Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

BEN Carnival 2026 Usung Nusantara Retrofuturism, Wali Kota Mas Ibin Perkuat Blitar sebagai Kota Budaya

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

23 - Aug - 2026, 08:58

Placeholder
Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin (Mas Ibin) bersama Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur M. Hadi Wawan Guntoro yang mewakili Gubernur Jawa Timur, Ketua DPRD Kota Blitar Syahrul Alim, anggota DPRD Provinsi Jawa Timur Guntur Wahono dan Ahmad Tamim, serta jajaran Forkopimda mengikuti prosesi penyatuan tujuh mata air sebagai tanda dibukanya 5th Blitar Ethnic National (BEN) Night Carnival 2026, Sabtu (22/8/2026) malam.(Foto: Pemkot Blitar)

JATIMTIMES – Blitar Ethnic National (BEN) Carnival 2026 kembali menegaskan wajah Kota Blitar sebagai ruang perjumpaan budaya Nusantara. Memasuki penyelenggaraan kelima, festival tahunan itu untuk pertama kalinya digelar pada malam hari, Sabtu (22/8/2026), dengan mengusung tema “Nusantara Retrofuturism: Harmoni Tradisi Menuju Kota Masa Depan.”

Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin atau Mas Ibin membuka langsung 5th BEN Night Carnival 2026. Pembukaan ditandai dengan prosesi penyatuan tujuh mata air bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kota Blitar dan sejumlah anggota DPRD Provinsi Jawa Timur.

Baca Juga : Kirab Ancak Agung di Jember Catat Dua Rekor MURI

Hadir dalam agenda tersebut Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur M. Hadi Wawan Guntoro yang mewakili Gubernur Jawa Timur, serta anggota DPRD Jawa Timur Guntur Wahono dan Ahmad Tamim. Pembukaan juga dihadiri perwakilan pemerintah daerah, Bakorwil III Malang, instansi vertikal, BUMN/BUMD, serta camat dan lurah se-Kota Blitar.

BEN Carnival tahun ini terasa berbeda. Selain bertepatan dengan semarak HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, penyelenggaraan pada malam hari memberi ruang baru bagi eksplorasi artistik sekaligus kenyamanan penonton.

“Karena ini edisi kelima atau sudah lima tahun, mulai tahun ini kita coba tampilkan di malam hari. Kita ingin menampilkan hal yang berbeda,” kata Mas Ibin.

Rute karnaval masih mengambil jalur yang sama seperti tahun sebelumnya, dimulai dari depan Alun-Alun Kota Blitar dan berakhir di depan SMP Negeri 1 Kota Blitar. Pemkot membuka kemungkinan memperpanjang lintasan pada tahun-tahun berikutnya agar semakin banyak masyarakat dapat menikmati pertunjukan.

Ben carnival

40 Penampilan Membawa Wajah Nusantara

BEN Carnival tetap mempertahankan kebudayaan sebagai inti pertunjukan. Sebanyak 40 penampilan dihadirkan dengan mewakili ragam tradisi dari 34 provinsi di Indonesia. Kostum, tari, musik, dan koreografi menjadi medium untuk memperlihatkan besarnya kekayaan budaya Nusantara.

Mas Ibin mengatakan konsep tersebut tidak hanya ditujukan sebagai hiburan. BEN Carnival juga diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat tentang keragaman Indonesia.

“Kita punya ribuan adat dan budaya Nusantara. Kita tampilkan dengan 40 penampilan yang mewakili 34 provinsi di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia menilai momentum kemerdekaan semakin memperkuat pesan yang dibawa BEN Carnival. Indonesia dibangun di atas keragaman etnik, adat, bahasa, dan tradisi, tetapi dipersatukan oleh satu tanah air.

“Bangsa kita sangat besar, sangat beragam, dan sangat majemuk, sehingga bisa bersatu menjadi satu kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. BEN Carnival ini menjadi bentuk pembelajaran sekaligus hiburan masyarakat tentang adat istiadat Nusantara,” kata Mas Ibin.

Pesan persatuan itu juga ditarik pada semangat perjuangan para pahlawan. Menurut dia, kemerdekaan yang diwariskan generasi terdahulu harus dijaga dengan memperkuat kesatuan bangsa.

“Indonesia ini harus terus bersatu sebagai tanah air Nusantara. Indonesia harus tetap jaya, bersatu padu. Sudah seharusnya kita sebagai generasi penerus melanjutkan kemerdekaan Indonesia dengan cara bersatu,” tegasnya.

Ibin

Tradisi Dipadukan dengan Sentuhan Futuristik

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Blitar Rike Rochmawati menjelaskan, tema Nusantara Retrofuturism dirancang untuk mempertemukan warisan budaya dengan visi kota masa depan.

Menurut dia, kostum yang ditampilkan tidak sekadar menyalin pakaian adat secara utuh. Kreativitas peserta justru didorong untuk mengolah unsur tradisional dengan bahasa desain yang lebih modern.

“Tema Harmoni Tradisi Menuju Kota Masa Depan ini maksudnya menggabungkan visi kota masa depan dengan kekayaan etnik kostum. Kostum peserta tidak hanya mereplikasi pakaian adat secara statis, tetapi memadukan unsur tradisional dengan sentuhan desain modern atau futuristik,” kata Rike.

Pendekatan itu sejalan dengan pesan Bung Karno tentang berkepribadian dalam kebudayaan. Bagi Pemkot Blitar, kemajuan tidak harus meninggalkan akar tradisi. Sebaliknya, identitas budaya dapat menjadi modal untuk berinovasi dan membangun karakter kota.

Mas Ibin menegaskan, sebagai kota yang mewarisi jejak dan pemikiran Bung Karno, Blitar memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai tersebut.

“Kita boleh melangkah sejauh-jauhnya menuju masa depan, tetapi jati diri dan akar budaya Nusantara harus tetap kita jaga, kita hidupkan, dan kita wariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.

Ben carnival

Event Strategis dan Investasi Budaya

Baca Juga : BEN Carnival 2026 Digelar Malam Hari, 40 Penampilan Bawa Budaya Nusantara ke Kota Blitar

Rike menilai BEN Carnival bukan sekadar agenda hiburan tahunan. Event tersebut mempunyai posisi strategis sebagai investasi kebudayaan jangka panjang, terutama dalam melibatkan generasi muda.

“Event ini harus terus dipertahankan karena ini event strategis. Ini suatu investasi masa depan kita. Kita harus melestarikan budaya dan merangkul generasi muda untuk berpartisipasi melestarikan budaya Nusantara dari Sabang sampai Merauke,” katanya.

Ia berharap BEN Carnival terus menjadi agenda rutin tahunan Kota Blitar. Konsistensi penyelenggaraan dinilai penting agar regenerasi pelaku budaya, seniman, penari, perancang kostum, dan pegiat seni terus berjalan.

Pemindahan waktu pelaksanaan ke malam hari juga menjadi bagian dari evaluasi penyelenggaraan. Menurut Rike, faktor kenyamanan penonton menjadi salah satu pertimbangan.

“Harapannya penontonnya ramai. Kalau siang kan panas, sementara malam lebih sejuk. Masyarakat bisa lebih nyaman menikmati seluruh rangkaian pertunjukan,” ujarnya.

Pemkot juga melakukan perbaikan pada tata ruang penonton. Pagar pembatas dibuat lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya agar masyarakat lebih leluasa melihat peserta yang melintas.

Ben

Kota Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Masyarakat

BEN Carnival juga diarahkan menjadi pengungkit pariwisata dan ekonomi lokal. Kehadiran masyarakat dan wisatawan diharapkan memberikan dampak langsung bagi UMKM, kuliner, perdagangan, transportasi, serta sektor jasa lainnya.

Mas Ibin menargetkan BEN Carnival terus tumbuh menjadi salah satu event budaya unggulan Indonesia.

“Harapannya Kota Blitar identitasnya lebih kuat sebagai kota budaya. Sekaligus menjadi kota yang patut dikunjungi karena hiburannya banyak dan kebudayaannya menunjukkan keberagaman,” katanya.

Di tengah kebijakan efisiensi, Mas Ibin memastikan kegiatan yang melibatkan masyarakat tetap mendapat ruang. Penghematan, menurut dia, lebih diarahkan pada internal pemerintahan.

“Efisiensi itu kami lakukan dalam hal menghemat di internal pemerintahan. Tetapi untuk kegiatan yang melibatkan masyarakat, kami akan memperbanyak. Esensi pemerintah adalah adanya kesatuan antara pemerintah dengan masyarakat,” ujarnya.

Carnival

Dimensi sosial juga hadir dalam BEN Carnival tahun ini. Pemkot Blitar menggalang donasi untuk membantu korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Solidaritas tersebut memperluas pesan acara: kebudayaan bukan hanya tentang pertunjukan, tetapi juga kepedulian antarsesama.

Mas Ibin berharap BEN Carnival terus berkembang, semakin berkualitas, dan mampu mengangkat posisi Kota Blitar dalam peta wisata budaya nasional.

“Kami ingin BEN Carnival terus tumbuh dan naik kelas menjadi salah satu event budaya unggulan Indonesia. Dari Bumi Bung Karno, kita ingin Kota Blitar semakin kuat sebagai kota budaya sekaligus menjadi kota yang layak dikunjungi wisatawan,” pungkas Mas Ibin.

Dari panggung di Bumi Bung Karno, BEN Carnival kelima membawa satu pesan yang jelas: tradisi tidak harus tinggal di masa lalu. Ia dapat diolah menjadi energi kreatif, memperkuat identitas kota, menggerakkan ekonomi, dan menjaga keberagaman tetap hidup dalam satu Indonesia.


Topik

Peristiwa blitar mas ibin ben carnival



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Sidoarjo Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri