi isu disrupsi teknologi yang tantangannya sangat luar biasa. Apalagi saat ini ekspansi teknologi semakin sulit dikontrol. Apabila tidak diimbangi dengan pengetahuan dan cara mitigasi yang tepat, maka ini akan menjadi persoalan bersama," ungkapnya.
Amithya memandang Fatayat NU dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam memberikan edukasi, sosialisasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat. Menurut dia, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan sosial yang muncul akibat perubahan zaman.
"Salah satu pemangku kepentingan seperti Fatayat NU ini bisa turun bersama-sama dengan kami ke masyarakat. Edukasi, sosialisasi, dan peningkatan kapasitas masyarakat, khususnya perempuan, sangat dibutuhkan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri karena memang membutuhkan gotong royong dan tangan-tangan dari teman-teman yang sangat ahli di bidangnya," ujarnya.
Ia juga menyoroti kontribusi Fatayat NU dalam berbagai pembahasan kebijakan daerah. Keterlibatan organisasi tersebut dalam isu kepemudaan maupun pengarusutamaan gender dinilai menjadi bukti bahwa Fatayat telah mengambil peran penting dalam pembangunan Kota Malang.
"Saya kira peran Fatayat untuk Kota Malang sangat luar biasa. Ketika perda kepemudaan dibahas, kemudian pengarusutamaan gender juga kita libatkan. Itu menjadi pintu masuk bagi teman-teman untuk terus memberikan kontribusi bersama-sama dengan kami yang ada di DPR," katanya.

Pelantikan pengurus PC Fatayat NU Kota Malang periode 2025-2030 juga mendapat perhatian dari Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang KH Dr Isroqunnajah MAg. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran pengurus yang telah resmi dilantik setelah melalui proses yang cukup panjang.
"Saya memberikan apresiasi dan ucapan selamat terkait pelantikan hari ini. Saya juga memberikan apresiasi kepada ketua terpilih dan seluruh pengurus yang hari ini mendapatkan amanah," ujarnya.
Isroqunnajah menilai terdapat sejumlah isu penting yang perlu menjadi perhatian Fatayat NU selama lima tahun ke depan. Salah satunya adalah penguatan kedaulatan digital dan ketahanan keluarga di tengah derasnya arus informasi yang beredar melalui media sosial.
Baca Juga : Libur Panjang di Banyuwangi? Event Senja di AWT Hadirkan Kuliner, Seni, dan Pemandangan Gunung Ijen
"Fatayat perlu memberi atensi terhadap penguatan kedaulatan digital dan ketahanan keluarga. Bagaimana Fatayat mampu membentengi keluarga dari serangan ideologi transnasional yang sampai hari ini belum selesai, termasuk dari berbagai konten negatif di media sosial," katanya.
Selain itu, ia mendorong Fatayat NU untuk terlibat aktif dalam upaya memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya perempuan. Menurutnya, situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian membutuhkan kader-kader perempuan yang mampu beradaptasi dan menciptakan peluang ekonomi baru.
"Fatayat bersama elemen lain, baik organisasi sosial kemasyarakatan maupun pemerintah kota, perlu memformat kembali kemandirian ekonomi di tengah ketidakpastian dunia. Harapannya mampu melahirkan sociopreneur yang adaptif sehingga ekonomi keluarga tetap tangguh dan mampu bertahan menghadapi badai ekonomi global," ujarnya.
Di sisi lain, Isroqunnajah menyoroti maraknya berbagai kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan yang belakangan menjadi perhatian publik. Ia berharap Fatayat NU dapat mengambil peran lebih besar dalam memberikan literasi dan edukasi pencegahan kekerasan kepada masyarakat.
"Fatayat harus ikut mengawal isu perlindungan anak dan pencegahan kekerasan seperti yang sering kita saksikan di berbagai media. Saya prihatin dengan berbagai kasus yang terjadi. Teman-teman Fatayat bisa memberikan literasi kepada anak-anak dan kader-kadernya untuk berani mengatakan tidak ketika mendapatkan perlakuan yang tidak semestinya," katanya.
Ia mengaku menyesalkan munculnya berbagai kasus tindakan asusila yang terjadi di sejumlah lingkungan pendidikan keagamaan dan menjadi sorotan publik. Meski demikian, menurut dia, peristiwa tersebut harus dijadikan momentum untuk memperkuat edukasi perlindungan anak dan membangun kesadaran masyarakat agar lebih berani melawan kekerasan.
Lebih lanjut, Isroqunnajah menegaskan bahwa perempuan memiliki peran sentral dalam kehidupan berbangsa. Karena itu, penguatan kapasitas perempuan melalui organisasi seperti Fatayat NU menjadi sangat penting.
"Al mar'ah imadul bilad, perempuan adalah tiang penyangga negeri. Ketika perempuan tangguh, memiliki ketahanan, kepekaan, dan literasi yang cukup, maka itu akan menjadi modal besar bagi masa depan bangsa dan kader-kader kita," ujarnya.
Ia berharap kepengurusan baru PC Fatayat NU Kota Malang mampu menerjemahkan berbagai tantangan tersebut ke dalam program nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Dengan dukungan pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan jaringan NU, Fatayat NU diharapkan dapat memperkuat perannya sebagai penggerak pemberdayaan perempuan sekaligus mitra strategis dalam menjawab berbagai persoalan sosial di Kota Malang.
