Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Ketahanan Pangan Masih Bergantung Impor, Dokter Hewan Desak Regulasi Tak Berhenti di Atas Kertas

Penulis : Riski Wijaya - Editor : Nurlayla Ratri

26 - Jul - 2026, 11:39

Placeholder
Sarasehan PDHI Jawa Timur.(Foto: Istimewa).

JATIMTIMES – Target pemerintah membangun ketahanan pangan berbasis protein hewani dinilai masih menghadapi tantangan besar. Ketergantungan terhadap impor susu, daging, hingga bahan baku pakan ternak menunjukkan fondasi sektor peternakan nasional belum cukup kuat menopang kebutuhan dalam negeri.

Persoalan itu menjadi sorotan dalam Sarasehan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang se-Jawa Timur di Best Resort Hotel & Waterpark Lawang, Kabupaten Malang, Jumat (25/7/2026).

Baca Juga : Ada JFC, Ning Gyta Ajak Masyarakat Jaga Kebersihan Selama Event Berlangsung

Forum tersebut diikuti delegasi dari 10 cabang PDHI di Jawa Timur untuk membahas kontribusi profesi dokter hewan dalam mendukung visi ketahanan pangan nasional.

Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. drh. Puguh Pamungkas MM, menilai target swasembada pangan tidak akan tercapai apabila hanya mengandalkan semangat politik tanpa diikuti kebijakan yang terintegrasi.

"Penyelenggaraan tersebut tidak bisa dengan semangat saja karena komponen trias politica harus berfungsi sebagaimana mestinya sehingga kedaulatan pangan bisa terselenggara," ujar Puguh.

Ia menambahkan pemerintah daerah perlu memberikan perhatian lebih besar kepada sektor pertanian dan peternakan. Menurutnya, dokter hewan juga harus aktif menyampaikan masukan berbasis kajian agar kebijakan dan regulasi sektor peternakan tidak berhenti pada tataran administratif.

Sementara itu, Pejabat Otoritas Veteriner Dinas Peternakan Jawa Timur, Dr. drh. Iswahyudi MP, mengungkapkan Indonesia masih mengalami defisit sekitar 800 ton susu segar per hari dari total kebutuhan 2.000 ton per hari. 

Kondisi tersebut diperkirakan semakin berat setelah adanya tambahan kebutuhan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Untuk menutup kekurangan itu, pemerintah menargetkan penambahan populasi sapi perah hingga 1,7 juta ekor melalui impor dari Australia, Brasil, dan Meksiko. 

Langkah tersebut menunjukkan produksi susu domestik masih belum mampu mengejar kebutuhan nasional.

Baca Juga : Mengenal Suweg, Tanaman Unik Mirip Bunga Bangkai yang Bisa Dimakan dan Jadi Superfood Lokal

Korwil PDHI Jawa Timur, drh. Deddy F. Kurniawan M.Vet, menilai tantangan sektor peternakan tidak hanya berkaitan dengan produksi. Menurutnya, rendahnya konsumsi protein hewani juga berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Ia memaparkan sekitar 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor, sementara impor daging telah melampaui 50 persen.

Di sisi lain, kebutuhan bahan baku pakan ternak juga terus meningkat sehingga memperlihatkan tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar negeri.

"Dokter Hewan Indonesia harus segera merapikan diri, memperkuat organisasi profesi dan membutuhkan kolaborasi dari semua kompetensi dalam menciptakan kepemimpinan Veteriner yang kuat, kolaboratif, kreatif serta visioner untuk berkontribusi dalam menjawab tantangan dan peluang ini agar memberi manfaat bagi masyarakat Indonesia," kata Deddy.

Selain membahas strategi ketahanan pangan, forum tersebut juga diisi diskusi dan deklarasi dukungan dari PDHI cabang se-Jawa Timur kepada drh. Deddy F. Kurniawan M.Vet untuk maju sebagai Ketua Umum Pengurus Besar PDHI.


Topik

Peristiwa DPRD Jatim Puguh Wiji Pamungkas pdhi jawa timur ketahanan pangan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Riski Wijaya

Editor

Nurlayla Ratri