JATIMTIMES - Teror terhadap warga sipil yang vokal menyuarakan kritik di media sosial kembali terjadi. Kali ini, Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, menjadi sasaran kiriman bangkai ayam yang diduga sebagai bentuk intimidasi.
Adapun bangkai ayam ditemukan tergeletak di teras rumah Iqbal tanpa pembungkus apa pun, pada Selasa (30/12). Pada kaki ayam tersebut terikat plastik berisi secarik kertas dengan ancaman, “JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU.”
Baca Juga : Diminta Lengser Warga Terkait Polemik PTSL, Kades Sumberkradenan Pilih Bungkam ke Media
Iqbal mengaku sempat mendengar suara benturan di area teras rumahnya pada Selasa dini hari. Namun, bangkai ayam itu baru ditemukan oleh anggota keluarganya sekitar pukul 05.30 WIB. Setelah itu, Iqbal memeriksa sekaligus mendokumentasikan kiriman tersebut.
Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, menilai kiriman itu sebagai bentuk teror yang ditujukan pada kerja-kerja advokasi yang dilakukan Iqbal. Ia menyebut, kejadian tersebut tak berdiri sendiri karena pola serupa juga menimpa sejumlah masyarakat sipil lain dalam beberapa waktu terakhir.
“Sulit untuk tak mengaitkan kiriman bangkai ayam ini dengan upaya pembungkaman terhadap orang-orang yang gencar menyampaikan kritik atas situasi Indonesia saat ini. Ada satu kemiripan pola yang kami amati, sehingga kami menilai ini teror yang terjadi sistematis terhadap orang-orang yang belakangan banyak mengkritik pemerintah ihwal penanganan bencana Sumatera,” ujar Leonard dalam keterangan resmi Greenpeace, Rabu (31/12).
Menurut Leonard, dalam beberapa waktu terakhir Iqbal memang aktif mengunggah konten terkait banjir di Sumatera dan mengkritisi respons pemerintah dalam menangani bencana tersebut. Unggahan itu bersumber dari temuan lapangan tim Greenpeace pascabencana, serta hasil analisis organisasi lingkungan tersebut.
Selain teror fisik, Iqbal juga disebut kerap menerima serangan di kolom komentar media sosialnya, hingga pesan langsung bernada ancaman melalui Instagram.
“Kritik publik, termasuk pengkampanye kami, terhadap cara pemerintah menangani banjir Sumatera ini sebenarnya lahir dari keprihatinan dan solidaritas terhadap para korban,” kata Leonard.
Ia menambahkan, bencana banjir di Sumatera tak bisa dilepaskan dari persoalan kerusakan lingkungan yang telah berlangsung lama, mulai dari deforestasi hingga alih fungsi lahan. Menurutnya, kebijakan pemerintah juga turut berkontribusi terhadap kondisi tersebut.
“Belum lagi pemerintahan Prabowo malah akan membuka jutaan hektare lahan di Papua, yang bakal merugikan masyarakat adat dan memperburuk dampak krisis iklim,” lanjut Leonard.

Teror yang diterima disjoki asal Aceh, DJ Donny. (Foto: Instagram)
Baca Juga : Mahasiswa Biologi Unisma Sabet Gold Medal I2ASPO, Sulap Limbah Perikanan Jadi Energi Surya Efisien
Teror serupa juga dialami sejumlah figur publik dan kreator konten. Melalui media sosial, disjoki asal Aceh, DJ Donny, mengungkap bahwa dirinya turut menerima kiriman bangkai ayam.
Sementara itu, pemengaruh sekaligus kreator konten yang belakangan vokal terhadap bencana banjir di Aceh dan Sumatera, Sherly Annavita juga melaporkan adanya aksi vandalisme terhadap mobil pribadinya. Ia juga menerima kiriman sekantung telur busuk ke tempat tinggalnya.
"Sherly, jangan kau manfaatkan bencana di Aceh untuk mencari popularitas murahan dan untuk menambah cuan buat pribadi jangan kamu menggiring opini sesat," demikian isi ancaman pada secarik kertas yang diterima sherly, lengkap dengan kertas lainnya berisi dokumen KTP keluarganya.

Teror yang diterima konten kreator Sherly. (Foto: Instagram)
Greenpeace Indonesia mengecam keras segala bentuk teror terhadap masyarakat sipil, baik yang menyasar aktivis, jurnalis, maupun pegiat media sosial. Leonard menegaskan, kritik publik seharusnya dipandang sebagai bagian dari demokrasi, bukan ancaman.
“Kebebasan berbicara adalah hak yang dijamin konstitusi. Upaya teror tidak akan membuat kami gentar. Greenpeace akan terus bersuara untuk keadilan iklim, HAM, dan demokrasi,” pungkas Leonard.
