JATIMTIMES - Lahan-lahan marginal yang dahulu hanya menyisakan debu musim kemarau, kini tumbuh deretan hijau tembakau varietas unggul Prancak 95. Tak hanya hijau daunnya, tetapi juga harapan para petani di Blitar Selatan yang mulai merasakan manfaat dari skema kemitraan yang berbeda dari biasanya: tanpa tengkulak, tanpa distribusi berlapis, dan dengan jaminan pembeli yang jelas.
Inilah buah dari kolaborasi antara Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar dengan PT Djarum, sebuah kerja sama yang telah memasuki tahun ketiga. Meski belum dituangkan dalam nota kesepahaman formal, pola pendampingan yang diterapkan menunjukkan keseriusan dua pihak dalam membangun kemitraan jangka panjang.
Lukas Supriyatno, kepala Bidang Sarana Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Blitar, menjelaskan bahwa kerja sama ini berawal dari riset yang dilakukan PT Djarum pada 2023. Riset tersebut untuk memastikan kesesuaian tanah di Blitar dengan kebutuhan varietas Prancak 95 yang berasal dari Madura.
“Waktu itu mereka hanya tanam di dua atau tiga hektare saja. Semua dihandle langsung oleh Djarum, dari tenaga kerja hingga teknis budidaya,” ujar Lukas saat ditemui di kantornya, Selasa, 29 Juli 2025.
Hasil riset itu membuktikan bahwa tanah Blitar, terutama yang masuk kategori marginal, cocok untuk tanaman ini. Maka, memasuki tahun kedua dan ketiga, pola penanaman mulai melibatkan petani lokal, tentu dengan pendampingan intensif dari teknisi lapangan PT Djarum yang siaga di Blitar.
“Tujuannya untuk melihat konsistensi hasil di tangan petani,” jelas Lukas. Meski tak sepenuhnya lepas tangan, keterlibatan petani lokal diharapkan mampu menunjukkan bahwa budidaya ini bisa direplikasi lebih luas.
Menurut data terakhir dari Dinas, pada tahun 2025 ini terdapat sekitar 60 hektare lahan yang siap mengikuti pola kemitraan tersebut. Namun, pihak Djarum masih membatasi hanya 25 hektare untuk tahap uji konsistensi. “Kami paham mereka belum ingin ekspansi besar-besaran, masih memastikan pola ini bisa bertahan dan stabil,” kata Lukas.
Meski skema ini belum dituangkan secara legal melalui MoU, kemitraan ini tetap berjalan dengan struktur yang jelas. Salah satu bentuk keseriusannya adalah penempatan petugas lapangan dari Djarum yang secara penuh mendampingi para petani.
“Jadi kalau ada petani yang menanam Prancak 95, mereka tidak sendirian. Ada teknisi dari Djarum yang mengarahkan, memantau, sampai panen,” kata Lukas.
Namun bukan hanya soal budidaya. Skema pemasaran yang ditawarkan dalam kerja sama ini menjadi daya tarik utama. Jika selama ini petani harus menjual hasilnya melalui rantai panjang pengepul dan tengkulak, maka dalam skema ini, tembakau petani yang lolos seleksi kualitas akan langsung dikirim ke gudang pabrik Djarum. Tanpa perantara.
“Dengan model seperti ini, harga bisa lebih optimal dan petani tidak dipermainkan pasar,” ujar Lukas. Ia juga menambahkan bahwa sistem ini membuka ruang bagi petani untuk fokus pada kualitas, bukan sekadar kuantitas.
Baca Juga : Penataan Kawasan Hutan Kota Malabar, Muncul Wacana Pembangunan Parkir Bertingkat
Pola ini juga menjadi semacam revolusi distribusi dalam sektor tembakau lokal. Pemerintah daerah berharap, kemitraan ini tak hanya memperluas areal tanam dan pendapatan petani, tetapi juga menjadi model replicable untuk komoditas lain yang berorientasi pasar langsung.
Lukas optimistis, jika tren hasil panen tahun ini tetap menunjukkan konsistensi kualitas seperti dua tahun sebelumnya, maka tahun depan akan dimulai tahap perluasan dan formalitas kerja sama. “Peminatnya sudah banyak, tinggal menunggu lampu hijau dari Djarum. Kami pun siap memfasilitasi,” ungkapnya.
Sebagai tambahan, Prancak 95 bukan varietas sembarangan. Selain adaptif terhadap lahan marginal, ia juga memiliki nilai ekonomis tinggi karena memenuhi standar mutu industri kretek nasional. Dalam konteks ini, Blitar yang selama ini tak dikenal sebagai sentra tembakau, mulai menunjukkan potensinya.
Langkah ini sejalan dengan visi pembangunan daerah untuk memaksimalkan produktivitas lahan tak tergarap, sekaligus menguatkan kemandirian ekonomi petani. Pemerintah tak hanya hadir sebagai regulator, tetapi juga fasilitator dan jembatan antara petani dan dunia industri.
“Djarum butuh petani. Petani butuh kepastian pasar. Kita hanya perlu memastikan jembatan ini kokoh dan adil,” pungkas Lukas.
Di ujung musim tanam ini, para petani di Blitar Selatan tak lagi menggantungkan harapan pada tengkulak. Mereka kini menanam dengan kepastian dan memanen masa depan yang lebih menjanjikan.
