Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Khutbah Jumat 5 Juni 2026: Memerangi Korupsi, Menjaga Amanah Warisan Rasulullah

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

05 - Jun - 2026, 08:27

Placeholder
Ilustrasi khutbah jumat. (Foto: laman Masjid Raya KH Hasyim Asyari)

JATIMTIMES - Korupsi masih menjadi persoalan besar yang terus menggerogoti kehidupan bangsa. Praktik yang lahir dari ketidakjujuran dan penyalahgunaan amanah ini tidak hanya merugikan negara, tetapi juga menghilangkan hak-hak masyarakat yang semestinya dapat dinikmati bersama. 

Karena itu, upaya memberantas korupsi tidak cukup hanya mengandalkan penegakan hukum, melainkan juga membutuhkan kesadaran moral dan spiritual dari setiap individu.

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Pon 5 Juni 2026: Hari Baik tuk Tagih Utang 

Dalam pandangan Islam, amanah merupakan nilai yang sangat dijunjung tinggi. Rasulullah SAW mengajarkan umatnya untuk berlaku jujur, bertanggung jawab, dan menjauhi segala bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan yang diberikan. 

Khutbah Jumat kali ini mengajak jemaah merenungkan kembali pentingnya menjaga amanah serta meneguhkan komitmen untuk menolak segala bentuk korupsi sebagai bagian dari ikhtiar meneladani sunah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِله، اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي وَفَّقَ بِرَحْمَتِهِ مَنْ شَاءَ مِنْ عِبَادِهِ، فَعَرَفُوْا أَقْدَارَ مَوَاسِمِ الْخَيْرَاتِ، وَعَمَّرُوْهَا بِالْإِكْثَارِ مِنَ الطَّاعَاتِ، وَخَذَلَ مَنْ شَاءَ بِحِكْمَتِهِ، فَعَمِيَتْ مِنْهُمُ الْقُلُوْبُ وَالْبَصَائِرُ، وَفَرَطُوْا فِى تِلْكَ الْمَوَاسِمِ فَبَاءُوْا بِالْخَسَائِرِ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَقْوَمُ النَّاسِ بِطَاعَةِ رَبِّهِ فِى الْبَوَاطِنِ وَالظَّوَاهِرِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ
فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ حَفِظَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بَتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُوْنَ

Hadirin jemaah Jumat hafidhakumullah,

Segala puji hanya milik Allah swt yang telah melimpahkan kepada kita nikmat iman, Islam, kesehatan, serta berbagai karunia yang tak terhitung jumlahnya. Berkat nikmat tersebut, pada hari ini kita masih diberi kesempatan untuk hadir memenuhi panggilan-Nya dalam ibadah salat Jumat.

Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, teladan terbaik sepanjang zaman yang telah membimbing umat manusia menuju jalan kebenaran.

Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jemaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt. Ketakwaan itu diwujudkan dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya dalam setiap aspek kehidupan.

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat kembali dikejutkan oleh berbagai kasus korupsi yang mencuat ke publik. Fenomena ini menjadi kenyataan pahit yang sekaligus menjadi tamparan keras bagi upaya pemberantasan korupsi di negeri ini. 

Berbagai gerakan antikorupsi yang selama ini diperjuangkan terasa belum mampu menghilangkan praktik-praktik yang merugikan masyarakat dan negara.

Lalu muncul pertanyaan bagi kita semua, khususnya sebagai bangsa yang mayoritas penduduknya beragama Islam, bagaimana ajaran agama dapat dioptimalkan untuk memperkuat gerakan pemberantasan korupsi?

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Jauh sebelum persoalan korupsi menjadi isu besar seperti sekarang, Rasulullah saw telah memberikan teladan dan peringatan yang sangat tegas terkait penyalahgunaan amanah.

Pada masa Rasulullah saw, terdapat seorang petugas pengumpul zakat dari Bani Sulaim bernama Abdullah bin Al-Lutbiyyah. Ia dinilai melakukan tindakan koruptif karena menerima hadiah dari masyarakat yang berada dalam wilayah tugasnya.

Ketika mengetahui hal tersebut, Rasulullah saw langsung menyampaikan teguran di hadapan para sahabat. Beliau menjelaskan bahwa seorang pejabat atau petugas yang diberi amanah negara tidak layak menerima hadiah dari masyarakat yang berhubungan dengan tugasnya. Dalam pandangan Islam, hadiah semacam itu dapat menjadi pintu masuk penyalahgunaan kekuasaan.

Tidak hanya itu, Rasulullah saw juga telah mengingatkan berbagai bentuk korupsi lain yang bersifat sistemik, seperti mengambil harta di luar hak yang semestinya diterima, menggelapkan kekayaan negara, hingga menguasai hak milik orang lain secara tidak sah.

Allah swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ وَلاَ تَقْتُلُواْ أَنفُسَكُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
(النساء: 29)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang tidak benar, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS An-Nisa’: 29)

Selain korupsi yang terjadi dalam sistem pemerintahan, Islam juga mengingatkan bahaya korupsi yang dilakukan secara pribadi atau di luar struktur birokrasi.

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Mid'am atau Kirkirah pernah ditugaskan membawa harta rampasan perang. Dalam sebuah peperangan ia wafat terkena anak panah musuh. Banyak sahabat mengira bahwa ia memperoleh kedudukan syahid dan menjadi penghuni surga.

Namun di luar dugaan, Rasulullah saw berdiri di tengah majelis dan menyatakan bahwa Mid'am justru berada dalam siksa. Para sahabat kemudian mencari tahu penyebabnya. Setelah ditelusuri, ditemukan fakta bahwa Mid'am pernah mengambil sehelai mantel dari harta rampasan perang tanpa hak.

Kisah ini menunjukkan bahwa pengkhianatan terhadap amanah, sekecil apa pun bentuknya, merupakan perkara yang sangat serius dalam pandangan Islam.

Berbagai praktik korupsi yang kita saksikan pada masa sekarang sesungguhnya telah lama diperingatkan dan diperangi oleh Rasulullah saw. Beliau melarang umatnya mendekati segala bentuk pengkhianatan terhadap amanah karena korupsi merupakan tindakan yang merusak keadilan dan merugikan banyak pihak.

Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila dalam hadis sahih Rasulullah saw memberikan ancaman keras kepada pelaku suap, baik yang memberi maupun yang menerima.

Sebagaimana disebutkan dalam Sunan Abi Dawud:

Baca Juga : Kalender Jawa Weton Jumat Pon 5 Juni 2026: Hari Baik tuk Tagih Utang 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللهِ الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ
(رواه أبو داود)

Artinya: “Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr ra, ia berkata: Rasulullah saw melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap.” (HR Abu Dawud)

Jemaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada beberapa langkah yang dapat menjadi fondasi dalam memperkuat gerakan pemberantasan korupsi.

Pertama, menginternalisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. 

Keberagamaan sejatinya tidak berhenti pada simbol-simbol lahiriah. Keimanan tidak cukup hanya ditunjukkan melalui pakaian, atribut, atau identitas keagamaan semata. Simbol memang penting, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai agama benar-benar hidup dalam hati dan tercermin dalam perilaku.

Korupsi akan lebih mudah dihindari apabila setiap pemeluk agama mampu menanamkan sifat amanah, jujur, zuhud terhadap kemewahan dunia yang berlebihan, serta memiliki rasa takut kepada Allah swt.

Ketika nilai-nilai tersebut hilang, seseorang tidak lagi merasa malu melakukan penyimpangan, sekalipun ia memahami ajaran agama. Oleh karena itu, iman harus diwujudkan dalam tindakan nyata, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kedua, memperluas semangat antikorupsi melalui berbagai sarana komunikasi, termasuk media digital.

Sejarah mencatat bahwa pada awal masa kepemimpinannya, Khalifah Umar bin Khattab ra melakukan langkah tegas dengan membersihkan praktik korupsi di kalangan pejabat.

Umar dikenal sebagai pemimpin yang sangat keras terhadap penyalahgunaan jabatan. Seluruh pejabat di wilayah kekuasaannya diwajibkan melaporkan kekayaan yang dimiliki.

Dalam salah satu peristiwa, Gubernur Mesir, Amru bin Ash, diperintahkan mengembalikan harta yang dianggap diperoleh secara tidak wajar ke kas negara. Bahkan istri Khalifah Umar sendiri juga diminta menyerahkan hadiah yang diterimanya dari Kaisar Romawi Timur ke Baitul Mal.

Kisah tersebut menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi harus dimulai dari keteladanan para pemimpin dan dilakukan tanpa pandang bulu.

Ketiga, memperkuat solidaritas dan kekompakan kelompok-kelompok yang memiliki kepedulian terhadap pemberantasan korupsi.

Bangsa Indonesia memiliki banyak elemen masyarakat yang selama ini mendukung upaya pemberantasan korupsi. Agar gerakan tersebut tetap kuat dan tidak mudah goyah, dibutuhkan fondasi moral dan spiritual yang kokoh.

Pada masa Rasulullah saw dan para khalifah sesudahnya, masyarakat dibimbing untuk memahami ajaran agama sekaligus menjadikannya pedoman dalam kehidupan sosial. Dengan demikian, kesadaran antikorupsi tidak hanya lahir dari aturan hukum, tetapi juga tumbuh dari keyakinan agama dan tanggung jawab moral.

Jemaah Jumat rahimakumullah,

Melalui tiga langkah tersebut, umat Islam memiliki tanggung jawab untuk ikut terlibat dalam membangun kehidupan yang bersih dari korupsi.

Nilai-nilai luhur yang diajarkan agama seperti amanah, kejujuran, keadilan, tidak merugikan orang lain, serta tidak mengambil hak yang bukan miliknya harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah swt senantiasa membimbing kita agar mampu menjaga amanah, menjauhi segala bentuk korupsi, serta menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi agama, bangsa, dan negara. Amin ya Rabbal ‘alamin.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَاِن الرَّ جِيْمِ . ِبسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّ حِيْمِ
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِۙ ۝١
مَلِكِ النَّاسِۙ ۝٢
اِلٰهِ النَّاسِۙ ۝٣
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ ەۙ الْخَنَّاسِۖ ۝٤
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ۝٥
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِࣖ ۝٦.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ، 
فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بَتَقْوَى اللهِ اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا،
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ، اَللَّهُمَّ لَا تَدَعْ لَنَا ذَنْبًا اِلَّا غَفَرْتَهُ وَلَا عَيْبًا اِلَّا سَتَرْتَهُ وَلَا هَمًّا اِلَّا فَرَجْتَهُ وَلَا ضَرًّا اِلَّا كَشَفْتَهُ وَلَا دَيْنًا اِلَّا أَدَيْتَهُ وَلَا حَجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا وَالْأَخِرَةِ اِلَّا قَضَيْتَهَا وَلَا مَرِيْضًا اِلَّا شَفَيْتَهُ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
عِبَادَ الله إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وِالْإِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.


Topik

Agama rasuulullah saw rasulullah khutbah jumat



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Agama

Artikel terkait di Agama